Pengantar Fikih Kurban (Udhiyah) dari Kitab Bulughul Maram



Oleh Syekh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam
Al-Adhaahi dengan di-siddah huruf ya’-nya, adalah bentuk jamak dari Udhiyah dengan di-dhammah huruf hamzah-nya, atau boleh juga di-kasrah. Ada juga yang menyebutnya dhahiyah dengan bentuk jamaknya dhahaya.

Istilah al-adhaahi diambil dari waktu mulai penyembelihan. Oleh karena itu diistilahkan dengan Idul Adha dan Yaumul Adha.

Al-Adhaahi disyariatkan berdasarkan Al-Quran, Sunah, dan Ijma’ ulama.

Allah berfirman, “Maka dirikanlah salat karena Allah dan berkurbanlah,” (QS Al-Kautsar: 2). Di dalam Sunah Nabi , ibadah kurban banyak sekali disebutkan. Dalam Sahih Bukhari (5564) dan Muslim (1966):

"كان يضحِّي بكبشين أملحين أقرنين".
“Bahwa Nabi pernah berkurban dengan dua ekor kambing yang warna putihnya lebih banyak daripada hitamnya, juga bertanduk.”

Di dalam Al-Musnad (8074) disebutkan bahwa sesungguhnya Nabi bersabda:
"من كان له سعةٌ ولم يضح، فلا يقربنَّ مصلاَّنَا".
“Siapa saja yang memiliki kelapangan rezeki namun tidak berkurban, maka janganlah dia mendekati tempat salat kami.”

Para ulama sepakat mengenai diberlakukannya ibadah kurban, hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai kewajibannya.

Imam Abu Hanifah berpendapat pada wajibnya ibadah kurban dan hal tersebut diriwayatkan juga dari Imam Malik.

Mayoritas ulama berpendapat, di antaranya Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad bin Hambal bahwa ibadah kurban hukumnya Sunah Muakadah bagi setiap muslim yang mampu.

Pendapat yang masyhur dari Imam Malik adalah bahwa kurban tidak wajib bagi para jamaah haji karena mereka sudah dicukupkan dengan sembelihan hewan di tanah haram. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah) rahimahullah.

Binatan kurban yang paling afdal adalah unta, lalu sapi, lalu kambing.

Syekh Taqiyyuddin berkata, “Ibadah kurban, akikah, dan menyembelih hewan di tanah haram lebih utama daripada sedekah lainnya. Seseorang boleh berkurban untuk anak yatim yang diambil dari harta pemberian nafkahnya. Seorang wanita boleh mengambil harta keluarganya untuk berkurban, meskipun suaminya tidak mengizinkan untuk hal itu. Seseorang yang memiliki utang boleh berkurban apabila dirinya tidak diminta untuk segera melunasinya.”

Sumber: Tawadhihul Ahkam, Syarah Bulughul Maram: 7/71-72

الأضاحي: مشدَّدة الياء، جمع أُضحيَّة، بضم الهمزة، ويجوز كسرها. ويُقال: ضحِيَّة، جمعها ضحايا.

فاسمها مشتقٌّ من الوقت الَّذي شرع بدء ذبحها فيه. وبهذا سمي: عيد الأضحى، ويوم الأضحى.
وهي مشروعةٌ بالكتاب، والسنَّة، والإجماع:
قال تعالى: {فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (٢)} [الكوثر]. وفي السنَّة كثير؛ ففي البخاري (٥٥٦٤) ومسلم (١٩٦٦) أنَّه -صلى الله عليه وسلم-: "كان يضحِّي بكبشين أملحين أقرنين".

وفي المسند (٨٠٧٤) أنَّه -صلى الله عليه وسلم- قال: "من كان له سعةٌ ولم يضح، فلا يقربنَّ مصلاَّنَا".

وأجمع العلماء على مشروعيتها، واختلفوا في وجوبها:

فذهب أبو حنيفة: إلى وجوبها، ويروى ذلك عن مالك.

وذهب جمهور العلماء -ومنهم الشَّافعي وأحمد-: إلى أنَّها سنَّةٌ مؤكدة على كلِّ قادرٍ عليها من المسلمين.

والمشهور عن مالك: أنَّها لا تجب على الحجاج اكتفاء بالهدي، واختاره شيخ الإِسلام.

وأفضل الأضحية إنْ ضحَّى كاملًا: إبل، ثُمَّ بقر، ثمَّ غنم.

قال الشيخ تقي الدِّين: الأضحية، والعقيقة، والهدي أفضل من الصدقة بثمن ذلك، وهي من النفقة المعروفة، فيضحي عن اليتيم من ماله، وتأخذ المرأة من مال زوجها ما تُضَحِّي به عن أهل البيت، وإنْ لم يأذن في ذلك، ويضحي المدين إذا لم يطلب بالوفاء.
*