Adab-Adab Mengunjungi Orang Meninggal untuk Menghibur (Takziah/Layatan)


Oleh Syekh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-Tuwaijiri
Di antara adab-adab takziah, atau melayat, atau mengunjungi keluarga orang yang meninggal untuk menghibur adalah:

1. Disunahkah takziah kepada orang yang berduka karena ditinggal mati (saudara, kerabatnya) sebelum dimakamkan dan setelahnya. Seorang muslim mengatakan kepada keluarganya yang ditinggal si mayat:

“Sesungguhnya milik Allah-lah apa yang diambil-Nya, milik-Nya apa yang dia berikan. Setiap sesuatu telah ditentukan ajalnya, maka bersabarlah dan berharaplah akan pahalanya,” (Muttafaq Alaih. Bukhari: 7377 dan Muslim: 923).

Juga mendoakan yang meninggalkan dunia dan keluarganya:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لأَبِي فلان وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ ‏.‏ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Allahummaghfir Liabi Fulaan Warfa' Darajatahu Fil Mahdiyyiin Wakhlufhu Fi 'Aqibihi Fil Ghaabiriin, Waghfir Lanaa Walahu Yaa Rabbal 'Alamiin, Wafsah Lahu Fii Qabrihi Wa Nawwir Lahu Fiihi

Ya Allah, ampunilah Bapak Si Fulan, tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah dia di dalam kuburnya,” (HR Muslim: 920).

2. Disunahkan menghibur (takziah) keluarga si mayat, dan tidak ada batasan waktunya. Menghibur dilakukan dengan hal-hal yang dapat menghibur dan menghilangkan kesedihannya, juga mendorong mereka untuk bersabar dan ridha dalam batasan-batasan syariat yang disertai dengan doa bagi si mayat dan keluarganya.

3. Takziah boleh dilakukan di semua tempat, baik di kuburan, pasar, tempat salat, masjid, rumah, dan boleh berkumpul dengan keluarga mayat di rumah atau tempat lain dengan maksud untuk menghibur, kemudian setelah itu barulah pergi.

4. Keluarga mayat tidak boleh mengkhususkan suatu pakaian dalam rangka berkabung seperti warna hitam, karena yang demikian menunjukkan kebencian terhadap qada dan qadar Allah.

5. Boleh bertakziah kepada orang kafir tanpa mendoakan si mayat, jika kondisi mereka tidak menampakkan permusuhan kepada Islam dan kaum Muslimin.

6. Disunahkan untuk membuat atau mengirim makanan kepada keluarga mayat. Keluarga mayat makruh membuat makanan yang disuguhkan untuk orang-orang yang melayat dan dimakruhkan berkumpul untuk tujuan makan-makan.

7. Boleh menangis atas kematian seseorang jika tidak disertai niyahah (ratapan), dan diharamkan menyobek baju, menampar pipi, berteriak-teriak, dan semisalnya. Mayat disiksa (kesakitan) di dalam kuburnya jika diratapi. Ini sesuai dengan sabda Nabi :

Dari Abdullah bin Ja’far Radhiyallahuanhu, bahwa Rasulullah membolehkan bersedih kepada keluarga Ja’far sampai tiga hari dan menunda mengunjungi mereka. Kemudian beliau mendatangi mereka dan bersabda:

لَا تَبْكُوا عَلَى أَخِي بَعْدَ الْيَوْمِ ثُمَّ قَالَ ادْعُوا لِي بَنِي أَخِي فَجِيءَ بِنَا كَأَنَّا أَفْرُخٌ فَقَالَ ادْعُوا لِي الْحَلَّاقَ فَأَمَرَهُ فَحَلَقَ رُءُوسَنَا

“Setelah ini, janganlah kalian menangisi saudaraku." Setelah itu beliau bersabda: "Undanglah kemari bani saudaraku." kami lalu dihadapkan kepada beliau layaknya anak-anak ayam, beliau lantas bersabda: "Panggilkan tukang cukur kepadaku." Beliau lalu memerintah tukang tukur itu (untuk mencukur), hingga kami semua dicukur olehnya,” (HR Abu Dawud)

Juga di dalam sabda Nabi :

مَنْ نِيحَ عَلَيْهِ يُعَذَّبُ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang meratapi mayat maka mayat itu akan disiksa disebabkan ratapan kepadanya,” (HR Bukhari).

Wallahu’alam bish shawwab

Sumber:

At-Tuwaijiri, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah. 2012. Ensiklopedi Islam Al-Kami. Jakarta Timur: Darus Sunnah Press. Hal: 771-772

0 komentar:

Post a Comment