Belajar dari Pembuat Batu Bata




Oleh Irfan Nugroho
Mendidik anak tidak ubahnya membuat sebuah batu bata.

Dari kubangan tanah liat basah yang diaduk hingga kenyal kemudian dicetak menjadi sebuah balok sempurna lalu dikeringkan dan dibakar hingga memerah dan keras untuk kemudian dijadikan sebagai bahan bangunan yang kokoh.

Sebongkah tanah liat basah, bisa dibentuk menjadi apapun yang diinginkan, tergantung ketrampilan sang pengolah tanah tadi.

Sama halnya dengan seorang anak yang masih dalam tahap ‘tanah liat basah,’ maka orang tua anak tersebut tidak akan kesulitan mengajarkan anaknya tentang berbagai hal yang dikehendaki.

Hanya saja, apa yang harus kita ajarkan pada anak haruslah didasarkan pada hal-hal yang mengandung kebaikan.

Dalam hal ini patokan kebenaran adalah apa saja yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala melalui Al-Quran dan As-Sunnah.

"Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu" (Al-Baqarah: 147)

Kenapa musti hal-hal yang mengandung nilai-nilai kebaikan?

Bukankah cetakan batu bata yang baik itu adalah berbentuk persegi panjang siku-siku sehingga batu bata tersebut dapat dipasang pada tembok yang rata dan kokoh?

Pernahkah anda melihat batu bata untuk bahan bangunan yang berbentuk seperti durian atau bentuk-bentuk lain yang sangat tidak mungkin untuk dipasang menjadi dinding rumah yang kokoh dan rata?

Mungkin hal tersebut belum pernah kita saksikan, namun saat ini, kita bisa melihat banyak “dinding keluarga” yang terbuat dari batu bata yang tidak sempurna bentuknya...

Maksudnya???

Pernahkah anda melihat orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga secara tidak sadar telah membiarkan ‘tanah liat basah’ (anak-anak mereka) ndongkrok tak terurus.

Bukankah kita juga sering melihat orang tua yang tidak bisa membentuk ‘tanah liat basah’ tersebut sesuai dengan cetakan ‘batu bata’ yang benar, yang berbentuk persegi siku-siku?

Kemudian, bukankah anda juga terlalu sering mendengar orang tua yang ‘kecewa’ dengan anak-anak mereka yang tidak bisa diharapkan untuk membawa kebaikan bagi orang tuanya?

Bukankah kita juga terlalu sering mendengar orang tua yang mengeluh dengan kondisi anak-anak mereka yang acuh dan enggan mengurus orang tuanya yang mulai renta?

Kenapa bisa seperti ini...?
KETIDAKMAUAN dari beberapa orang tua untuk mencetak ‘tanah liat basah’ tersebut menggunakan cetakan batu bata yang standard adalah salah satu sebab adanya ‘batu bata’ tidak sesuai bentuknya.

Memang, tidak bisa dipungkiri ada beberapa orang tua yang tidak mau mendidik anak-anaknya secara benar (baca: secara Islami) dengan berbagai alasan yang cenderung sangat sepele dan tidak logis.

Sebab yang lain adalah KETIDAKTAHUAN dari beberapa orang tua mengenai bagaimana bentuk ‘cetakan batu bata’ yang benar sehingga tidak jarang kita lihat orang tua tidak tahu bagaimana mendidik anak-anak mereka dengan benar (baca: Islami).

Ingat, batu bata tidak bisa dibuat menjadi tanah liat lagi!
Kini hanya penyesalan yang mendalam lantaran ‘batu bata yang gagal’ tersebut tidak mungkin bisa dibuat menjadi tanah liat lagi.

Juga penyesalan bahwa ‘batu bata yang tidak berbentuk sempurna’ tadi tidak mungkin bisa dicetak kembali dengan cetakan batu bata yang benar, yang berbentuk persegi siku-siku.

Bukankah batu bata yang sudah keras tadi hanya bisa dipotong paksa, atau digorok, atau diamplas agar ia bisa dimasukkan ke dalam dinding-dinding keluarga sehingga terwujud dinding yang rata dan kokoh?

Maka...,

Selagi tanah liat masih basah, bentuklah dengan cetakan yang benar.

Selagi anak masih dini, didiklah dengan kebaikan.

"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

1 komentar:

  1. Terimakasih atas artikel anda yang menarik dan bermanfaat.
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis yang bisa anda kunjungi di
    Explore Indonesia

    ReplyDelete