3 Kunci Kebahagiaan: Syukur, Sabar, dan Istighfar



Oleh Irfan Nugroho
KHUTBAH PERTAMA:


إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ

Segala puji bagi Allah

نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ

Hanya kepadanya kita memuji, meminta pertolong, serta bertaubat dari dosa-dosa kita

وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا

Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa dan amalan buruk kita.

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ

Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada akan pernah sesat selamanya

وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

Dan barang siapa yang dibuat sesat oleh Allah, niscaya tidak akan mendapat petunjuk selamanya

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah


اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.


يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu Adam Alaihissalam, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya Hawa Alaihissalam; dan dari mereka Allah memberikan banyak keturunan laki-laki dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah, dan jagalah silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.


فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ،

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, Al-Quran

وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ،

sebaik-baik petunjuk setelah Al-Quran adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا،

Dan perbuatan yang keliru adalah perbuatan yang tidak berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah

وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ

Dan setiap yang tidak berlandaskan pada Al-Quran dan Sunnah adalah perbuatan yang baru di dalam agama

وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً،

Dan perbuatan yang baru di dalam agama itu bisa membawa pelakunya kepada kekeliruan

وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Dan akan membawa pelakunya kepada api neraka.


Ma’asyiral-Muslimin rahimakumullah,

Semua manusia terus saja memahami makna dari kebahagiaan, dan bagaimana cara mewujudkan kebahagiaan. Apabila seseorang memaknai bahagia dengan banyaknya uang yang dia cari, maka dia akan terus berusaha untuk mewujudkan bagaimana caranya memiliki uang yang sangat banyak. Mulai dari bangun tidur, yang dia pikirkan adalah uang, siang hari pikirannya hanya uang, sore hari pikirannya juga uang kembali, hingga dia tidur atau bahkan tidak tidur kecuali dia selalu memikirkan uang.

Ada pula sebagian manusia yang memaknai bahagia dengan memiliki jabatan atau kedudukan yang tinggi. Maka wajar jika orang seperti ini selalu berpikir dan mengerahkan tenaga untuk mencapai posisi atau kedudukan yang tinggi. Tenaga dan pikirannya habis untuk mewujudkan hal tersebut.

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah..

Adalah Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama yang hidup seratus tahun sebelum lahirnya Syekh Maulana Malik Ibrahim atau ketua dari perkumpulan ulama penyebar Islam di Indonesia, Wali Songo, angkatan pertama, beliau di dalam kitabnya Al-Wabil Ash-Shayyib merumuskan sebuah teori tentang hakikat kehidupan manusia yang sejatinya akan selalu berkutat pada tiga perkara. Barang siapa bisa merangkul ketiga hal tersebut di dalamnya, maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Perkara pertama yang hendaknya dilazimi seseorang untuk mencapai kebahagiaan adalah:

وأن يجعلكم ممن إذا أنعم عليه شكر

Semoga Allah menjadikan kalian orang yang apabila diberi nikmat, maka kalian akan bersyukur.

Inilah kunci pertama untuk mewujudkan kebahagiaan, yaitu bersyukur ketika diberi nikmat. Bersyukur akan membuat suatu nikmat menjadi berkah, sedang kebalikannya yaitu kufur nikmat, akan menjadikan suatu nikmat menjadi bencana. Allah berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,” (QS Ibrahim: 7).

Syekh Abdulaziz Ath-Thuraifi, ketika menjelaskan ayat tersebut, beliau mengatakan:

شكر نعمة الله سبب لنعمتين: بقاء النعمة,  والبركة فيها. ومن كَفر النعمة أزالها الله عنه، وإن أبقاها أذهب بركتها عنه وأشقاه بها .
“Syukur nikmat adalah sebab yang mengantarkan pada dua nikmat yang lainnya, yaitu langgengnya nikmat tersebut, serta timbulnya keberkahan di dalam nikmat tersebut. Maka siapa saja yang kufur nikmat, maka Allah akan menghapus nikmat tersebut darinya. Dan kalau toh nikmat itu tetap melekat awet pada dirinya, niscaya Allah hilangkan keberkahan dari nikmat tersebut, dan Allah jadikan nikmat itu tadi sumber bencana,” (@abdulaziztarefe).

Lalu bagaimana seseorang harus mewujudkan syukur nikmat? Imam Ibnul Qayyim menjelaskan:
“Syukur nikmat itu dibangun atas tiga pilar:
Pertama:

الاعتراف بها باطناً
“Mengakui nikmat tersebut di dalam hatinya.”

Kedua:

والتحدث بها ظاهراً
“Mengucapkan nikmat tersebut secara zahir (dengan lisan),” dan yang ketiga:

 وَتَصرِيفُهَا فِي مَرْضَاةِ وَلِيْهَا وَمُسْدِيْهَا وَمُعْطِيهَا
“Menggunakan nikmat tersebut untuk menggapai keridhaan Allah, karena Allah-lah yang memberi nikmat tersebut.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah...

Kunci kebahagiaan yang kedua menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah adalah:

وَإِذَا اِبْتَلَى صَبْرَ

“Apabila diberi bala’ atau bencana, maka dia bersabar.”

