Khutbah Jumat: Islam Agama Rahmatan Lil Alamin


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ
Segala puji bagi Allah

نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
Hanya kepadanya kita memuji, meminta pertolong, serta bertaubat dari dosa-dosa kita

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa dan amalan buruk kita.

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ
Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada akan pernah sesat selamanya

وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
Dan barang siapa yang dibuat sesat oleh Allah, niscaya tidak akan mendapat petunjuk selamanya

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah


اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَكُونُواْ مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ ١١٩
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar,” (QS At-Taubah: 119)

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah…
Islam disebut sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa rahmat bagi semesta alam, agama yang damai, agama yang indah, salah satunya karena Islam melarang segala macam kemungkaran, kezaliman, kejahatan, atau penindasan, serta menyuruh umat Islam untuk mengubah kemungkaran, kezaliman, kejahatan, atau penindasan yang terjadi di muka bumi.

Indahnya agama Islam, Islam yang menjadi agama pembawa rahmat bagi semesta alam karena Allah ta’ala melarang manusia dari berbuat kerusakan di muka bumi, baik terhadap lingkungan, apalagi kepada sesama manusia:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya, (QS Al-A’raf: 56).

Islam menjadi agama yang indah, agama yang damai, karena Allah ta’ala melarang kezaliman, melarang kejahatan, melarang penindasan, dengan menyebutkan kebencian-Nya terhadap orang yang berbuat zalim:

وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Dan Allah tidak menyukai orang zalim.” (QS Ali Imran 57, 140 dan QS Asy-Syura 40)

Di ayat lain Allah berfirman:

أَلاَ لَعْنَةُ اللّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang yang zalim.” (QS Huud 18).

Jika Islam adalah agama terbaik, agama perdamaian yang membawa rahmat kepada semesta alam, kepada manusia, kepada lingkungan, maka wajar umat Islam diberi predikat sebagai umat terbaik, jika mereka mengajak kepada Islam, menyuruh manusia berbuat baik, dan mencegah kemungkaran.

Allah ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah...
Kedamaian hanya terwujud jika kezaliman sirna dari muka bumi.

Kedamaian terwujud jika kejahatan musnah dari atas bumi.

Kedamaian terwujud jika tidak ada penindasan sesama manusia.

Rahmat terwujud jika tidak ada manusia yang berbuat kerusakan terhadap lingkungan dan sesama manusia.

Maka wajar jika agama Islam yang damai, rahmat, dan penuh kasih sayang kepada seluruh alam ini menyuruh pemeluknya untuk senantiasa menghilangkan kemungkaran, memberantas kejahatan dan berbagai macam penjajahan di atas dunia.

Rasulullah bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan lisannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah,” (HR. Muslim).

Jadi, ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah...

Memberantas kemungkaran, kejahatan, penindasan atau kezaliman dengan tangan hendaknya dilakukan oleh para penguasa, instansi-instansi yang khusus bertugas menangani masalah ini, orang-orang yang mengharapkan pahala melalui jalur ini, pemimpin yang mempunyai kewenangan dalam hal ini, hakim yang mempunyai tugas ini, setiap orang di rumahnya dan terhadap anak-anaknya serta keluarganya sendiri sejauh kemampuan.

Adapun yang tidak mampu melakukannya, atau jika merubahnya dengan tangannya bisa menimbulkan petaka dan perlawanan terhadapnya, maka hendaknya ia tidak merubahnya dengan tangan, tapi mengusahakan dengan lisannya. Ini cukup baginya, agar pengingkarannya dengan tangannya tidak menimbulkan yang lebih mungkar dari yang telah diingkarinya. Demikian sebagaimana disebutkan oleh para ahlul ilmi.

Mengingkari kemungkaran dengan lisannya, bisa dengan mengatakan, “Saudaraku, bertakwalah kepada Allah. Ini tidak boleh. Ini harus ditinggalkan.” Demikian yang harus dilakukannya, atau dengan ungkapan-ungkapan serupa lainnya dengan tutur kata yang baik.

Dan yang terakhir, apabila tidak mampu dengan tangan atau lisan, maka wajib bagi semua umat Islam yang melihat kemungkaran untuk mengubahnya dengan hati, dan ini bisa dilakukan dengan:
1.       Mengingkari kemungkaran tersebut di dalam hati
2.       Membenci kejahatan tersebut di dalam hati
3.       Menampakkan ketidaksukaan terhadap penindasan tersebut
4.       Tidak berteman, bergaul, berinteraksi dengan orang-orang yang melakukannya, dan bisa pula dengan
5.       Mendoakan pelaku kejahatan, kemungkaran, dan kezaliman tersebut dengan doa yang baik atau doa yang buruk.

Rasulullah pernah mendoakan kebaikan untuk penduduk Thaif yang melempari batu kepada beliau:

أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
 “Aku berharap supaya Allah Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua”. [HR Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim].

Di sisi lain, Rasulullah juga pernah mendoakan keburukan bagi pelaku kezaliman, yaitu ketika tim dakwah utusan Nabi yang berjumlah 70 orang ulama dari kalangan sahabat justru dibunuh semuanya kecuali 1 sahabat. Setelah itu Rasulullah senantiasa mendoakan kejelekan bagi para pembunuh tersebut di setiap salat lima waktu, selama satu bulan, yang kemudian dikenal dengan istilah qunut nazilah.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا َوَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ
KHUTBAH KEDUA

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَافِ الأَنْبِيَاءِ وَالمرْسَلِيْنَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْ
Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah...

Islam sebagai agama perdamaian, mengharuskan para pemeluknya untuk memberantas kemungkaran, kezaliman, dan kejahatan, karena perdamaian tidak akan terwujud apabila masih terjadi penindasan, penjajahan, kezaliman, kesewenang-wenangan, dan kemungkaran.

Itulah mengapa Allah menyebut kita umat Islam sebagai umat terbaik hanya apabila kita mau menyeru pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah atau tidak berbuat syirik.

Selain itu, Rasulullah memerintahkan kita untuk mengubah kemungkaran dengan tangan-tangan kita dan dengan lisan-lisan kita sesuai kemampuan, lalu wajib bagi semua umat Islam untuk mengubah kemungkaran dengan hatinya, karena itu adalah selemah-lemah iman.

نَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمَ الصَّلَاةَنَا وَمِنْ ذُرِّيَّتَنَا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
رَبِّنا ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانا صَغِيرًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لنا وَلِوَالِديناَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