Khotbah Jumat: Kiat Menjaga Ketaatan setelah Ramadhan



KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Bersyukur kepada Allah dengan mengucap Alhamdulillah, mengakui nikmat tersebut di dalam hati, serta menggunakannya untuk kebaikan, bukan kejahatan. Selawat dan salam kepada Nabi Muhammad , kepada keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya hingga nanti di hari kiamat.

Mari senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah, sebagaimana yang diperintahkan oleh-Nya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan jangan kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan muslim.”

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah…

Di antara ciri khas para salafus saleh, generasi yang saleh dari kalangan para sahabat, adalah merasa takut atau khawatir kalau-kalau amalan yang mereka lakukan di dunia, ternyata ditolak atau tidak diterima oleh Allah. Mereka adalah orang yang disebutkan dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,” (QS. Al Mu’minun: 60)

Ibunda Aisyah Radhiyallahuanha pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat ini, “Apakah mereka yang takut itu orang yang pernah meminum minuman keras lalu bertaubat dan merasa takut? Apakah mereka itu orang yang pernah mencuri kemudian bertaubat dan merasa takut?”

Rasul menjawab, “Bukan, wahai putri Abu Bakar As-Sidiq! Mereka adalah orang yang berpuasa, orang yang mendirikan salat, orang yang membayar zakat, tetapi mereka masih memiliki rasa takut, khawatir kalau amalan mereka tidak diterima oleh Allah .”

Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit, jauh dari amalan para salaf. Tetapi kita begitu percaya diri, yakin bahwa amalan kita akan diterima oleh Allah . Sungguh, teramatlah jauh antara kita dengan mereka.

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah...

Ramadan sudah berlalu tiga hari, dan kita belum tahu apakah puasa selama itu diterima atau tidak. Padahal kita sudah bersusah payah menahan lapar dan dahaga sebulan penuh di siang hari.

Ramadan sudah berlalu, tetapi kita tidak tahu, apakah salat kita selama itu diterima atau tidak oleh Allah . Tarawih dan witir yang kita rela berdiri sekian lama, kita tidak tahu apakah itu akan berbuah pahala karena keikhlasan kita, ataukah itu akan berbuah siksa karena kita melakukannya bukan karena Allah .

Untungnya para ulama telah membuat suatu rumus, bahwa di antara tanda diterimanya suatu amal, adalah dimudahkannya seseorang untuk melakukan amal kebaikan sesudah itu.

Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan QS Al-Lail ayat 7, beliau mengutip perkataan para salaf:

مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا ، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
“Di antara ganjaran atau balasan untuk suatu kebaikan, adalah kebaikan lain sesudahnya. Dan di antara ganjaran atau balasan atas suatu kejahatan atau keburukan, adalah keburukan lain sesudahnya.”

Hal ini selaras dengan sabda Nabi :

عَليْكُم بِالصِّدقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Wajib bagi kalian untuk berlaku jujur, karena kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga,” [HR. Muslim].

إِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ
“Wajib atas kalian untuk menjauhi kebiasaan berbohong, karena berbohong atau dusta akan mengantarkan pada keburukan, dan keburukan akan membuat pelakunya masuk neraka,” [HR Muslim].

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah..

Mudah dalam melakukan kebaikan, hanya bisa muncul ketika seseorang terbiasa melakukan kebaikan. Seseorang jadi terbiasa melakukan kebaikan, karena dia bisa bersabar melakukannya. Dengan sabar, seseorang jadi terbiasa, dan jika sudah terbiasa, maka seseorang akan merasakan kemudahan.

Kuncinya ada pada kesabaran. Sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dalam menjauhi kemaksiatan.  Itulah mengapa Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian, dan tetaplah bersiap-siaga,” (QS Ali Imran: 200).

Hasan Al-Bashri Rahimahullah menjelaskan:

أُمِرُوا أَنْ يَصْبِرُوا عَلَى دِينِهِمُ الَّذِي ارْتَضَاهُ اللَّهُ لَهُمْ ، وَهُوَ الْإِسْلَامُ ،
“Mereka diperintahkan untuk senantiasa bersabar dalam menjalankan agamanya yang diridai oleh Allah , yaitu agama Islam.”

فَلَا يَدْعُوهُ لِسَرَّاءَ وَلَا لِضَرَّاءَ وَلَا لِشِدَّةٍ وَلَا لِرِخَاءٍ ، حَتَّى يَمُوتُوا مُسْلِمِينَ ،
“Sehingga mereka tidak akan meninggalkannya, baik ketika sedang sengsara maupun bahagia, pada saat kesusahan maupun ketika sedang penuh kemudahan, hingga akhirnya mereka mati dalam keadaan muslim.”

Menjalankan salat butuh kesabaran, apalagi di luar bulan Ramadan, apalagi ketika warung sedang banyak pembeli, apalagi ketika pekerjaan dari atasan sedang segudang.

Salat butuh kesabaran karena salat dilakukan sebanyak lima kali dalam sehari, sepanjang hidup sampai seseorang itu meninggal dunia atau hilang akal sehatnya. Jangan tinggalkan salat, baik ketika hidup sedang sengsara maupun ketika sedang berbahagia, ketika miskin atau ketika kaya, ketika Ramadan juga setelah Ramadan.

Salatlah di masjid secara berjamaah, karena pahalanya lebih besar daripada salat sendirian. Jika ada halangan untuk menghadirinya, salatlah sendirian di rumah secara tepat waktu dan bersabarlah menjalaninya.


أَقُوْلُ القَوْلَ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Ma’asyiral muslim, rakhimakumullah..

Selain bersabar dalam menjalani ketaatan dan menjauhi kemaksiatan, seseorang juga dianjurkan untuk berdoa kepada Allah, meminta kepadaNya agar diberi keistikamahan dalam menjalankan ketaatan. Setelah Ramadan berlalu, mari kita beranikan diri untuk berdoa dengan doa:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ
“Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu,” [HR. Tirmidzi: 2140].

Selanjutnya, bertemanlah dengan orang-orang yang saleh, karena dengan begitu kita akan lebih mudah menjalankan ketaatan, dan menjauhi kemaksiatan. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian itu orang yang senantiasa bersama orang-orang yang sodiq,” (QS At-Taubah: 119).

Rasulullah bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan menyesuaikan diri dengan agama, tabiat, akhlak, perilaku kawan dekatnya. Oleh karena itu, hendaknya seseorang di antara kalian memperhatikan siapa yang akan dijadikan kawan dekatnya,” [HR Abu Dawud].

Dan yang terakhir, di antara cara untuk melanggengkan ketakwaan di luar bulan Ramadan adalah, “Beribadah dengan kadar minimal, selama itu sah, dan melakukannya dengan istikamah.” Rasulullah bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai di sisi Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walau jumlahnya sedikit,” [HR. Bukhari].

Sedikit asalkan sah, sedikit tetapi rutin, itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبِّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمَ الصَّلَاةَنَا وَمِنْ ذُرِّيَّتَنَا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
رَبِّنا ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانا صَغِيرًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.