Sabar itu bukan perkara yang ringan lagi mudah, para jamaah sekalian. Kalau sabar adalah termasuk perkara yang ringan lagi mudah, niscaya sabar hanya akan berbuah piring atau payung cantik seperti ketika kita membeli deterjen di toko-toko terdekat. Tapi ternyata sabar adalah perkara yang sulit, itulah mengapa Allah memberikan hadiah yang jauh lebih besar daripada dunia dan seisinya, sebagaimana firman Allah :

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَا صَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَائِزُونَ
“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang,” (QS Al Mukminum: 111).

Imam Al-Qurtubi dan Imam At-Tabari di dalam tafsirnya masing-masing menjelaskan:

إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ
“Sesungguhnya Allah akan membalas mereka di hari kemenangan dengan jannah.”

Sabar itu pahalanya surga, dan inilah hadiah yang sangat besar. Itulah mengapa seseorang yang bisa melazimi sifat sabar ketika ditimpa bencana atau musibah atau ujian, maka dia akan mendapat kebahagiaan yang hakiki.

Kita dituntut bersabar saat bermuamalah dengan istri-istri kita, yang memang diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Kalau kita paksa untuk meluruskannya, niscaya ia akan patah. Itulah mengapa Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا

“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, dia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim)

Inilah sabar terhadap istri. Pun demikian, Allah memerintahkan kita untuk bersabar dengan tingkah polah anak-anak kita. Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar,” (QS At-Tagabun: 15).

Lalu bagaimana mewujudkan sabar? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan:

 وَالصَّبْرُ حَبْسٌ النَّفْسِ عَنِ التَّسَخُّطِ بِالْمَقْدُورِ، وَحَبْسٌ اللِّسَانِ عَنِ الشَّكْوَى، وَحَبْسَ الْجَوَارِحِ عَنِ الْمَعْصِيَةِ كاللَّطْمِ وَشَقِّ الثِّيَابِ وَنَتْفِ الشَّعْرِ وَنَحْوِ.
1. Menahan hati dari rasa marah, jengkel, dan kesal terhadap ketentuan Allah,
2. Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah,
3. Menahan anggota badan dari bermaksiat, seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring, memukul istri atau anak) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap tidak terima atas keputusan Allah.

Dan yang terakhir, kunci hidup bahagia adalah:

وإذا أذنب استغفر
Apabila dia berbuat dosa, maka dia lekas beristighfar atau bertaubat.

Lawan dari bahagia adalah sengsara, dan setiap kesengsaraan yang menimpa diri kita, itu sejatinya disebabkan oleh tingkah polah kita, dosa-dosa kita, persis sebagaimana firman Allah :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)," (QS. Asy-Syuraa: 30).

Itulah mengapa perintah istighfar dan taubat menduduki posisi yang sangat prioritas di dalam berbagai pembahasan tentang tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Sahabat Ali bin Abi Thalih Radhiyallahuanhu menjelaskan:

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
"Tidaklah suatu musibah turun melainkan karena dosa. Dan tidaklah suatu musibah diangkat kecuali dengan taubat." (Al Jawabul Kaafi: 87).

Ibnul Jauzi rahimahullah pernah berwasiat:

المعاصي سلسلة في عنق العاصي ، لا يفكه منها إلا الإستغفار والتوبة .
Maksiat adalah rantai yang membelenggu leher orang-orang yang bermaksiat. Tidak akan putus rantai tersebut darinya kecuali dengan istighfar dan taubat," (Tadzkirah fi Wa'dzi).

أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِ الْعَالَمِيْنَ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di zaman yang penuh dengan fitnah seperti sekarang ini, ketika tujuan duniawi mendapat proporsi yang jauh melebihi batas kewajaran, dan bagian akhirat yang hendaknya menempati porsi yang lebih besar, justru ditinggal dinomorduakan. Maka wajar apabila kita sering mendapati orang bingung dalam memahami makna bahagia, dan juga cara mencapai bahagia.

Syukur, sabar, dan istighfar... Betapa sering para khatib mengingatkan kita tentang hal ini. Tetapi betapa sering pula kita mengacuhkan dan mengabaikan ketiganya, sembari terus menerus merasa hidup tidak bahagia. Istri yang terus dizalimi, anak yang terus diabaikan, perintah Allah yang ditelantarkan, dan larangan Allah yang terus kita langgar.

Oleh karena itu ma’asyiral muslimin, rahimakumullah.. Marilah kita senantiasa melazimi ketiga hal tersebut, syukur, sabar, dan istighfar. “Semoga Allah pula menjadikan kita orang-orang yang bersyukur tatkala diberi nikmat, bersabar ketika ditimpa musibah dan segera memohon ampunan kepada Allah ketika terjerumus dalam dosa.

فإن هذه الأمور الثلاثة عنوان سعادة العبد وعلامة فلاحه في دنياه وأخراه
“Inilah tiga tanda kebahagiaan dan tanda keberuntungan seorang hamba di dunia dan akhiratnya.”

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلاَدِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبِّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمَ الصَّلَاةَنَا وَمِنْ ذُرِّيَّتَنَا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
رَبِّنا ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانا صَغِيرًا
رَبَّنَا اغْفِرْ لنا وَلِوَالِديناَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.