Ikutilah Sunnah, Jangan Membuat Bid’ah


Oleh Imam Abu Faraj Abdurrahmah bin Al-JauziAku lihat banyak orang yang beramal tidak berdasarkan dalil, tetapi hanya sekedar sesuai dengan apa yang dijumpainya dan bisa jadi yang menjadi dalil mereka adalah tradisi. Dan ini adalah hal yang paling buruk.

Makna yang serupa dengan ini adalah orang-orang yang tekun beribadah, zuhud, dan membuat badan-badan mereka lelah dalam rangka mengamalkan hadist-hadist yang batil. Mereka tidak bertanya kepada orang yang memiliki ilmu tentang hal tersebut.

Di antara manusia ada pula orang yang menegakkan dalil, tetapi tidak bisa memahami maksud yang ditunjukkan oleh dalil tersebut. Contoh, orang yang seperti adalah orang-orang yang mendengar tentang tercelanya dunia, lalu mereka berlaku zuhud, namun mereka tidak memahami maksudnya.

Mereka menyangka bahwa dunia itu adalah dicela karena eksistensi dunia itu sendiri, dan bahwa jiwa itu sendiri juga wajib dimusuhi. Lalu mereka memaksakan diri melebihi hal yang tidak mampu mereka tanggung. Mereka menyiksa diri mereka dengan berbagai macam siksa, dan menghalangi diri mereka dari hak-haknya. Mereka tidak mengetahui sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam:

“Sesungguhnya dirimu memiliki hak atasmu (yang harus kamu perhatikan),” (HR Bukhari, No. 1968).

Ada lagi di antara mereka yang keadaan menyebabkan mereka meninggalkan hal-hal yang wajib, membuat mereka kurus kering, dan lemah kekuatan. Ini dikarenakan lemahnya pemahaman terhadap maksud yang sebenarnya dari itu semua.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Dawud ath-Tha’i, bahwa dia meletakkan air di dalam suat bejana di bawah tanah, lalu dia minum darinya padahal airnya sangatlah panas! Dia berkata kepada Sufyan, “Bila engkau makan makanan yang lezat dan enak, serta minum air yang dingin dan didinginkan, lalu kapan engkau akan mencintai kematian dan datang menghadap Allah?”

Hal tersebut di atas merupakan kebodohan terhadap maksud yang ditunjukkan, karena minum air yang panas itu akan menyebabkan berbagai penyakit di dalam tubuh. Rasa dahaga pun tidak menjadi hilang karenanya. Dan kita tidak diperintahkan untuk menyiksa diri kita dengan cara seperti ini, akan tetapi dengan cara meninggalkan apa-apa yang diinginkan nafsu dari sesuatu yang dilarang oleh Allah.

Dalam hadist shahih (yang diriwayatkan oleh Bukhari, No. 2439 dan Muslim, No. 2009), disebutkan bahwa ketika Abu Bakar diperahkan susu oleh penggembala saat melakukan perjalanan untuk hijrah, beliau menuangkan air di atas wadah hingga bagian bawahnya menjadi dingin. Kemudian baru beliau memberikannya untuk minum kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Begitu juga beliau menggelar hamparan untuk Rasulullah di bahwa naungan batu besar dan pernah diupayakan air tawar (dari mata air Bait Suqya) untuk Rasulullah, (HR Abu Dawud, No. 3735).

Kalau Dawud (ath-Tha’i) memahami bahwa membaguskan pakan unta itu harus dilakukan untuk memotong jarak perjalanan (mempercepat waktu perjalanan), niscaya dia tidak akan melakukan hal tersebut.

Tidakkan engkau melihat Sufyan at-Tsauri, beliau adalah orang yang sangat ahli dalam pengetahuan dan rasa takutnya kepadaNya. Meski demikian, dia juga makan makanan yang enak. Dia berkata, “Tunggangan itu bila tidak dipenuhi kebutuhannya dengan baik, dia tidak bisa bekerja (dengan baik).”

Mungkin saja prang yang mendengar ucapanku ini akan berkata, “Ini merupakan satu sikap sentimen terhadap kaum yang zuhud.”

Maka akan aku jawab, “Jadilah bersama ulama. Lihatlah jalan yang ditempuh oleh al-Hasan, Sufyan, Abu Hanifah, Ahmad, dan asy-Syafi’i. Mereka adalah tiang-tiang pokok di dalam Islam. Janganlah engkau taklid buta kepada orang yang sedikit ilmunya, meskipun kezuhudannya begitu kuat.

Artikan perkara ahli zuhud ini dalam pengertian, “Dia kuat menanggungnya” dan janganlah engkau tiru mereka dalam hal yang tidak mampu engkau jalani karena urusan kita ini tidak diserahkan kepada kita, sedang jiwa ini adalah titipan yang ada pada kita.

Bila engkau mengingkari apa yang aku jelaskan ini, maka engkau masuk ke dalam kategori orang-orang yang aku ingkari. Ini merupakan simbol dari maksud yang dituju, sedangkan penjelasannya begitu panjang.”

Al-Jauzi, Abul Faraj Abdurrahman. 2010. Mukhtasar Shaidul Khatir. Penerjemah: Muhammad Ruliyandi. Lc. Jakarta: Darul Haq. Hal. 113-116.