Khutbah Jumat: Membela Diri terhadap Kezaliman



Oleh Irfan Nugroho
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Bersyukur kepada Allah dengan mengucap Alhamdulillah, mengakui nikmat tersebut di dalam hati, serta menggunakannya untuk kebaikan, bukan kejahatan. Selawat dan salam kepada Nabi Muhammad , kepada keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya hingga nanti di hari kiamat.

Mari senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah, sebagaimana yang diperintahkan olehNya:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan jangan kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan muslim.”

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah...

Di antara kemuliaan agama Islam yang sifatnya membawa rahmat bagi seluruh alam adalah larangan berbuat zalim atau semena-mena. Allah melarang umat Islam untuk berbuat zalim atau mendukung pelaku kezaliman dalam firman-Nya:

وَما لِلظّالِمينَ مِن نَصيرٍ
“Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun,” (QS Al-Hajj: 71).

Termasuk di dalam kemuliaan agama Islam adalah dianjurkannya orang yang beriman untuk membela diri terhadap kejahatan orang-orang yang zalim. Inilah yang di dalam kitab-kitab fiqih akhlak disebut dengan akhlak intishar linafsi.

Membela diri terhadap kezaliman yang diterima termasuk akhlak mulia karena dengan adanya upaya pembelaan diri dari korban kezaliman, maka diharapkan pelaku kezaliman tadi akan berhenti dari kezalimannya. Inilah yang diamini oleh Imam Malik, melalui penuturan Ibnul Arabi di dalam Al-Jami li Ahkamil Quran.

Sifat intishar atau membela diri adalah pelengkap dan penyeimbang bagi sifat seorang muslim yang umumnya bersikap lemah lembut, berkasih sayang, dan pemaaf terhadap sesama mukmin yang khilaf telah berbuat zalim, atau orang yang berbuat zalim kemudian berhenti dari kezalimannya, lalu menyesal dan bertaubat atas kezaliman yang telah dia perbuat.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَهُمُ الْبَغْيُ هُمْ يَنْتَصِرُونَ
“Dan ( bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri,” (QS Asy-Syura: 39).

Menjelaskan ayat di atas, Imam Al-Qurtubi rahimahullah mengutip perkataan Ibnul Arabi tentang syarat-syarat yang membolehkan seorang mukmin untuk membela diri terhadap kezaliman yang dia alami:

إِحْدَاهُمَا أَنْ يَكُونَ الْبَاغِي مُعْلِنًا بِالْفُجُورِ ، وَقِحًا فِي الْجُمْهُورِ ، مُؤْذِيًا لِلصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ ، فَيَكُونُ الِانْتِقَامُ مِنْهُ أَفْضَلَ
“Bahwa orang-orang zalim itu (yang mana korban kezaliman boleh membela diri dari kejahatan mereka), (1) mereka melakukan kejahatannya secara terang-terangan, (2) mereka kasar atau sombong atau arogan di hadapan orang banyak, dan (3) menyakiti anak-anak kecil dan orang tua. Maka melakukan pembalasan terhadap orang seperti ini adalah lebih utama (daripada memaafkan mereka),” (Al-Jami Li Ahkamil Quran: 16/38).

Imam Syafi’i Rahimahullah, yang mahzabnya (Mahzab Syafiiah) banyak dipakai oleh sebagian besar warga negara Indonesia, beliau pernah berwasiat tentang akhlak membela diri:

مَنِ اسْتُغْضِبَ فَلَمْ يَغْضَبْ ، فَهُوَ حِمَارٌ
“Siapa yang dituntut untuk bersikap marah (baik karena adanya kezaliman yang dilakukan terang-terangan dan terus-menerus, dan ketika ajaran Islam dinistakan), tetapi orang tadi justru tidak bersikap marah, maka dia adalah keledai,” (Siyar A’lamin Nubala: 10/42).

Dan dikatakan di dalam Kitab Adwa’ul Bayan karangan Syekh Muhammad Amin Asy-Syinqitti rahimahullah, ketika menafsirkan QS Al-Maidah ayat 54 beliau mengutip sebuah syair yang bebunyi:

إِذَا قِيلَ حِلْمٌ قُلْ فَلِلْحِلْمِ مَوْضِعٌ       
Jika dikatakan, ”Hendaklah engkau bersikap lembut,”
maka jawablah, kelembutan itu ada tempatnya.
وَحِلْمُ الْفَتَى فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ جَهْلُ
Sikap lembut seorang pemuda yang bukan pada tempatnya
merupakan kebodohan.
بارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِي اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ، وَأَقُوْلُ هَذَا القَوْلَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ يَغْفِرْ لَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah...

Membela diri terhadap orang-orang zalim yang berbuat kezaliman menuntut adanya tiga syarat:
1. Kezaliman itu dilakukan secara terus menerus,
2. Pelakunya bersikap kasar, sombong dan arogan kepada orang banyak,
3. Kezalimannya menyakiti anak kecil dan orang tua.

Membela diri terhadap kezaliman yang seperti ini adalah termasuk salah satu akhlak mulia, dan dalam melakukan pembelaan diri terhadap kezaliman seperti itu ada batasannya di dalam Islam.

Yang pertama, hendaknya intishar li nafsi (membela diri) dilakukan sesuai dengan tahapan yang diajarkan Rasulullah :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ
“Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya (maksudnya dari atasan kepada bawahan, misal dari penguasa kepada rakyatnya yang melakukan kemungkaran, dari bos kepada anak buah, dari kepala keluarga kepada anggota keluarga, dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, atau dari instansi yang berwenang melakukannya, seperti polisi, hakim, dan yang semisal).
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
Jika tidak bisa maka dengan lisannya (yakni jihadul kalimah, dengan nasihat, peringatan lisan atau tertulis, atau dari ulama kepada penguasa atau rakyat, atau dengan mendoakan pelaku kezaliman, baik agar si pelaku lekas mendapat hidayah dan bertaubat, atau mendoakan kecelakaan baginya [QS An-Nisa: 148]).
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Jika tidak bisa juga maka dengan hatinya (yaitu membenci dengan hatinya, menampakkan ketidaksukaannya dan tidak bergaul dengan para pelakunya). Itulah selemah-lemahnya iman.”[HR. Muslim: 49). (Penjelasan ini dari Fatwa Syekh Bin Baaz: Majalatul Buhuts, edisi 36, hal. 121-122)

Dan yang terakhir, dalam upaya membela diri, Syekh Mahmud Muhammad al-Khazandar (dalam bukunya Hadzihi Akhlaquna Hina Nakun Mu'minin Haqqa) mensyaratkan agar dilakukan secara: sederhana (القصد), santun (الحلم), adil dan objektif (العدل والإنصاف).


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبِّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمَ الصَّلَاةَنَا وَمِنْ ذُرِّيَّتَنَا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
رَبِّنا ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانا صَغِيرًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لنا وَلِوَالِديناَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.