Penjelasan Hadis: Keutamaan Sedekah Ketika Sehat lagi Kikir




Sahabat Abu Hurairah radhiyallahuanhu menceritakan:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى وَلَا تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتْ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلَانٍ كَذَا وَلِفُلَانٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلَانٍ
“Datang seseorang kepada Nabi lalu berkata, ‘Ya Rasulullah, sedekah apa yang paling besar pahalanya?’ Lalu Rasulullah bersabda, ‘Engkau bersedekah sedang dirimu dalam keadaan sehat lagi kikir, takut jadi orang fakir dan sedang mengharap kekayaan. Maka jangan menunda-nunda (bersedekah) sampai (ruh) tinggal di kerongkongan lalu dirimu berkata, ‘Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian. Padahal harta itu sudah jadi milik si fulan.”

Imam Bukhari rahimahullah memberi judul untuk hadis ini:

بَاب فَضْلِ صَدَقَةِ الشَّحِيحِ الصَّحِيحِ
“Bab Keutamaan Sedekah dari orang yang kikir lagi sehat.”

Setelah itu Imam Bukhari rahimahullah menukil dua ayat dari Al-Quran, yaitu QS Al-Munafiqun: 10 dan Al-Baqarah: 254.

Berkata Az-Zain bin Munir rahimahullah:

مُنَاسَبَةُ الْآيَةِ لِلتَّرْجَمَةِ أَنَّ مَعْنَى الْآيَةِ التَّحْذِيرُ مِنَ التَّسْوِيفِ بِالْإِنْفَاقِ اسْتِبْعَادًا لِحُلُولِ الْأَجَلِ وَاشْتِغَالًا بِطُولِ الْأَمَلِ ، وَالتَّرْغِيبُ فِي الْمُبَادَرَةِ بِالصَّدَقَةِ قَبْلَ هُجُومِ الْمَنِيَّةِ وَفَوَاتِ الْأُمْنِيَةِ
“Korelasi antara ayat dengan judul bab adalah bahwa ayat tersebut merupakan peringatan untuk tidak menunda-nunda sedekah karena merasa ajal masih jauh serta terpedaya oleh angan-angan. Juga merupakan anjuran untuk bersegera mengeluarkan sedekah sebelum ajal tiba dan harapan sirna.”

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata:

وَالْمُرَادُ بِالصِّحَّةِ فِي الْحَدِيثِ مَنْ لَمْ يَدْخُلْ فِي مَرَضٍ مَخُوفٍ فَيَتَصَدَّقُ عِنْدَ انْقِطَاعِ أَمَلِهِ مِنَ الْحَيَاةِ
“Yang dimaksud dengan sehat dalam hadis tersebut adalah seseorang yang belum memasuki kondisi kritis, lalu dia bersedekah ketika sudah pupus harapannya untuk hidup.”

Beliau melanjutkan, “Ketika perjuangan melawan kehendak jiwa untuk berinfak padahal dirinya dalam keadaan kikir telah menunjukkan tulusnya niat serta kuatnya keinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah, di situ pula sedekah yang dia lakukan adalah lebih utama daripada yang lainnya. Jadi, yang membuat utama bukan karena adanya sifat kikir.”

“Syahih” berasal dari kata “Syuha” yang artinya kikir, pelit, medit, yang disertai dengan keinginan besar untuk mendapatkan harta.

Al-Khattabi rahimahullah berkata:

فِيهِ أَنَّ الْمَرَضَ يُقَصِّرُ يَدَ الْمَالِكِ عَنْ بَعْضِ مِلْكِهِ ، وَأَنَّ سَخَاوَتَهُ بِالْمَالِ فِي مَرَضِهِ لَا تَمْحُو عَنْهُ سِيمَةَ الْبُخْلِ ، فَلِذَلِكَ شَرَطَ صِحَّةَ الْبَدَنِ فِي الشُّحِّ بِالْمَالِ ، لِأَنَّهُ فِي الْحَالَتَيْنِ يَجِدُ لِلْمَالِ وَقْعًا فِي قَلْبِهِ لِمَا يَأْمُلُهُ مِنَ الْبَقَاءِ فَيَحْذَرُ مَعَهُ الْفَقْرُ

“Dalam hadis ini adalah pelajaran bahwa orang yang sakit akan berkurang kepemilikannya terhadap sebagian harta yang dia miliki. Sifat dermawan seseorang ketika sakit tidak akan menghapus label kikir dari dirinya. Itulah mengapa disyaratkan – selain sehat – adanya sifat kikir (untuk mencapai keutamaan sedekah), karena pada dua kondisi ini (sehat lagi kikir) harta menemukan tempatnya yang subur di dalam hati dengan adanya harapan untuk hidup, sedangkan orang yang hidup akan mengkhawatirkan kemiskinan.”

Ibnu Bathal rahimahullah berkata:

لَمَّا كَانَ الشُّحُّ غَالِبًا فِي الصِّحَّةِ فَالسَّمَاحُ فِيهِ بِالصَّدَقَةِ أَصْدَقُ فِي النِّيَّةِ وَأَعْظَمُ لِلْأَجْرِ ، بِخِلَافِ مَنْ يَئِسَ مِنَ الْحَيَاةِ ، وَرَأَى مَصِيرَ الْمَالِ لِغَيْرِهِ .
“Karena sifat kikir lebih dominan ketika sehat, maka bersedekah ketika itu lebih menunjukkan adanya niat yang tulus, serta akan menghasilkan pahala yang lebih besar. Beda dengan orang yang sudah pupus harapannya untuk hidup dan dia melihat hartanya telah berpindah kepada orang lain.”

Wallahu’alam bish shawwab.