Kenapa ya Islam bisa terus Berjaya di Dunia Modern?

Sumber: PewForum

Pertanyaan:
Kenapa ya Islam bisa terus Berjaya di Dunia Modern?

Jawaban oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid
Alhamdulillah.
Islam bisa terus berjaya di dunia modern, juga di mana saja, karena seruannya itu sejalan dengan fitrah dan kecenderungan alamiah umat manusia, juga karena agama Islam itu menyeru kepada nilai-nilai kemanusiaan yang paling baik, seperti toleransi, cinta, kasih sayang, kejujuran dan ketulusan.

Islam mendidik manusia, serta mengangkat derajat mereka dengan perilaku yang baik, akhlak yang baik serta budi pekerti yang luhur. Seruannya itu berbeda dari (seruan agama) lain karena realistis, seimbang dan moderat. Islam memerhatikan (hak-hak) jiwa dan raga. Islam tidak mengekang keinginan fisik, juga tidak membiarkan kebutuhan fisik bebas semaunya sendiri. Inilah yang membedakan antara “kencenderungan alamiah” (fitrah) dengan menikmati kesenangan dunia berdasarkan hawa nafsu yang dilarang, yang (di dalam Islam) termasuk kebejatan dan perbuatan tercela.

Orang memeluk Islam karena mereka menemukan rasa aman, nyaman, dan damai di dalamnya. Mereka melihat adanya penawar terhadap segala urusannya, dan karenanya, mereka mampu menghilangkan rasa bimbang, khawatir, dan hilang.

Islam adalah agama fitrah, yaitu kencederungan dan pola hidup alamiah yang telah Allah ciptakan kepada manusia. Oleh karena alasan itulah, manusia yang memiliki pikiran yang bersih dan kecenderungan terhadap kebaikan akan memeluk Islam, seperti yang diutarakan oleh Abu Hurairah Radhiyallahuanhu:

Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ ( أي على الإسلام ) فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أوَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ ( أي تولد كاملة لم يذهب من بدنها شيء ) هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ( مقطوعة الأذن ) ،

Tak ada satu pun anak yang terlahir kecuali dalam keadaan fitrah (Islam), kemudian orang tua merekalah yang membuatnya Yahudi, Kristen, atau Majusi (Penyembah Api/Syiah), seperti binatang yang menghasilkan binatang lainnya (maksudnya binatang itu terlahir dalam keadaan sempurna tanpa ada satu pun jasadnya yang hilang). Apakah kamu pernah menemui binatang itu terlahir dengan telinga terpotong?”

Lalu Abu Hurairah Radhiyallahuanhu membaca firman Allah:

فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

“....tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; (QS Ar-Ruum: 30),” (HR Bukhari: 1359).

Yang dimaksud adalah bahwa Allah itu menciptakan umat manusia dengan kemampuan untuk mempelajari kebenaran, menerima Tauhid (satu Tuhan), dan tunduk kepada Allah. Manusia itu secara alamiah cenderung untuk mempelajari Islam dan mencintainya, tetapi karena adanya pendidikan yang buruk, lingkungan yang tidak beriman, masyarakat yang menuruti hawa nafsu serta bisikan setan dari kalangan jin dan manusialah yang membuat manusia itu menjauh dari kebenaran.

Umat manusia itu pada dasarnya cenderung kepada Tauhid, seperti yang disabdakan oleh Rasululllah dalam sebuah hadis Qudsi:

 إني خلقت عبادي حنفاء كلهم , فاجتالتهم الشياطين عن دينهم

“Aku (Allah ) menciptakan semua hambaku sebagai ‘hunafa’ (murni dalam keadaan bertauhid). Tetapi setanlah yang memalingkan mereka dari agama mereka,” (HR Muslim).

Oleh karena itu, orang yang kembali menjadi Muslim setelah kafir disebut “mualaf”, karena istilah tersebut dirasa lebih tepat daripada “memeluk.” Ketika Islam memasuki suatu negara, di mana di dalamnya tidak ada rasa ashobiyah (nasionalisme atau rasa cintai berdasarkan teritorial wilayah) atau bekas-bekas peninggalan jahiliah, ia menyebar begitu cepat karena kekuatannya dan karena minimnya hambatan yang harus dihadapi.

Anda juga bisa melihat bahwa Islam itu cocok untuk semua manusia, baik yang berpendidikan ataupun yang tidak, pria ataupun wanita, tua ataupun muda. Semua orang bisa menemukan apa saja yang ia inginkan dan perlukan (di dalam Islam).

Mereka yang menjadi Muslim di negara-negara berkembang, mereka sadar betul tentang apa-apa yang telah diperbuat kepada mereka oleh peradaban dan perundang-undangan yang ada di negaranya; karena hukum-hukum tadi adalah sesuatu yang dibuat manusia berdasarkan hawa nafsu.

Mereka sadar tentang sejauh mana kesengsaraan yang dialami oleh orang-orang yang hidup di negara berkembang. Mereka melihat bagaimana penyakit kejiwaan, gangguan saraf, gila, bunuh diri, begitu nyata di tengah kemajuan teknologi dan berbagai penemuan modern dan sistem manajemen yang mutakhir.  

Ini terjadi karena semua itu hanya didasarkan pada kebutuhan fisik dan lahiriah, dengan mengesampingkan kebutuhan ruhani, selain karena kegagalan mereka untuk menata dan membina hati dan jiwa mereka.

Allah berfirman tentang orang-orang seperti ini:

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ ٧

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai,” (QS Ar-Ruum: 7).

Islam akan terus berjawa, in sya Allah, selama mereka yang berjuang untuk Islam senantiasa ikhlas (karena Allah ), juga selama para pemeluknya tetap beriman, setia kepada ajarannya, dan menerapkan hukum-hukumnya.

Fakta bahwa ada di antara mereka yang tidak berkomitmen terhadap ajaran Islam atau masih bermaksiat (meski telah memeluk Islam), tidak akan menghambat agama Islam ini untuk terus maju dan berjaya, in sya Allah, dan tak ada satu pun yang bisa merusak keindahannya.

Cahayanya tak akan redup karena segelintir orang yang meninggalkannya atau gagal untuk terus setia terhadap ajarannya. Apa yang telah diberikan Islam kepada kemanusia terkait kemajuan dan peradaban, yang mengangkat mereka dari kegelapan tirani dan permusuhan sudahlah cukup (untuk dijadikan sebagai bukti).

Sumber:
http://islamqa.info/ar/3143

Penerjemah:
Irfan Nugroho

0 komentar:

Post a Comment