Ikhlas: Hakikat dan Cara Meraih Keikhlasan



Sebagian besar dari kita mungkin pernah atau masih merasakan pahitnya penolakan. Kita mengajukan sesuatu, lalu ditolak. Kita memberi sesuatu, kemudian ditolak.

Pun demikian, banyak orang yang ketika di dunia melakukan banyak amalan, tetapi di akhirat ternyata amalan itu tidak diterima oleh Allah. Sungguh, rasa sakitnya begitu dalam.

Allah berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ ۙ

“Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina,” [QS. Al-Gasyiyah: 2]

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ

“(karena) bekerja keras lagi kepayahan,” [QS. Al-Gasyiyah: 3]

 تَصلَىٰ نَارًا حَامِيَة ٤
“memasuki api yang sangat panas (neraka).” [QS Al-Ghasiyah: 4]


SYARAT DITERIMANYA AMAL

Syarat diterimanya amal itu sebenarnya hanya dua: 1. Ittiba' atau mengikuti atau mencontoh Rasulullah dan para sahabatnya, dan 2. Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اۨلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ  عَمَلًا    ؕ  وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۙ

“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun,” [QS. Al-Mulk: 2]

Fudhail bin Iyadh Rahimahullah menjelaskan ayat ini dengan berkata:

العَمَلُ إِذَا خَالَصَا لَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يَقْبَلْ وَإِذَا كَان صَوَابًا لَمْ يَكُنْ خَالِصَا لَمْ يَقْبَلْ حَتَّى يَكُونُ خَالِصًا وَصَوَابًا، الخَالِصُ أَنْ يَكُونَ لِلهِ وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى سَنَةِ رَسُولِ اللهِ 

“Amal yang ikhlas, tetapi tidak benar, tidak akan diterima oleh Allah. Demikian sebaliknya, amal yang benar tata caranya tetapi tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, sampai amalan itu dilakukan dengan cara yang benar dan niat yang ikhlas. Amal yang ikhlas adalah amalan yang dikerjakan hanya karena Allah semata, sedangkan amalan yang benar adalah amal yang sesuai dengan Sunnah.”

IKHLAS, LEBIH BERAT DARIPADA AMAL
Ikhlas dan ittiba' atau mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya. Inilah dua syarat agar suatu amalan itu diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tentang ittiba', hari ini jalan untuk bisa tahu tata cara ibadah Rasulullah dan para sahabatnya begitu mudah. Dulu para penuntut ilmu melakukan perjalanan ratusan kilometer untuk bertemu dengan para Masyayikh, kini bisa melihat Masyayikh dari televisi, dari Android, atau hanya suaranya saja dari radio. Jalan untuk bisa ittiba' begitu mudah kali ini.

Tetapi masalah ikhlas, bapak ibu jamaah sekalian, ini tidak ada akhirnya, dan inilah urusan yang jaaaaauh lebih berat daripada ittiba' itu sendiri.

Salah seorang salaf yang saleh, Yahya bin Katsir berkata:

“Belajarlah niat (yang ikhlas), karena sesungguhnya ia lebih berat dibandingkan amal.”

Ayyub Rahimahullah berkata, “Mengikhlaskan niat bagi orang yang beramal adalah lebih berat daripada amal perbuatan itu sendiri.”

Betapa tidak berat, ketika kita merasa tata cara kita shalat sudah benar, lalu ketika kita melihat orang lain shalatnya belum benar, maka munculnya rasa angkuh, merasa diri lebih baik daripada orang tersebut, maka di situ keikhlasan kita ternodai.

Ketika kita bisa bersedekah, caranya benar, tetapi keikhlasan bisa saja luntur karena dia niati sedekah itu agar hartanya bertambah.

Ketika kita sudah ngaji ke ustad anu, dan melihat orang lain belum ngaji ke ustad anu tadi, timbul rasa pongah, merasa diri lebih selamat daripada mereka yang belum ngaji ke ustad anu tadi.

Seperti inilah, keikhlasan benar-benar menjadi suatu urusan yang berat, jauh lebih berat daripada amalan itu sendiri.

HAKIKAT IKHLAS
Ikhlas.. Itu bukan rela, seperti orang yang suka rela memberikan sesuatu kepada kita dengan berkata, "Aku ikhlas memberikan ini kepadamu." Iklhas itu juga bukan seperti orang buang hajat yang rela kotorannya disentor tidak kembali lagi.

Ini paradigma yang belum benar. Ikhlas itu berasal dari kata khalasa, yukhlisu, ikhlas yang artinya menjadikan segala sesuatunya bersih dan menghilangkan segala “kotoran” yang menempel. 

Jadi ikhlas itu:

هُوَ تَجْرِيدُ قَصْدالتَّقَرُّبِ إِلَى اللَّه عَنْ جَمِيع َالشّوَائبِ

Memurnikan tujuan bertaqarrub kepada Allah dari hal-hal yang mengotorinya.


هُوَ إِفْرَادُ اللَّه عُزَّوَجَلُّ بِالْقَصْدِ فِي الطَّاعَاتِ

Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam segala ketaatan

هُوَ نِسْيَانُ رُؤْيَة الْخُلُقِ بِدَوَامِ النَّظَرِ إِلَى الْخَالِقِ

Mengabaikan pandangan makhluk dengan cara selalu berkonsentrasi kepada Al-Khaliq (yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala),” 

Seseorang melakukan ibadah puasa karena Allah, lalu dia juga memiliki niat karena selain Allah, bisa karena malu, ingin dilihat calon mertua, atau karena ingin anaknya diterima di sekolah favorit, maka ini bukan disebut ikhlas. Dia baru disebut ikhlas apabila niatnya hanya karena Allah.

