Istrinya Menikah dengan Nonmuslim padahal belum Cerai

 


Pertanyaan: Salah seorang teman saya melakukan dosa yang besar. Dia menikah dengan seorang laki-laki nonmuslim secara diam-diam dengan adat-istiadat setempat, tanpa bercerai dahulu dari suaminya yang muslim. Menurut saya, pernikahan itu tidak sah. Tetapi teman saya memaafkannya dan mempertahankan pernikahan tersebut. Meski demikian, baru-baru ini keduanya mengalami pertengkaran dan sang laki-laki berkata kepada istrinya tadi, “Kamu telah menikah dengan bla bla bla..” atau “Kamu menikah dengannya..” Jika teman saya mengatakan hal ini tanpa bermaksud menceraikannya, apakah terjadi cerai dalam hal ini?


Jawaban oleh Tim Fatwa Asy-Syabakah Al-Islamiyah, Diketuai oleh Syaikh Abdullah Al-Faqih Hafizahullah

Segala puji hanya bagi Allah, Rab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Ilah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Jika situasinya seperti yang Anda sebutkan, maka istri teman Anda itu telah melakukan dosa besar karena dua hal:

Pertama, karena dia masih bersuami. Wanita yang masih bersuami tidak boleh menikah dengan laki-laki lain sampai suaminya menceraikannya dan si wanita harus menyelesaikan dulu masa idahnya. Allah ta’ala berfirman:

وَٱلْمُحْصَنَٰتُ مِنَ ٱلنِّسَآءِ

“Dan diharamkan juga atas kalian menikahi wanita-wanita bersuami,” (QS An-Nisa: 24).

Kedua, karena dia menikah dengan laki-laki nonmuslim. Tidak boleh bagi seorang wanita muslim untuk menikah dengan laki-laki nonmuslim. Ini adalah kesepakatan di antara para ulama. Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تُنكِحُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ حَتَّىٰ يُؤْمِنُوا۟

“Janganlah kalian menikahkan wanita-wanita muslimah (baik yang merdeka maupun hamba sahaya) dengan para laki-laki musrik, sehingga mereka mau beriman kepada Allah dan rasulNya,” (QS Al-Baqarah: 221).

Semua pertimbangan di atas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa pernikahannya tidak sah, dan sang wanita tadi wajib untuk berpisah dari lelaki nonmuslim tadi.

Tidak mengapa bagi suami wanita tersebut untuk mempertahankan pernikahannya jika sang wanita sudah bertaubat dari dosanya dan kembali kepada ketaatan terhadap Allah. Kalau tidak mau taubat, maka sudah tidak ada lagi kebaikan bagi sang suami untuk mempertahankan wanita seperti itu sebagai istrinya.

Juga harus dicatat bahwa teman Anda tadi harus memastikan bahwa wanita itu tidak sedang dalam kondisi hamil.

Bagaimana caranya? Yaitu dengan mengamati tiga kali masa menstruasi. Menurut beberapa ulama, mengamati satu siklus menstruasi sudah cukup.

Mengamati maksudnya bagaimana? Maksudnya adalah tidak mengadakan hubungan badan dengan istrinya tadi selama 3 masa haid atau 1 masa haid.

Juga, perceraian tidak jatuh dengan ucapan-ucapan seperti di atas.

Fatwa No: 447820

Tanggal: 26 September 2021 (19 Safar 1443)

Sumber: Asy-Syabakah Al-Islamiyah

Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel