Keluarga Mulia adalah Keluarga yang Memuliakan Syariat


Oleh Ust Tri Asmoro Kurniawan

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan," [QS. Al-Isra': 70].

Allah menjelaskan bagaimana Dia memuliakan anak Adam dan menciptakan mereka dengan bentuk terbaik dan sempurna. Manusia berjalan dengan dua kaki, makan dengan tangan, sedang ciptaan lain berjalan dengan empat kaki dan makan secara langsung dengan mulut.

Inilah yang dimaksud firman Allah:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِىْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ

"sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya," [QS. At-Tin: 4].

Juga di dalam firmanNya yang lain:

هُوَ الَّذِىْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّـفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ اِلَيْهَا‌  ۚ فَلَمَّا تَغَشّٰٮهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيْفًا فَمَرَّتْ بِهٖ‌  ۚ فَلَمَّاۤ اَثْقَلَتْ دَّعَوَا اللّٰهَ رَبَّهُمَا لَٮِٕنْ اٰتَيْتَـنَا صَالِحًا لَّـنَكُوْنَنَّ مِنَ الشّٰكِرِيْنَ

"Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur," [QS. Al-A'raf: 189].

Bahkan sebelum lahir, manusia sudah seharusnya dimuliakan, mulai dari berdoa sebelum berjima, merawat kandungannya, dan lain sebagainya.

Pemuliaan terhadap manusia juga terus berlanjut ketika si bayi lahir, hingga dewasa dan seterusnya. Nah, untuk menjaga kemuliaan manusia ini maka Allah menciptakan seperangkat aturan Ilahi berupa Syariat Islam.

Jadi, kita harus menjaga kemuliaan ini dengan mempraktikkan ilmu-ilmu yang kita pelajari dari Islam itu.

Maka, kebutuhan manusia untuk bisa beribadah kepada Allah adalah kebutuhan yang tidak bisa dibandingkan dengan kebutuhan apapun.

Pengamalan syariat inilah yang membuat seorang manusia menetapi fitrahnya yang lebih mulia bahkan daripada malaikat, persis seperti firman Allah:

وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا

"...dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan," [QS. Al-Isra': 70].

Pun demikian dalam kehidupan keluarga, semua diatur oleh perangkat aturan Allah yang bertujuan memuliakan manusia sesuai fitrahnya, mulai dari pertimbangan syar'i memilih calon istri/suami, berjima, mandi junub, wirid ibu hamil dll.

Tujuan utama syariat Islam bukan untuk memberatkan manusia, tetapi memberi tahu manusia aturan agar manusia tidak merugi hidup di dunia dan akhirat, cara mencapai kebaikan, meskipun mungkin terasa berat dan sulit, maka itu bukan tujuan melainkan konsekuensi atau proses.

Ibnu Qayyim berkata, "Syariat Allah adalah penyejuk mata, penentram batin, obat jiwa, petunjuk kehidupan, rahmat. Allah juga menyebut syariat sebagai beban, tetapi dalam konteks negatif seperti di dalam QS Al-Baqarah-286:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَاَ

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya," [QS. Al-Baqarah: 286].

Alkisah dulu seorang akhwat karier mengeluhkan suaminya yang menganggur kepada Ust Tri Asmoro. Setelah cerita ini itu dan lain sebagainya, Ust Tri Asmoro meminta si akhwat tadi untuk menceraikan suaminya. Tetapi, ia lebih menunggulkan perasaan daripada syariat. Akhwat itu enggan bercerai karena kasihan kepada anak, meski secara syar'i, ia telah menyimpang (ia bekerja di luar rumah, suaminya di dalam rumah).

Lima tahun kemudian, si akhwat ini menghubungi Ust Tri Asmoro yang mengeluhkan tentang anak-anaknya yang kini justru lebih dekat kepada ayahnya daripada kepada ibunya. Si ayah yang memasak, mengupas buah dan menyuapi anak-anaknya, mereka menonton TV bersama, tetapi ketika si ibu pulang dan ngomel-ngomel tentang hal tersebut, maka anak-anaknya pun membalas, "Ibu ini seperti ustazah aja! Tiap datang ke rumah hanya merusak suasana saja!"

Akhwat itu kemudian mengaku menyesal kenapa tidak sejak dulu menuruti syariat.

Sungguh, kunci keluarga yang mulia adalah keluarga yang memuliakan syariat Allah, bukan yang memuliakan perasaan (hawa nafsu), persis seperti firman Allah:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًا

"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya," [QS. Fatir: 10].

Sukoharjo, 04 Oktober 2015

Peringkas

Irfan Nugroho
Staf pengajar Bahasa Inggris di Ponpes Tahfidzul Quran At-Taqwa Nguter, Sukoharjo.

0 komentar:

Post a Comment