Seseorang memberikan iftar atau makanan berbuka puasa karena mendengar hadis, “Siapa saja yang memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tadi tanpa mengurangi pahala puasanya sedikit pun,” tetapi di saat yang bersamaan dia juga memiliki niat yang lainnya, bisa karena ingin masyarakat tahu bahwa dia memberi makan buka puasa, atau karena pencitraan, maka itu bukan ikhlas karena Allah, sehingga amalnya tertolak, sia-sia kerja kerasnya di dunia dan tertunduk hina di akhirat.

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ ۙ

“Pada hari itu banyak wajah yang tertunduk terhina,” [QS. Al-Gasyiyah: 2]

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ ۙ

“(karena) bekerja keras lagi kepayahan,” [QS. Al-Gasyiyah: 3]
تَصلَىٰ نَارًا حَامِيَة ٤
“memasuki api yang sangat panas (neraka).” [QS Al-Ghasiyah: 4]


MERAIH IKHLAS
Ada beberapa cara untuk meraih keikhlasan dan memperbaiki niat:

1. Memperpanjang suatu amalan

Al-Haris bin Qais pernah menjelaskan:

“Bila setan datang kepadamu sementara kamu shalat dan membisikkan pada hatimu: “Engkau telah berbuat riya”, maka  panjangkan shalatmu,” (Lihat Madakhilus Syaithan ‘alas Shalihin 11-27).

2. Hindari menyebut diri sendiri sudah ikhlas
Para salaf yang saleh sangat antipati dengan menyebut diri mereka sudah ikhlas. Hisyam Ad-Dastuwai Rahimahullah misalnya, beliau pernah berkata:

“Saya bersumpah demi Allah, saya tidak pernah bisa mengklaim bahwa saya (meskipun hanya sekali) menghadiri majelis hadis untuk mempelajari ilmu secara murni karena Allah.”

Tahukah kita siapa Hisyam Ad-Dastuwai ini? Imam Syi'ah bin Al-Hajjaj, seorang ulama hadis dan qiraah berkata tentang Hisyam tadi:

"Saya tidak mengenal ada seorang pun yang menghadiri majelis hadis untuk mempelajari ilmu secara murni karena Allah kecuali Hisyam Ad-Dastuwai.”

Ulama lain, Shaath bin Fayyadh berkata tentang Hisyam, "Hisyam menangis begitu keras sampai dia kehilangan penglihatannya."

Orang yang ikhlas, adalah orang yang tidak mengatakan kepada orang lain kalau dirinya ikhlas. Seperti halnya seseorang ditanya tentang niatnya berbuat sesuatu, kemudian dia mengatakan, “Saya ikhlas tadi.” maka di situ keikhlasannya luntur, karena dia ingin membuktikan sesuatu kepada manusia.

Maha benar Allah yang berfirman:

قُلْ هَلْ نُـنَبِّئُكُمْ بِالْاَخْسَرِيْنَ اَعْمَالًا    ؕ

Katakanlah (Muhammad), "Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?" [QS. Al-Kahf: Ayat 103]

اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya,” [QS. Al-Kahf: Ayat 104]

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata menjelaskan ayat ini:

“Sesungguhnya makna ayat ini bersifat umum mencakup semua orang yang menyembah Allah bukan melalui jalan yang diridai. Orang yang bersangkutan menduga bahwa jalan yang ditempuhnya benar dan amalnya diterima, padahal kenyataannya dia keliru dan amalnya ditolak.”

3. Menyembunyikan Amal
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً    ؕ  اِنَّه لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ  ۚ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” [QS. Al-A'raf: 55]

Ibnu Jarir Rahimahullah berkata menjelaskan makna Khufyah:

“Hati yang khusyuk, penuh keyakinan kepada Keesaan dan Kekuasaan-Nya terhadap semua yang ada antara kalian dan Dia, bukan dengan suara yang keras untuk pamer.”

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata:

“Sesungguhnya kita sekarang menjumpai banyak orang yang tiada Suatu amal pun di muka bumi ini mereka mampu mengerjakannya secara tersembunyi, tetapi mereka mengerjakannya dengan terang-terangan. Padahal sesungguhnya kaum muslim di masa lalu selalu berupaya dengan keras dalam doanya tanpa terdengar suaranya selain hanya bisikan antara mereka dan Tuhannya.”

4. Menghindari Pujian dan Sanjungan
Banyak orang binasa karena takut celaan manusia, senang dipuji, hingga tindak- tanduknya menuruti keridhaan manusia, mengharapkan pujian dan takut terhadap celaan mereka. Padahal yang seharusnya diperhatikan adalah, hendaknya kita bergembira dengan keutamaan dan rahmat dari Allah, bukan dengan pujian manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmatNya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [Yunus : 58].

Ibrahim bin Adham berkata: “Tidaklah tulus kepada Allah, orang yang mencintai ketenaran” (Hilyatul Aulia, 8/19).

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Allahumma anta a’lamu minni bi nafsiy, wa anaa a’lamu bi nafsii minhum. Allahummaj ‘alniy khoirom mimmaa yazhunnuun, wagh-firliy maa laa ya’lamuun, wa laa tu-akhidzniy bimaa yaquuluun.

[Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876. Lihat Jaami’ul Ahadits, Jalaluddin As Suyuthi, 25: 145, Asy Syamilah)

5. Berdoa kepada Allah, Meminta Perlindungan dari Syirik Niat

Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan banyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:

« اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ »

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

6. Menghindari Sikap Bangga dengan Amalan Kita
Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”.

Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”.

Beliau menjawab, “seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap adzab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu, sedangkan ada seseorang yang dia beramal kebaikan, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.”

7. Takut Kalau Amalnya tidak Diterima Allah
Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Mu’minun: 60)


Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut, (Tafsir Ibnu Katsir ).

0 komentar:

Post a Comment