Meninggalkan Kebiasaan Buruk Karena Allah



☝Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik,” [HR. Ahmad. Al-Arnauth: Sahih].

Di dalam kitabnya Al-Fawaid Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menulis:

Orang yang sulit meninggalkan kebiasaan buruk, mereka pada hakikatnya tidak sedang berusaha meninggalkan kebiasaan buruk tersebut karena Allah.

Karena orang yang meninggalkan sesuatu karena mengharap Ridha Allah, dengan penuh kesungguhan, dan dengan hati yang ikhlas, dia tidak akan merasakan sulit yang sangat saat berjuang meninggalkan kebiasaan buruk, kecuali hanya di awal-awal saja.

Susah di permukaan adalah tanda bahwa seseorang sedang diuji kesungguhannya dalam meninggalkan kebiasaan buruk tersebut, apakah dia jujur atau hanya pura-pura.

Jika dia bisa sedikit saja bersabar saat merasakan kesulitan di kala harus meninggalkan kebiasaan buruk, maka kesulitan itu akan berubah menjadi kenikmatan.

Ibnu Sirin Rahimahullah berkata bahwa diri dirinya mendengar Syuraih bersumpah:

والله،  مَا ترك عبد لله شَيْئا فَوجدَ فَقده

“Demi Allah, tidaklah seseorang meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan dia pasti mendapatkan kembali apa yang hilang itu.”

Sebagian ulama berkata:

من ترك لله شَيْئا عوضه الله خيرا مِنْهُ

“Siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan memberinya ganti yang lebih baik dari sesuatu yang dia tinggalkan tersebut.”

Ucapan Ibnu Sirin dan sebagian ulama tersebut benar adanya. Hanya saja, pengganti sesuatu yang ditinggalkan karena Allah itu bermacam-macam. Pengganti yang paling besar adalah merasa dekat dengan Allah, mencintai-Nya, dan merasakan ketentraman hati saat bersamaNya. Hati orang yang bertaubat itu pun akan menjadi lebih kuat, semangat, gembira, dan Ridha kepada Rabbnya.

أغبى النَّاس من ضل فِي آخر سَفَره وَقد قَارب الْمنزل

“Orang yang paling dungu adalah orang yang tersesat di perjalanan pulangnya (yaitu dunia), padahal dia sudah hampir sampai di rumahnya (yaitu surga).”

Wallâhu alam

Sumber: Al-Fawaid: 1/107

0 komentar:

Post a Comment