Adab-adab Suami-Istri

Oleh Syekh Dr. Abdulhamid bin Abdurrahman Ash-Shuhaibani
1-         أَنَّ يَتَزَيَّنُ كُلُّ وَاحِدُ مِنَ الزَّوْجَيْنِ لِلْآخِرِ.

1. Masing-masing dari suami/istri hendaknya berhias diri untuk pasangannya.

2- عَلَى الزَّوْجِ أَنْ يُحَرِّصُ عَلَى سُنَنُ الْفِطْرَةُ وَهِي " الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادِ وَقَصَّ الشَّارِبِ، وَقَلَمَ الْأَظَافِرِ، وَنَتْفَ الْإِبْطِ "

2. Hendaknya suami melakukan sunnah-sunnah fithrah, yaitu; khitan, membersihkan bulu kemaluan, menggunting kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak

وَكَذَا الزَّوْجَةِ، وَأَنْ لَا يُترك ذَلِكَ أَكْثَرِ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً. وَعَلَى الزَّوْجَةِ أَْنْ تَجْتَنِبُ مُشَابِهَةُ الْكَافِرَاتِ فِي إِطَالَةِ الْأَظَافِرِ وَصِبْغِهَا.



Hal ini berlaku juga untuk seorang isteri, dan tidak membiarkannya lebih dari 40 hari. Hendaknya seorang isteri menjauhkan diri dari menyerupai wanita-wanita kafir dalam hal memanjangkan kuku dan mengecatnya.

3- أَنْ تَتَجَنَّبُ الزَّوْجَةُ الْوَشْمُ وَهِي تَنْقِيطُ الْجِسْمِ بِالسَّوَادِ، وَالنَّمْصِ وَهُوَ حَفُّ الْحَاجِبِ كُلَّهُ أَوْ بَعْضُهُ، أَوِ الْوَجْهُ.

3. Hendaknya seorang isteri menjauhkan diri dari melakukan tato, mencukur/mencabut alis seluruhnya atau sebagiannya atau dengan cara yang semisalnya.

وَكَذَا التُفَلِّجُ وَهُوَ تَفْرِيقُ الْأسْنَانِ لِتُبَاعِدُ بَعْضُهَا عَنْ بَعْضِ.

Begitu juga tidak boleh merenggangkan gigi, yaitu memisahkan gigi satu dengan yang lainnya sehingga jaraknya berjauhan satu dengan yang lainnya.

فَكُلُّ ذَلِكَ حَرَامٍ، وَمَلْعُونٌ مِنْ فِعْلِهِ عَلَى لِسَانِ رَسُولِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَمَا فِى حَديثٌ:

Semua hal tersebut haram dan pelakunya dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam hadits berikut:



لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ وَالْمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ الْمُغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللَّهِ

“Allah melaknat orang yang mentato dan orang yang meminta ditato, orang yang mencukur habis alis dan mengikir / merenggangkan gigi untuk kecantikan dengan merubah ciptaan Allah Ta’ala,” (Sahih Bukhari: 5476).



4- أَنْ يُصَلِّي الزَّوْجَانِ مَعَا رَكَعَتَيْنِ

Hendaknya pasangan suami isteri melakukan shalat berjama’ah dua raka’at bersama-sama (sebelum melakukan jima’/persetubuhan)



لَمَّا جَاءَ عَنْ اِبْنِ مَسْعُودٍ – رضي الله عنه – أَنَّهُ أَمْرُ أَبَا حَرِيزِ إِذَا أَتَتْهُ اِمْرَأَتُهُ أَن تُصَلِّي وَرَاءَهُ رَكَعَتَيْنِ

Sebagaimana keterangan atsar dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu bahwa beliau memerintahkan Abu Huraiz, apabila isterinya mendatanginya agar shalat di belakangnya sebelum menggaulinya, (HR At-Tabrani).



وَفِي ذَلِكَ تَذْكِيرٍ لِلزَّوْجَيْنِ بِأَنَّهُمَا إِذَا أَرَادَا فَلَاَحَهُمَا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلَيُقِيمَا حَيَّاتُهُمَا عَلَى التَّقْوَى.

