Penjelasan Hadis “Barang Siapa Menahan Marah Padahal Mampu Melampiaskannya...”



Rasulullah bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى أَنْ يُنَفِّذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ

Barang siapa yang bisa menahan marah, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, maka pada Hari Kiamat kelak, Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk, kemudian dia disuruh untuk memilih bidadari yang cantik jelita, sesuai dengan keinginannya,(HR Tirmizi: 2021. Tirmizi: Hasan Garib. Abu Dawud: 4777. Al-Albani: Hasan).

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

Kata Al-Ghaidz artinya marah besar. Orang yang marah berarti menganggap dirinya mampu melampiaskan kemarahannya. Karena orang yang tidak bisa melampiaskan kemarahan berarti tidak akan marah. Sebaliknya, dia justru bersedih.

Maka dari itu Allah disifati dengan Pemarah, bukan disifati dengan pemurung, karena orang yang murung (sedih), berarti ada kekurangan (dan Allah terbebas dari segala kekurangan). Ingat, kemarahan yang pada tempatnya adalah tanda kesempurnaan.

Jika seseorang bisa menahan amarahnya kepada seseorang, padahal dia mampu untuk melampiaskannya, tetapi dia tidak marah karena hendak mencari ridha Allah, dan pahala sabar atas apa yang menimpa dirinya, maka dia akan mendapatkan pahala yang besar, yaitu dia akan dipanggil di hadapan manusia pada Hari Kiamat, dan diberi kebebasan untuk memilih bidadari-bidadari yang cantik-cantik. Akhir kutipan (Syarah Riyadhus Shalihin: 1/274)
==========
 الغيظ: هو الغضب الشديد، والإنسان الغاضب هو الذي يتصور نفسه أنه قادر على أن ينفذ؛ لأن من لا يستطيع لا يغضب، ولكنه يحزن،  ولهذا يوصف الله بالغضب ولا يوصف بالحزن؛ لأن الحزن نقص، والغضب في محله كمال؛ فإذا اغتاظ الإنسان من شخص وهو قادر على أن يفتك به، ولكنه ترك ذلك ابتغاء وجه الله، وصبر على ما حصل له من أسباب  الغيظ؛ فله هذا الثواب العظيم أنه يدعى على رؤوس الخلائق يوم القيامة ويخير من أي الحور شاء.