Hinanya Dunia, Akan Jadi Mulia Jika Kita....

Oleh Ziyad Abu Irsyad
Seperti namanya dunia itu rendah. Dalam kamus bahasa Arab, "dunia" diambil dari kata danaa - yadnuu yang berarti qaruba, dekat atau dani-u yang berarti rendah.
Memang dunia itu pada hakekatnya bernilai rendah, itu fakta yang sebenarnya dimana banyak manusia atau umat Islam khususnya yang tidak mengetahui dan menyadarinya. Sehingga, mereka salah dalam menilai dunia itu sendiri, karena salah menilai itulah menyebabkan mereka juga salah memilih. Maka mari kita kenali hakekat dunia sehingga kita akan mudah dan benar dalam menentukan pilihan dalam hidup ini.
Yang harus kita tahu adalah seperti namanya, dunia itu rendah dan hina nilai, maka ia disebut dunia. Begitu rendahnya nilai dunia sampai-sampai Rasulullah mengibaratkannya lebih rendah daripada bangkai anak kambing yang cacat.
Jabir bin Abdillah berkisah, “Rasulullah melewati pasar sementara orang-orang ada di sekitar beliau. Beliau melintasi bangkai seekor anak kambing yang kecil atau terputus telinganya (cacat). Beliau memegang telinga bangkai tersebut seraya berkata:
“Siapa di antara kalian yang suka memiliki anak kambing ini dengan membayar seharga satu dirham?”
Mereka menjawab, “Kami tidak ingin memilikinya dengan harga semurah apapun. Apa yang dapat kami perbuat dengan bangkai ini?”

Rasulullah kemudian berkata, “Apakah kalian suka bangkai anak kambing ini menjadi milik kalian?”

“Demi Allah, seandainya pun anak kambing ini masih hidup, tetaplah ada cacat, kecil/terputus telinganya. Apatah lagi ia telah menjadi seonggok bangkai,” jawab mereka.

Beliau pun bersabda setelahnya, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada hinanya bangkai ini bagi kalian
.” (HR. Muslim No. 7344)

Saudaraku sekalian, mari kita lihat sama-sama, biasanya para sahabat bila ditawari sesuatu oleh Rasulullah mereka akan berebut ingin mendapatkannya namun kali ini mereka tidak mau. Jangankan membeli, diberi cuma-cuma saja mereka tidak mau, bahkan jika kambing itu hidup sekalipun tidak akan memberi manfaat. Dan perlu diingat bahwa satu dirham saat itu adalah mata uang paling rendah nilainya.

Itulah nilai dunia, lebih rendah (bukan sama nilainya) dari bangkai anak kambing yang cacat, sudah kecil, cacat nadi bangkai lagi. Mungkin jika dunia berbau, maka baunya seperti bangkai.
Begitu pula Rasulullah, beliau mengibaratkan dunia nilainya tidak melebihi, perhatikanlah bukan sama tapi tidak melebihi, sayap ekor nyamuk.

Rasulullah pernah bersabda:
Seandainya dunia punya nilai di sisi Allah walau hanya menyamai nilai sebelah sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum kepada orang kafir seteguk airpun," (HR. At-Tirmidzi No. 2320, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah No. 686)

Artinya, jika dunia ada nilainya, sudah pasti orang kafir tidak akan diberi sedikitpun dari dunia. Lalu mengapa dunia ini diberikan dan dilimpahkan kebanyakannya kepada orang-orang kafir? Itu menunjukkan bahwa dunia tiada nilainya sama sekali.

Maka merugilah orang yang tertipu dengan dunia, salah menilai dunia, dengan menganggap jika mendapatkan dunia maka itu adalah suatu prestasi dan kemuliaan. Akan tetapi kebanyakan manusia lebih memilih dunia daripada akherat. Allah berfirman:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (QS. 87: 16-17)

Janganlah kita, sebagaimana orang-orang kafir, lebih memilih kehinaan dunia dan membuang atau mengesampingkan kekekalan akherat. Bodohlah orang yang lebih memilih nilai yang rendah daripada akherat yang lebih baik dalam segala sisinya.

Janganlah kita ikut berlomba-lomba memperebutkan bangkai dan melupakan mutiara akherat, menghabiskan energi hanya untuk sekedar mendapatkan yang hina dan mengesampingkan yang kekal.

Namun demikian, bukan berarti kita tidak bekerja dan mencari dunia, seperti orang-orang sufi, para pertapa dan pastor yang menjauhkan segala bentuk dunia, sehingga ia tidak menikah, tidak makan, tidur dan bekerja.

Dunia yang rendah dan hina ini akan menjadi mulia dan baik jika digunakan dalam rangka beribadah dan mengingat Allah, dalam rangka mencari kemuliaan akherat dengan mengeluarkannya untuk ketaatan dan sedekah. Sebagai sarana untuk menggapai kebahagiaan akherat.
Dan letakkanlah dunia berada di tanganmu bukan di hatimu. Mengapa demikian? Karena kenikmatan akherat lebih baik dan kekal.