Hal tersebut merupakan peringatan bagi pasangan suami isteri, apabila hendak meraih kebahagiaan di dunia dan Akhirat maka selayaknya harus mendasari semua perilakunya dengan nilai taqwa.



5- أَنْ يَضَعَ الزَّوْجُ يَدَهُ عَلَى مُقَدَّمَةِ رَأْسِهَا ثُمَّ يُسَمِّي اللهُ، وَيَدْعُو بِالْبَرَكَةِ، وَيَقُولُ مَا ذِكْرٍ عَنْ رَسُولِ اللهِ – صلى الله عليه وسلم:

Hendaknya sang suami, meletakkan tangannya di atas kepala isterinya (ubun-ubunnya) kemudian menyebut Nama Allah, lalu mendo’akan dengan keberkahan dan mengucapkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ



Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan perempuan ini, juga kebaikan tabiat-nya (wataknya) dan aku mohon perlindungan kepada-Mu dari kejelekan tabiatnya,” (Sunan Abu Dawud).



6- أَنَّ لَا يَنْسَى الزَّوْجُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِي أهْلُهُ أَنَّ يَقُولُ:

Hendaknya sang suami tidak lupa untuk mengucapkan do’a sebelum menggauli isterinya dengan membaca

«بسم الله، اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا»

“Dengan menyebut Nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan agar tidak mengganggu apa yang Engkau rizkikan kepada kami,” (Sahih Bukhari).



7- يَجُوزُ لِلزَّوْجَيْنِ أَنْ يَنْظُرُ كُلُّ مِنْهُمَا لِعَوْرَةِ الْآخَرِ لِحَديثِ عَائِشَةِ:

Diperbolehkan bagi pasangan suami isteri untuk saling melihat seluruh aurat pasangannya. Sebagaimana hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :



كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ وَاحِدٌ (تَخْتَلِفُ أَيْدِيْنَا فِيْهِ) فَيُبَادِرُنِيْ حَتَّى أَقُوْلَ: دَعْ لِيْ، دَعْ لِيْ، قَالَتْ: وَهُمَا جُنُبَانِ.



Aku pernah mandi berdua dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu wadah yang terletak antara aku dan beliau. Tangan kami berebutan menciduki air yang ada di dalamnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menang dalam perebutan itu, lalu aku katakan, ‘Sisakan untukku, sisakan untukku.’ Padahal pada saat itu kami sedang dalam keadaan junub,” (Sahih Bukhari & Sahih Muslim).

8- يُسْتَحَبُّ لِلْجَنْبِ الْوُضُوءُ عِنْدَ النَّوْمِ، وَالْاِغْتِسَالَ أفْضَلُ ،

Disunahkan bagi orang yang sedang junub untuk berwudu, tetapi kalau dia mandi, maka itu lebih utama.



Hal tersebut berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Qais, ia berkata, “Aku bertanya kepada ‘Aisyah, ‘Apa yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila dalam keadaan junub? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Semua pernah dilakukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terkadang beliau mandi sebelum tidur dan terkadang berwudhu’ saja lalu tidur.’ Aku berkata. ‘Segala puji bagi Allah Yang telah memberi keleluasaan dalam masalah ini.” [HR. Ahmad VI/73, 149. Lihat Adabuz Zifaaf hal. 118-119]



9- عَدَمُ التَّفْرِيطِ فِىَّ كَثْرَةَ الْوَطْءِ، لَمَّا فِىَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَفَاسِدِ، وَضَيَاعَ كَثِيرَ مِنَ الْمُصَالِحِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَالْأُخْرَوِيَّة



Tidak boleh berlebih-lebihan secara gegabah dengan banyak melakukan hubungan badan, karena di dalamnya banyak terkandung kerusakan dan mempersempit kebaikan di dunia maupun di akhirat, (Lihat kitab at-Taujiih al-Khaathibiin wa Hadiyyah al-Mutazawwijiin, oleh ‘Abdul Wahid al-Muhaidib).