Sisi Negatif Dunia 4: Dunia itu Menipu


Oleh Ziyad Abu Irsyad
Dunia dan segala macamnya memang jika dilihat secara kasat mata seakan begitu enak dinikmati. Memiliki rumah megah dengan segala fasilitasnya, seperti AC, kolam renang pribadi, pembantu, taman dan semua perabotan mewah dan canggih, memiliki mobil mewah dan mahal, yang spionnya saja bisa berharga jutaan, istri cantik jelita, dan banyak hal lainnya, bisa jadi merupakan tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan bagi sebagian kita.

Namun yang perlu kita ketahui, semua hal duniawi adalah tipuan belaka, yang menikmati hanyalah fisik dan raganya, tidak dengan jiwa dan hatinya. Ya, orang Jawa menyebutnya “wang sinawang atau saling memandang satu sama lain.

Seorang direktur dari dalam mobilnya melihat tukang becak yang sedang terlelap tidur di atas becaknya, di tengah-tengah keramaian lalu lintas yang bising tanpa merasa terganggu seakan meledek dirinya yang sekedar untuk tidur sejenak di mobilnya yang ber-AC saja begitu sulit karena memikirkan hutang perusahaan atau menghadapi berbagai saingan dan lain sebagainya.

Begitu juga suatu saat seorang tukang becak yang sedang menanti pelanggang melihat ke sebuah mobil di mana seorang direktur sedang duduk menikmati AC mobil tanpa berkeringat dan kebisingan. Padahal, kedua tokoh di atas sama-sama merasakan iri terhadap satu dengan yang lainnya. Keduanya sama-sama melihat orang lain tengah hidup begitu nikmat, meski yang berbeda adalah penilaiannya.

Jadi, dunia itu sebenarnya menipu, nampak begitu hijau menyegarkan dan enak untuk dinikmat, persis seperti sebuah hadits;

عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الدنيا حلوة خضرة وإن الله مستخلفكم فيها فينظر كيف تعملون فاتقوا الدنيا واتقوا النساء فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت
في النساء  (314)رواه مسلم.

Dari Abu Said al khudri dari Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam, ia berkata, Sesungguhnya dunia itu hijau dan manis dan sesungguhnya Allah menghamparkannya untuk kalian lalu melihat apa yang kalian kerjakan, maka takutlah kalian dengan dunia dan takutlah kalian dengan wanita, sesungguhnya awal fitnah pada bani israil adalah tentang wanita," (HR. Muslim).

Di dalam hadits ini, dunia digambarkan seakan manis dan hijau. Lalu beliau Shallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita untuk berhati-hati dan takut terhadap fitnah dunia dan disebutnya fitnah wanita karena wanita juga termasuk ke dalam nikmat dunia karena besarnya fitnah wanita bagi laki-laki.

Takutlah kita akan tipu daya dunia, karena ia akan menyeret kita dan memperdaya kita ke dalam kubangan nafsu syahwat terhadapnya, wanita, harta, tahta, anak-anak, status sosial dan lain sebagainya. Allah berfirman:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga),” (QS Ali Imran: 14).

Dunia dijadikan indah bagi manusia agar manusia tertarik dengannya, agar kita terlena dan tertipu dengan kemilauannya, padahal semua itu hanyalah kenikmatan yang sifatnya hanya sementara belaka. Mengapa dunia menipu kita?

Karena nikmat dunia itu begitu fana, merrusak dan tak abadi, anak akan menjadi dewasa dan kadang menjadi pembangkang, istri yang cantik akan mengeriput dan tua renta, badan yang sehat akan lemah tak berdaya, harta akan hilang meski belum sempat untuk dinikmati, mobil, rumah dan lain sebagainya sebagus dan seindah apapun itu, sudah pasti akan rusak dan menjadi peninggalan. Semua yang ada di dunia ini akan fana atau rusak.

Karena juga nikmat dunia ini kita mendapatkannya dengan susah payah, kerja keras tanpa henti menguras tenaga dan pikiran kita, lalu menjaganya pun dengan susah payah, khawatir dirampok, hilang, dimintai orang, rusak dan lain sebagainya, namun belum tentu kita menikmatinya justru semakin banyak harta semakin kita lelah menjaganya.

Karena juga nikmat dunia menjadikan kita lupa dengan nikmat akhirat, menjadikan kita berbuat maksiat dan menjauhi taat, dan inilah sebenar-benar orang yang tertipu.

Dan karena juga nikmat dunia itu bersifat sementara, sedikit dan hina. Janganlah kita, janganlah dunia ini menipu kita dari tujuan akhirat. Mahabenar Allah yang berfirman;

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan,” (QS. Ali Imran; 185).

Memperdaya diri kita dari mencintai akhirat, memperdaya diri kita dari menjalankan ketaatan, memperdaya diri kita agar lupa dengan kampung akhirat, memperdaya diri kita seakan kita akan hidup selamanya, memperdaya diri kita sehingga kita berani berbuat maksiat dan hal-hal yang diharamkan. Waspadalah... waspadalah....