Khutbah Jumat: Kiat Menjaga Keistikamahan Setelah Ramadan


Oleh: Abu Muhammad Nasir Al-Irfani

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ
Segala puji bagi Allah
نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
Hanya kepadanya kita memuji, meminta pertolong, serta bertaubat dari dosa-dosa kita
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا
Kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa dan amalan buruk kita.
مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ
Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada akan pernah sesat selamanya
وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
Dan barang siapa yang dibuat sesat oleh Allah, niscaya tidak akan mendapat petunjuk selamanya
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan jangan kalian meninggal dunia kecuali kalian dalam keadaan Islam

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ،
Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, Al-Quran
وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ،
sebaik-baik petunjuk setelah Al-Quran adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا،
Dan perbuatan yang keliru adalah perbuatan yang tidak berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah
وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
Dan setiap yang tidak berlandaskan pada Al-Quran dan Sunnah adalah perbuatan yang baru di dalam agama
وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً،
Dan perbuatan yang baru di dalam agama itu bisa membawa pelakunya kepada kekeliruan
وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Dan akan membawa pelakunya kepada api neraka.

Ma’asyiral muslimin, rakhimakumullah…
Sudah genap satu pekan Ramadan berlalu meninggalkan kita. Dan jika dilihat dari cara menyikapi perginya Ramadan, maka manusia akan terbagi ke dalam kedua kelompok:

Pertama, kelompok umat Islam yang mengalami perubahan positif. Kelompok ini, berkat Rahmat Allah, berhasil meraih buah dari ketaatannya di bulan Ramadan, yaitu menjadi insan bertakwa.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” [QS Al-Baqarah 2:183].

Salah satu ciri zahir dari kelompok ini adalah seperti yang diteorikan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah di dalam kitabnya Madarijus Salikin (1/202):

مِنْ ثَوَابِ الْحَسَنَةِ  الْحَسَنَةُ بَعْدَهَا
Dan di antara ganjaran untuk suatu kebaikan adalah kebaikan lainnya sesudahnya.”

Orang di kategori pertama, mereka gemar beramal di bulan Ramadan, dan di luar bulan Ramadan, mereka juga tetap menjaga amalan-amalan tersebut. Mereka salat malam atau tarawih di bulan Ramadan, dan di luar bulan Ramadan, mereka tetap melaksanakannya. Di bulan Ramadan mereka rutin membaca Qur'an, dan di luar bulan Ramadan, mereka tetap melazimi baca Alquran. Di bulan Ramadan mereka memberi makan orang-orang, di luar bulan Ramadan mereka juga melakukan hal yang sama.

Di bulan Ramadan mereka membayar zakat fitri, dan di luar bulan Ramadan, mereka membayar zakat wajib yang lainnya, sepeti zakat harta, zakat perdagangan, zakat peternakan, dan yang sebentar lagi adalah zakat pertanian, yang gabah panennya sebanyak minimal 653 KG (versi Syekh Wahbah Zuhaili), dia keluarkan zakat 5 persen jika memakai irigasi berbayar, dan 10 persen jika tadah hujan.

Maasyiral muslimin, Rakhimakumullah..
Kelompok kedua adalah kelompok yang dikiaskan oleh Allah seperti dalam ayat berikut:

وَلَا تَكُونُوا كَٱلَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَٰثًا
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,” [QS An-Nahl: 92].

Ayat ini adalah perumpamaan untuk mereka yang membangun ketaatan di bulan Ramadan, puasa di siang hari, salat berjamaah di masjid, salat malam di malam hari, tadarus Alquran, bersedekah, berinfak, tetapi seiring dengan selesainya bulan Ramadan, selesai pula rutinitas tersebut.

Benang yang sudah dipintal kuat di bulan Ramadan, kembali diurai di luar bulan Ramadan. Begitulah Allah memberi permisalan tentang kelompok kedua ini.

Tentang mereka, salah seorang Tabiin bernama Bisyir bin Harist Al-Khafi Rahimahullah, beliau wafat tahun 277 H atau 891 Masehi, jauh lebih tua daripada para wali songo di Indonesia, beliau berkata:

بِئْسَ الْقَوْمُ لَا يُعَرِّفُونَ لله حَقًّا إِلَّا فِي شَهْرِ رَمَضَانِ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَ يَجْتَهِدُ السَّنَةُ كُلَّهَا
Seburuk-buruk kaum adalah kaum yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan. Sungguh, orang yang saleh adalah orang yang beribadah dan bersungguh-sungguh sepanjang tahun,”

Ma’asyiral muslimiin, rakhimakumullah
Pembagian dua kelompok tadi bukan untuk digunakan sebagai alat untuk menilai orang lain, oh si Fulan masuk kategori satu, si Fulan masuk kategori dua. Bukan! Tetapi di sini kami hendak mengingatkan bahwa ada satu penyakit yang bisa menjangkiti kedua kelompok tersebut di luar bulan Ramadan, yaitu penyakit futur.

