Membajak (Nge-Hack) Situs-Situs Anti-Islam


Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Oleh karena saya sering mencari gambar-gambar Islam di Google untuk situs saya, saya sering melihat situs-situs antiislam. Kemarin, saya menemukan sebuah situs dan menurut saya, itulah situs yang paling keras dan paling banyak memfitnah agama Islam dan Rasulullah . Saya sangat marah terhadap semua dusta di situs itu dan saya mengirimkan tautan situs itu kepada teman lalu saya memintanya agar situs itu dibajak (di-hack).

Saya tidak tahu apakah perbuatan saya ini boleh atau haram. Tetapi apa yang membuat saya shocked adalah bahwa hanya satu orang yang merasa marah dengan situs tersebut. Orang lain bereaksi dengan santai dan tidak menggubris sama sekali. Mereka bilang, “Allah adalah Pembuat makar yang paling baik,” jadi kita harus bersikap sabar.

Benar, dan saya juga menanggapinya seperti itu, tetapi bukan berarti kita bisa duduk-duduk terus dan berdiam diri melihat orang-orang kafir menghina Rasulullah dan agama Islam.

Tentu kita tidak bereaksi dengan kekerasan yang bisa membahayakan orang-orang yang tidak bersalah, tetapi harus ada cara lain untuk menghentikan dusta-dusta tentang Allah dan Rasulullah .

Sayang, mereka tidak memahaminya. Mereka tidak marah. Mereka tidak terkejut. Mereka tidak menggubris dan tak satu pun dari mereka yang turut serta dengan saya untuk mencari cara menghentikan kejahatan yang disebarkan oleh situs tersebut.

Sekarang pertanyaan saya:

“Saya tidak setuju dengan membajak (hack) atau mencuri informasi privasi dari orang-orang, tetapi apakah Islam membolehkan membajak situs untuk menghentikan kebohongan mereka tentang Islam. Atau, apakah saya telah berdosa dan harus bertaubat? Bolehkah seorang Muslim untuk tidak merasa marah, kecewa, atau cemburu ketika melihat fitnah seperti itu? Apakah saya salah dengan merasa marah? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Jawaban oleh Tim Fatwa IslamWeb, diketuai oleh Syekh Abdullah Faqih Asy-Syinqitti
Segala puji bagi Allah, Raab semesta alam. Saya bersaksi bahwa tiada Illah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.

Sungguh, Anda telah bertindak benar dengan merasa marah ketika ajaran-ajaran Islam dilanggar dan secara Islam, perbuatan seperti itu memang diperlukan. Sungguh, itu adalah tanda kebaikan pada diri seseorang.

Allah berfirman:

ذَٰلِكَۖ وَمَن يُعَظِّمۡ حُرُمَٰتِ ٱللَّهِ فَهُوَ خَيۡرٞ لَّهُۥ عِندَ رَبِّهِۦۗ ٣٠

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya,” (QS Al-Hajj [22]: 30).

Rasulullah juga terbiasa marah ketika batasan-batasan Allah dilanggar. Anas bin Malik Radhiyallahuanhu meriwayatkan:

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah melakukan balas dendam untuk dirinya dalam berbagai hal kecuali jika batasan-batasan Allah dilanggar. Jika salah satu batasan Allah dilanggar, beliau adalah orang yang paling merasa marah demi Allah,” (HR Thabrani).
================
Baca juga:
================
Tentang merusak situs-situs yang ada di Internet, yang menyerang Islam, yang menghina Islam, yang menyeru pada fitnah dan dusta terhadap Islam, maka perbuatan tersebut adalah sesuatu yang diperlukan dan merupakan sebuah tindakan yang sah (secara Islam) dan diridhai.

Meski demikian, perbuatan tersebut harus didasarkan pada pertimbangan maslahat (keuntungan) dan madharat (kerugian) sebagai akibat dari perbuatan tersebut. Jadi, jika mungkin untuk melakukannya tanpa harus menyebabkan kejahatan yang lebih besar, maka seseorang harus melakukannya. Juga, kesalahpahaman yang diunggah oleh situs-situs tersebut juga bisa dihadapi dengan membantahnya lewat situs-situs Islam.

Wallahu’alam bish shawwab..

Fatwa: 179907
Tanggal: 1 Rajab 1433 (22 Mei 2012)
Penerjemah: Irfan Nugroho (Staf pengajar di Pondok Pesantren Tahfidzul Quran At-Taqwa Sukoharjo)
Sumber: http://www.islamweb.net/emainpage/index.php?page=showfatwa&Option=FatwaId&Id=179907

0 komentar:

Post a Comment