Khutbah Jumat Agustus 2016: Menumbuhkan Kesadaran Pentingnya Salat Berjamaah dan Langkah Praktisnya


Oleh Irfan Nugroho
Khutbah Pertama:

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Ma’asyiral-Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita selalu memelihara ketakwaan kepada Allah Ta’ala, dan marilah kita selalu berusaha menjaga shalat, baik shalat yang wajib maupun yang sunnah.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan kenikmatan yang begitu banyak untuk kita, terutama nikmat Islam dan nikmat iman. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga, sahabat, serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Ma’asyiral-Muslimin rahimakumullah,
Suatu hari, Rasulullah pernah ditemui oleh seseorang yang mengalami kebutaan pada kedua matanya. Sahabat yang buta ini berkata kepada Rasulullah :

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ

“Yaa Rasulullah...! Saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid (untuk melakukan salat berjamaah)," (HR Muslim).

إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ

“Sedangkan di Madinah (di Kota) ada banyak hewan buas dan binatang berbisa,” (HR Abu Dawud dan An-Nasai. Al-Albani: Hasan).

Sahabat Abu Hurairah menjelaskan bahwa sahabat yang buta itu ingin meminta keringanan kepada Rasulullah , agar dirinya diberi izin untuk melaksanakan salat di rumah saja, tidak harus pergi ke masjid.

Menanggapi perkataan sahabat yang buta itu tadi, Rasulullah lantas bertanya:

هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ

“Apakah kamu mendengar Hayya ‘Alash Shalaah! Hayya ‘Alal Falaah! (Mari melaksanakan salat! Mari meraih kebahagiaan)?” (HR An-Nasai).

Maka sahabat yang buta itu menjawab, “Iya, ya Rasulullah.” Maka Rasulullah bersabda:

فَحَيَّ هَلًا فَأَجِبْ

“Maka sambutlah seruan itu. Penuhilah panggilan tersebut!” (HR Muslim & An-Nasai).

Jamaah sidang Salat Jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala...

Ada yang memanggil sahabat yang buta itu dengan nama Amr bin Qais, atau Umar bin Qais, atau lebih dikenal juga dengan Ibnu Ummi Maktum Radhiyallahuanhu setelah Rasulullah mengganti namanya menjadi Abdullah.

Meskipun dia adalah seseorang yang mengalami kebutaan pada kedua matanya, tetapi mata hatinya tidak mengalami kebutaan.

Hal ini terbukti bahwa setelah dirinya tidak mendapat izin dari Rasulullah , sahabat yang buta ini tidak pernah terlambat untuk melaksanakan salat secara berjamaah. Bahkan, sahabat yang buta ini kemudian menjadi salah satu dari dua muazin Nabi Muhammad bersama Bilal bin Rabbah Radhiyallahuanhu.

Bersama Bilal bin Rabbah, sahabat buta Abdullah bin Ummi Maktum Radhiyallahuanhu berbagi tugas untuk mengumandangkan seruan azan. Bilal bin Rabbah mengumandangkan azan pertama untuk salat tahajud, lalu Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan azan kedua apabila waktu subuh telah tiba.

Jamaah sidang salat jumat yang semoga dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala...

Ada banyak pelajaran yang bisa kita petik dari potongan kisah Abdullah bin Ummi Maktum di atas. Para ulama sering menggunakan hadis tersebut untuk menjelaskan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat ke-43:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ ٤٣

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku´lah beserta orang-orang yang ruku,” (QS Al-Baqarah: 43).

Menjelaskan hadis tersebut di dalam Syarah Riyadhus Shalihin, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:

“Shalat berjamaah adalah wajib atas semua orang Islam yang mampu mencapai masjid dan mendengar azan. Shalat berjamaah juga wajib atas semua orang Islam, termasuk mereka mengalami kebutaan, sehingga kebutaan tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak datang menghadiri salat berjamaah.”

Kalau orang yang buta saja tidak diizinkan untuk tidak salat berjamaah, maka sudah barang tentu, kita yang kedua matanya sehat, yang kedua kakinya sehat, dan tidak terguling sakit di pembaringan, adalah lebih wajib untuk mendatangi salat secara berjamaah di masjid-masjid Allah.

Rasulullah bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa mendengar seruan adzan tapi tidak mendatanginya, maka tidak sempurna shalatnya itu kecuali harus di masjid, atau kalau dilaksanakan di rumah, itu harus karena halangan yang diperbolehkan di dalam syariat,” (HR Ibnu Majah: 793. Al-Albani: Sahih).

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua:
أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَنَا مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ:
Ma’asyiral-Muslimin rahimakumullah,
Setelah menyadari bahwa salat berjamaah adalah perkara yang sangat penting, maka tugas kita selanjutnya adalah menyeru kepada keluarga kita, dan orang-orang yang berada di bawah kekuasaan kita untuk melaksanakan salat secara berjamaah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡهَاۖ ١٣٢

Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya,” (QS Thaha: 132).

Rasulullah bersabda:

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin,” (Muttafaqun alaihi).

Maka dari itu setiap ayah atau bapak yang beragama Islam, wajib untuk:

1. Melaksanakan salat secara berjamaah di masjid-masjid yang ada,

2. Memerintahkan anggota keluarganya, apalagi kepada anak-anak mereka yang laki-laki untuk melaksanakan salat secara berjamaah

3. Mengajak tetangga mereka, teman-teman kerja mereka, untuk pergi ke masjid melaksanakan salat secara berjamaah.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبِّنَا اجْعَلْنَا مُقِيمَ الصَّلَاةَنَا وَمِنْ ذُرِّيَّتَنَا رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

0 komentar:

Post a Comment