Syariat Islam tentang Menyikapi Tersebarnya Wabah


Oleh Irfan Nugroho
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah
Allah menciptakan manusia dan alam semesta, lengkap dengan panduan atau pedoman bagi manusia untuk menjalani kehidupan. Panduan atau pedoman inilah yang kemudian dinamakan syariat.

Tujuan dari syariat Islam (maqashidu syariah) adalah agar manusia bisa memeroleh kemaslahatan atau kebaikan, dan agar manusia terhindar dari madarat atau bahaya.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. [Al- Anbiya :107]

Menjelaskan ayat ini, Rasulullah bersabda:

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ

“Sesungguhnnya tiada seorang nabi sebelumku, melainkan ia wajib menunjuki umatnya kepada kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui untuk mereka”. [HR Muslim]

Ketika Allah mengharamkan narkoba, sabu-sabu, minuman keras, atau yang sejenisnya, juga ketika Allah mengharamkan perjudian, bangkai, daging babi, daging kelelawar, itu semua sebenarnya juga untuk kebaikan manusia karena di dalamnya terdapat keburukan.

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
“(lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka)” (Thaha/20 ayat 123).

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.
Jika manusia enggan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh Allah, bahkan justru melakukan apa-apa yang haramkan oleh syariat ini, dari sanalah kerusakan timbul, bukan semata untuk diri si pelaku sendiri, bahkan untuk orang-orang di sekitarnya.

Seperti terjadinya wabah corona, ia muncul akibat ulah segelintir manusia di kawasan Wuhan Cina yang mulai memakan daging kelelawar, yang di dalam daging kelelawar inilah aslinya virus corona itu tinggal dan hidup.

Dari segelintir orang yang menjalani hidup tanpa bimbingan Islam ini, maka hanya dalam beberapa bulan saja, virus corona telah merenggut 4,720 (per 13 Maret 2020). Data dari Johns Hopkins CSSE.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.
Jika orang Islam mau menjalani syariat Islam. Apa yang dilarang oleh syariat dia jauhi, dan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya dia jalani, maka kerusakan tidak akan terjadi. Tentang menghentikan penyebaran virus corona, Rasulullah memberi petunjuk dengan sabdanya:

(إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا). رواه البخاري ومسلم
“Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut,” (Sahih Bukhari: 5729)

Lalu, Rasulullah juga mengajari kita untuk senantiasa menjalani perilaku hidup bersih dan sehat, di antaranya dengan sabdanya:

(غَطُّوا الْإِنَاءَ وَأَوْكُوا السِّقَاءَ
Tutuplah wadah makanan kalian (panci, wajan, baskom, mangkok, dll), dan wadah minuman kalian (galon, cerek, tandon air, dll)
فَإِنَّ فِي السَّنَةِ لَيْلَةً يَنْزِلُ فِيهَا وَبَاءٌ
karena dalam satu tahun, ada suatu malam yang di malam itu akan tersebarlah suatu wabah
لَا يَمُرُّ بِإِنَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ غِطَاءٌ أَوْ سِقَاءٍ لَيْسَ عَلَيْهِ وِكَاءٌ
yang akan melewati wadah makanan atau minuman yang tidak ditutupi
إِلَّا نَزَلَ فِيهِ مِنْ ذَلِكَ الْوَبَاءِ). رواه مسلم
maka wabah itu akan jatuh ke dalamnya wadah makanan atau tempat minum yang tidak ditutupi tadi, (Sahih Muslim).

Yang ketiga, di antara perilaku hidup sehat yang diajarkan oleh Rasulullah , yang berguna untuk mencegah penyebaran virus corona adalah mengamalkan adab atau tata krama ketika bersih:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَطَسَ وَضَعَ يَدَهُ أَوْ ثَوْبَهُ عَلَى فِيهِ
Rasulullah , jika beliau bersin, beliau senantiasa meletakkan tangan atau bagian dari bajunya pada mulut beliau, (Sunan Abu Dawud).

Dan yang terakhir, upaya mencegah penyebaran virus corona menurut syariat Islam adalah mencuci tangan ketika hendak makan.
📌 عن عائشة رضي الله عنها قالت: كان رسول الله إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَشْرَبَ غَسَلَ يَدَيْهِ ثُمَّ يَأْكُلُ أَوْ يَشْرَبُ. رواه النسائي
Dari Ibunda Aisyah radhiyallahuanha beliau berkata, “Rasulullah , jika beliau hendak makan atau minum, beliau mencuci kedua tangannya, kemudian setelah itu barulah beliau makan atau minum,” (Sunan An-Nasai).

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah, mari bertakwa kepada Allah . Kalau Allah melarang kita dari sesuatu, ya sudah mari kita nurut saja, tidak perlu mencari-cari alasan untuk melanggarnya. Karena kerusakan yang timbul di muka bumi adalah disebabkan karena dosa yang kita perbuat.

Setelah menempuh ikhtiar untuk menghindarkan diri dari berbagai wabah penyakit, doa adalah jalan yang tak akalah penting. Karena,

اَلدُّعَاءُ مِنْ أَنْفَعِ الْأَدْوِيَةِ
 “Doa adalah obat penyembuh yang paling manjur.”

Demikian pernyataan Ibnu Qayim al-Jauziyah dalam kitabnya Ad-Da’ wa ad-Dawa’ (h.11). Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah agar kita terhindar dari segala penyakit yang berbahaya adalah:

 (اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئْ الْأَسْقَامِ). رواه أبو داود

Ya Allah, hamba berlindung dari sakit kusta, sakit gila, sakit lepra, dan penyakit mengerikan lainnya, (Sunan Abu Dawud).
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغفر للمسلمين و المسلمات و المؤمين و المؤمنات الأحياء منهم و الأموات.
اللهم أعز الإسلام و المسلمين و أهلك الكفرة و المشركين و دمر أعداءك أعداء الدين
اللهم أصلح لنا ديننا الذي هو عصمة أمرنا، و أصلح لنا دنيانا التي فيها معاشنا و أصلح لنا آخرتنا التي إليها معادنا و اجعل اللهم حياتنا زيادة لنا في كل خير و اجعل الموت راحة لنا من كل شر
اللهم أعنا على ذكرك و شكرك و حسن عبادتك
اللهم إنا نسألك الهدى و التقى و العفاف و الغنى و حسن الخاتمة
اللهم اغفر لنا و اوالدينا و ارحمهم كما ربونا صغارا
ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين و احعلنا للمتقين إماما
ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا و هب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب
ربنا آتنا في الدنيا حسنة و في الآخرة حسنة و قنا عذاب النار
وَصَلَّ اللَّهُمَّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصْحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ

0 komentar:

Post a Comment