Cara yang Sahih dalam Meruqyah Anak Kecil


Pertanyaan:
Saya memiliki anak perempuan yang masih kecil, umurnya setahun lebih sedikit. Setelah saya selesai membaca zikir pagi dan sore, saya biasa meniupkan (bacaan tadi) kepadanya. Apakah ini boleh? Apakah ini cara yang benar dalam meruqyah anak kecil?

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamQA, di bawah Pengawasan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid Hafizahullah
الحمد لله
الطريقة الصحيحة لرقية الطفل الصغير لحفظه وتحصينه هي ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعله بابنيه الحسن والحسين رضي الله عنهما .
Alhamdulillah.
Cara yang sahih (benar) untuk meruqyah anak kecil guna menjaganya dan membentenginya adalah dengan apa yang dilakukan oleh Nabi kepada Hasan dan Husain – semoga Allah meridhai keduanya.

فقد روى البخاري (3371) عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : ( كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَوِّذُ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ وَيَقُولُ : إِنَّ أَبَاكُمَا كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ : أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ (.
Sungguh telah diriwayatkan oleh Al-Bukhari (3371) dari Ibnu Abbas Radhiyallahuanhuma yang berkata,

“Dulu Nabi terbiasa meminta perlindungan (kepada Allah) untuk Hasan dan Husain dan berkata, ‘Dulu ayah kalian (Ibrahim) biasa meminta perlindungan (kepada Allah) dengan doa ini untuk Ismail dan Ishaq, yaitu

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

A’udzu bikalimaatillah tammaati min kulli syaithaani wa hammah, wa min kulli ‘aini lammah

(Sesungguhnya aku berlindung dengan kesempurnaan Allah dari syaitan dan hammah, dan dari pandangan mata yang jahat).

Berkata Ibnu Hajar rahimahullah di dalam Fathul Baari (6/410):

قوله : "وهامّة": واحدة الهوام ذوات السموم .
Ungkapan, “dan hammah” artinya sejenis hawaam (serangga atau binatang yang merusak tanaman atau makanan),  atau dzawaatu samuum (benda beracun).
قوله : " ومن كل عين لامة " : قال الخطابي : المراد به كل داء وآفة تلم بالإنسان من جنون وخبل " انتهى باختصار .
Tentang sabda beliau, “dari pandangan mata jahat,” Al-Khattabi berkata, “Sakit atau petaka yang bisa menyebabkan hilang orientasi atau gila.”
ويستحب كذلك في رقية الأولاد قراءة المعوذتين عليهما ، ومسح أجسامهم أثناء القراءة ، أو قراءتهما بين الكفين ثم النفث فيهما بريق خفيف لتمسح أبدانهم بما تصل إليه اليد ، أو قراءتهما في الماء ومسحهم أو تغسيلهم به ، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يُعَوِّذُ نفسه وغيره بهما.
Disunahkan pula ketika meruqyah anak dengan membacakan Al-Muawidzatain kepada mereka, dan mengusapkannya ke badan mereka sembari membacanya. Atau, membacanya di kedua tangan lalu meniupkannya ke kedua tangan dengan sedikit cipratan ludah ke tangan, lalu mengusapnya ke badan mereka, sejauh yang bisa dijangkau oleh tangan. Atau bisa juga dengan membacakannya di air lalu mengusapkan kepadanya atau memandikan mereka dengan air tersebut. Sungguh, dulu Nabi terbiasa meminta perlindungan (kepada Allah) atas dirinya dan orang lain dengan dua surat tersebut.

Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahuanhu beliau berkata:

( كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَعَوَّذُ مِنَ الجَانِّ وَعَيْنِ الإِنْسَانِ حَتَّى نَزَلَتِ الْمُعَوِّذَتَانِ ، فَلَمَّا نَزَلَتَا أَخَذَ بِهِمَا وَتَرَكَ مَا سِوَاهُمَا ) رواه الترمذي ( 2058 ) ، وصححه الألباني في صحيح الترمذي .

“Dulu Rasulullah meminta perlindungan (kepada Allah) dari Jin dan pandangan mata jahat manusia sampai turunnya Al-Muawidzatain. Ketika kedua surat itu turun, beliau berhenti membaca yang lainnya,” (HR Tirmizi: 2058. Al-Albani: Sahih).
والنفث بالريق مع المعوذتين مأخوذ من هدي النبي صلى الله عليه وسلم قبيل النوم ، فقد كان يقرأ بهما في كفيه وينفث ثم يسمح جسده الطاهر بهما ، فلما مرض كانت عائشة تفعل ذلك له ، مما يدل على أن الصغير يمكن أن تنفث له أمه بالمعوذتين وتمسح بهما عنه .
Tentang meludah ketika membaca Al-Muawidzatain, ini diambil dari petunjuk Nabi sebelum tidur. Dulu beliau biasa membaca kedua surat tersebut di kedua tangannya dan meniupkannya lalu mengusapnya ke seluruh tubuhnya. Ketika beliau sakit, Aisyah terbiasa melakukan itu kepada beliau . Dari sini ada dalil bahwa anak kecil boleh dibacakan Al-Muawidzatain oleh ibunya, lalu diusapkan kepadanya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,
( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِـ " قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ " وَبِالْمُعَوِّذَتَيْنِ جَمِيعاً ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَمَا بَلَغَتْ يَدَاهُ مِنْ جَسَدِهِ . قَالَتْ عَائِشَةُ : فَلَمَّا اشْتَكَى كَانَ يَأْمُرُنِي أَنْ أَفْعَلَ ذَلِكَ بِهِ ) رواه البخاري (5748(.

“Apabila Rasulullah hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu’awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen).” (HR. Bukhari: 5748)

أما أذكار الصباح والمساء ، فلم يرد ـ فيما نعلم ـ أنها تقرأ على الآخرين بقصد الرقية ، فلا ننصحك بالاستمرار بها ، واقتصر على ما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ففيه الكفاية ، وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم .
Tentang zikir pagi dan sore, tidak ada riwayat – setahu kami – bahwa ia boleh dibacakan ke orang lain dengan maksud sebagai ruqyah. Maka kami tidak menyarankan kepada Anda untuk terus melakukannya. Batasi dengan apa yang sudah tsabat dari Nabi karena itu sudah cukup. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuknya Muhammad .

Wallahu’alam

Fatwa No: 104454
Tanggal: 24 Agustus 2007
Sumber: IslamQA
Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran At-Taqwa Sukoharjo)