Futur adalah lemah setelah sebelumnya kuat, nglokro setelah sebelumnya ngoyo dalam beribadah. Kencang ibadahnya di bulan Ramadan, tetapi di luar bulan Ramadan ibadahnya menjadi kendor. Ke masjid di bulan Ramadan, lalu tidak lagi ke masjid setelah Ramadan usai.

Inilah futur, penyakit yang bisa menjangkiti semua pihak, baik itu orang awam, bahkan para ulama. Kedua kelompok tadi sangat rentan untuk terkena virus futur. Kelompok pertama bisa terkena virus futur melalui sikap berlebih-lebihan atau ekstrem sehingga akan bosan dalam beramal, sedang kelompok kedua adalah kelompok yang jauh lebih rentan untuk terkena futur, yaitu melalui sikap meremehkan perintah Allah.

Sungguh benar perkataan Makhlad bin Al-Husain Rahimahullah:

مَا نَدَبَ اللَّهُ الْعِبَادَ إِلَى شَيْءٍ إِلَّا اعْتَرَضَ فِيهِ إِبْلِيسُ بِأَمْرَيْنِ ، مَا يُبَالِي بِأَيِّهِمَا ظَفِرَ : إِمَّا غُلُوٌّ فِيهِ ، وَإِمَّا تَقْصِيرٌ عَنْهُ

“Tidaklah Allah memerintahkan hamba-hamba-NYA untuk berbuat kebaikan melainkan IBLIS akan menghadangnya dengan dua cara. Iblis tidak ambil peduli dengan cara apa dia akan menguasainya, yaitu antara bersikap ghuluw (melampaui batas) di dalam amalan tersebut ataukah sikap meremehkannya,” (Siyar A’lamin Nubala: 9/236).

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ:

Ada beberapa kiat untuk mengatasi penyakit futur. Yang pertama adalah taubat. Beranikan diri untuk senantiasa memperbarui taubat, kembali kepada Allah, berhijrah dari kegelapan menuju cahaya Allah.

فَمَن تَابَ مِن بَعْدِ ظُلْمِهِۦ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Tetapi barangsiapa bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang,” [QS Al-Maidah: 39].

Iringi taubat kita dengan berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari rasa malas untuk beramal, dari rasa pelit waktu, tenaga dan harta untuk beramal, juga dari rasa takut untuk bertaubat, seperti yang diajarkan oleh Rasulullah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَال
Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah, sedih, lemah, malas, kikir, pengecut, terlilit hutang dan dari keganasan orang,” [HR Bukhari: 2893].

Atau doa yang biasa dipanjatkan oleh Rasulullah :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِك
Wahai yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati hamba di atas agamamu,” (HR Tirmizi: 3522).

Selanjutnya, hendaknya seseorang mengambil jalan yang tengah-tengah dalam beragama. Dia tidak berlebih-lebihan dan tidak meremehkan. Di luar bulan Ramadan dia tetap beramal, tidak masalah dengan kuantitas atau bilangan, selama itu semua bisa dilakukan secara kontinu, karena Rasulullah pernah bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit,[HR Muslim: 783].

Dan yang terakhir, pilihlah sahabat atau teman dekat yang bisa mengajak pada kebaikan, seperti yang diperintahkan oleh Allah :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا ٱتَّقُوا ٱللَّهَ وَكُونُوا مَعَ ٱلصَّٰدِقِينَ
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar,” [QS At-Taubah: 119].

Dengan senantiasa bersama orang-orang yang saleh, kita akan lebih mudah untuk beramal. Kalau kita malas, akan diingatkan oleh mereka. Kalau mereka malas, kita pula yang mengingatkan mereka. Dengan demikian semoga kita bisa istikamah dalam kebaikan, meski Ramadan sudahlah usai.


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبِّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمَ الصَّلَاةَنَا وَمِنْ ذُرِّيَّتَنَا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
اللهم أهلك أعدآئنا وأعدآء المسلمين فى بلدنا إندونسيا من الكفار والمشركين والمنافقين خصوصا لأهوك وأصحابه وشركآئه،
 اللَّهُمُّ يَا مُقَلِبَ الْقُلُوبِ ثَبِّت قُلُوبُنَا عَلَى دِينِكَ وَعَلَى طَاعَتِكَ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