Hadits Doa Keluar WC dan Kamar Mandi | Matan, Takhrij, dan Hikmah

 

Matan Hadis

Dari ibunda Aisyah radhiyallahu anha yang berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ مِنْ الْخَلَاءِ قَالَ غُفْرَانَكَ

Nabi apabila keluar dari kamar mandi beliau mengatakan, “Gufranaka (AmpunanMu).”

Takhrij Hadis

Hadis ini dikeluarkan oleh Imam At-Tirmizi di dalam Sunan At-Tirmizi nomor tujuh.

Status Hadis

Imam At-Tirmizi menyebut bahwa hadis ini Hasan Garib. Syaikh Nasiruddin Al-Albani menyebut hadis ini hadis Sahih, pun demikian dengan Abu Thahir Zubair Ali Zai, Abu Hatim, Al-Hakim, Ar-Razi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ibnu Al-Jarud, An-Nawawi, dan Adz-Dzahabi.

Judul Hadis

Imam At-Tirmizi memberi judul hadis ini, “Doa keluar WC.” Syaikh Wahid Abdussalam Bali memasukkan hadis ini ke dalam bab Adab Buang Hajat, dengan sub-judul, “Berzikir ketika keluar dari kamar mandi.”

Hikmah Hadis

1. Ada yang mengatakan bahwa permohonan ampun Rasulullah disebabkan karena beliau tidak mengucapkan bacaan zikir kepada Allah selama buang air. Beliau memiliki kebiasaan selalu mengingat Allah dalam setiap saat. Nah, meninggalkan zikir ketika buang hajat – bagi Rasulullah - adalah suatu kelalaian, dan beliau menganggal bahwa hal itu adalah dosa bagi beliau sendiri. Jadi, beliau menutupinya dengan segera beristigfar, (Subulus Salam).

2. Imam Ash-Shan’ani rahimahullah mengatakan bahwa “Gufranaka” (yang secara bahasa artinya, ‘AmpunanMU’) artinya permohonan taubat atas kelalaian mensyukuri nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Allah telah memberinya makanan, menguatkan pencernaan, kemudian memudahkan keluarnya kotoran dari perutnya. Menurut beliau, rasa syukurnya masih kurang jika dibandingkan dengan nikmat yang diperoleh. Maka beliau menyelesaikannya dengan memohon ampunan dariNya, (Subulus Salam).

3. Redaksi doa lain ketika keluar dari kamar mandi atau WC adalah:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَى وَعَافَانِي

“Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dariku penyakit dan yang telah menjaga kesehatanku,” (Sunan Ibnu Majah: 301. Al-Albani: Daif).

Imam Ash-Shan’ani berkata, “Yang demikian adalah bagian dari cara bersyukur beliau.”

4. Tidak mengapa mengucapkan semua riwayat doa di atas, sebagai bukti syukur terhadap nikmat Allah. Dalam masalah seperti ini, tidak disyaratkan suatu hadis harus sahih, (Subulus Salam).

5. Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata, “Kaitannya dengan buang hajat, terdapat doa-doa lain yang marfu (berasal dari Rasulullah ). Hanya saja, sanadnya lemah. Abu Hatim mengatakan hadis ini adalah hadis yang paling sahih dalam masalah ini.

6. Pelajaran lain dari hadis ini, menurut Dr. Khalid Al-Juhani:

- Disukainya mengucapkan Gufranaka setelah buang hajat

- Bersemangatnya para sahabat – semoga Allah meridhai mereka – dalam mengutip semua perkataan dan perbuatan Nabi. Ini menujukkan betapa besar cinta mereka kepada beliau

- Tidak boleh meminta ampunan kecuali dari Allah.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel