Nggak Usah Pusing dengan Omongan Manusia?



Ungkapan seperti di judul hanya layak diutarakan jika kita berbuat kebajikan dan kebenaran, lalu ada manusia yg mencela dan menghina kita karena keberpihakan dan keberpijakan kita pada kebenaran, seperti Nabi ﷺ yang mendapat gangguan dari orang-orang kafir dan munafik di zaman dahulu.

Allah ta'ala berfirman:

{وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا} [الأحزاب : 48]

“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung,” [QS Al-Ahzab: 48].

Jadi, ungkapan 'Nggak usah pusing dengan omongan manusia', atau yang semisal dengannya, tidaklah tepat jika digunakan pada situasi di mana kita berbuat salah, lalu ada orang menyampaikan nasihat, teguran, atau sindiran yg isinya merupakan pembetulan terhadap kesalahan kita.

Kalau kita memakai ungkapan di atas pada situasi kedua, coba mari kita ingat wasiat Nabi ﷺ:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia,” [HR Muslim].

Wallahualam

0 komentar:

Post a Comment