Adab-Adab dalam Berdoa



Oleh Syekh Azhari Ahmad Mahmud

آدَابُ الدُّعَاءِ مُفَتِّحٌ عَجِيبٌ لِلدُّعَاءِ المستجاب. وَإِذَا لَمْ يَأْتِ الدَّاعِي بِآدَابِ الدُّعَاءِ يُصْبِحُ دُعَاؤُهُ لَا مَعْنَى لَهُ!
Adab-adab doa merupakan kunci ajaib bagi terkabulnya doa. Jika seseorang tidak beradab dalam doa maka doanya tidak berarti apa-apa! Adab-adab ini sangat memengaruhi terkabulnya doa. 

Siapa yang tidak beradab dengan adab-adab doa, maka doanya  seperti  seorang lelaki yang menghadap seorang Raja di duni, meminta kebaikannya, namun tidak mendahuluinya dengan mengucapkan salam, dan tidak berkata baik di hadapannya, akan tetapi dia memulainya dengan menyampaikan  kebutuhannya secara langsung! 

Diantara adab berdoa yang harus diperhatikan adalah bersimpuh di hadapan-Nya dengan menguntaikan doa sambil merendahakan diri;  memuji Allah dan berselawat kepada Nabi .

Rasulullah bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ
“Apabila kalian berdoa, hendaknya dia memulai dengan memuji dan mengagungkan Allah, kemudian bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berdoalah sesuai kehendaknya,” [HR Ahmad, Abu Daud. Al-Albani: Sahih]

1. Berwudu
Wudu termasuk adab yang baik, sehingga Anda disambut Allah dalam keadaan suci, siap bermunajat dan memohon  kepada-Nya. Dalam hadits Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu'anhu disebutkan bahwa ketika dalam kondisi terluka parah di Perang Hunain, Abid Abu Amir meminta agar Abu Musa menyampaikan kepada Rasulullah agar beliau mau memintakan ampun atasnya, kemudian Abu Musa berkata:

فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ
“Kemudian beliau meminta air, kemudian beliau berwudu, lalu mengangkat kedua tangannya dan berkata:

Allahummagfir Li Ubaid Abi Amir.

(Ya Allah, berilah ampun untuk hamba-Mu yang lemah, yaitu Abu Amir), [HR Bukhari: 4323].

2. Menghadap Kiblat
Menghadap kiblat merupakan simbol kejujuran untuk menghadap dengan jujur. Abdullah bin Mas’ud juga meriwayatkan:

اسْتَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكَعْبَةَ فَدَعَا عَلَى نَفَرٍ مِنْ قُرَيْشٍ عَلَى شَيْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَعُتْبَةَ بْنِ رَبِيعَةَ وَالْوَلِيدِ بْنِ عُتْبَةَ وَأَبِي جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ

“Nabi mengadap kiblat, lalu berdoa agar Allah membinasakan beberapa pemuka Quraisy iaitu Shaibah bin Rabi’ah, Uthbah bin Rabi’ah, Walid bin `Utbah dan Abu Jahal bin Hisyam,” [HR Bukhari: 3665].

3. Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Ini merupakan simbol kehinaan, ketundukkan dan kefakiran. Semakin bertambah kebutuhan, semakin tinggi mengangkat tangan dan merendahkan diri. Oleh karena itu mengangkat tangan ketika istisqa (memohon hujan) lebih tinggi karena kebutuhannya sangat besar.

Nabi bersabda:

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

“Sesunguhnya Rabb kalian tabaroka wa ta’ala Maha Pemalu lagi Maha Mulia. Dia malu terhadap hamba-Nya, jika hamba tersebut menengadahkan tangan kepada-Nya , lalu kedua tangan tersebut kembali dalam keadaan hampa.” [HR. Abu Daud: 1488. At Tirmidzi: 3556. Al-Albani: Sahih]

4. Melakukan Amal Saleh Sebelum Berdoa
Jika seseorang melakukan amal saleh ketika hendak berdoa, seperti salat, puasa, atau sedekah, maka itu merupakan adab yang baik yang diharapkan doanya diijabah. Oleh karena itu, doa setelah shalat fardu sangat besar kemungkinan diijabah karena setelah melakukan amal saleh.

Ini adalah termasuk tawasul dengan amal saleh, dan ini dianjurkan, sebagaimana termaktub di dalam Quran:

رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
“Ya Tuhan kami, kami Telah beriman kepada apa yang Telah Engkau turunkan dan Telah kami ikuti rasul, Karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah),” [QS. Al Imron: 53]

5. Menggunakan Kata-kata yang Baik dan Lengkap
Sangat bagus memperbanyak doa dengan doa-doa yang bersumber dari Nabi , tapi boleh juga jika ingin berdoa dengan doa yang ia kehendaki. Namun dalam beberapa kondisi lebih bagus jika mencukupkan dengan doa-doa yang berasal dari Nabi .

6. Merendahkan Suara dalam Berdoa
Orang yang berdoa sedang berbicara denagn Tuhannya  Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Dia Maha Tinggi mengetahui rahasia dan yang tersembunyi. Karena merendahkan suara merupakan bentuk kehinaan, ketundukkan, dan adab yang baik.

Allah telah memuji Nabi Zakaria karena ia merendahkan suaranya ketika berdoa. Allah berfirman :
ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا * إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا
“(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut,” [QS Maryam: 2-3].

7. Memilih Nama Allah yang sesuai dengan Keagungan-Nya
Yakni berdoa melalui  nama-nama Allah yang baik yang ada dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Tidak boleh menggunakan nama-nama yang tidak pernah ada dalam Al-Qur'an maupun as-sunnah, atau nama-nama yang dibuat-buat oleh ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu.
Allah berfirman:
  وَلِلهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا
“Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu,” [QS Al-A'raf: 180].

Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: "Allah menamakan nama-nama-Nya dengan nama-nama yang indah karena indah didengar dan indah dihati. Semua nama-nama-Nya manunjukkan akan keesaan-Nya, kemuliaan-Nya, kemurahan-Nya, dan karunia-Nya".

Syekh Abdurrahman Nasir As-Sa’di rahimahullah berkata:

Misalnya berkata, “Yaa Razzaq, urzuqnaa.” (artinya: Wahai Pemberi rezeki, berilah kami rezeki), “Yaa ghafuur, ighfir lii” (artinya: Wahai Maha Pengampun, ampunilah aku), “Yaa rahiiim, irhamnii” (artinya: Wahai Maha Penyayang, sayangilah aku), dsb.