Resensi Buku: Trilogi Revolusi Islam di Tanah Jawa - Walisongo (buku satu)

Oleh Irfan Nugroho
Walisongo adalah sebuah dewan dakwah, semacam organisasi dakwah, kepanjangan tangan dari Khilafah Turki Ustmani, yang anggotanya dibatasi sembilan ulama.

Walisongo sendiri terdiri atas enam angkatan, dengan angkatan pertama adalah resmi utusan Khilafah Turki Ustmani, yang kesemuanya adalah ulama berkebangsaan Arab.

Walisongo angkatan pertama dipimpin oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim, Syeikh Maulana Ishaq, Syeikh Maulana Malik Kubro (wilayah dakwah Jawa Timur), Syeikh Subakir, Syeikh Maulana Maghrib (Jawa Tengah), dan Syeikh Maulana Malik Israil, Syeikh Ali Akbar, Syeikh Maulana Hasanuddin, san Syeikh Maulana Aliyuddin (Jawa Barat).

Tahun 1419M, Syeikh Maulana Malik Ibrahim mangkat dan digantikan oleh Sunan Ampel yang langsung didapuk sebagai ketua Walisongo angkatan kedua. Begitulah seterusnya hingga angkatan keenam, yakni ketika satu ulama mangkat, maka diganti ulama baru.

Sunan Kalijogo sendiri masuk sebagai anggota Walisongo pada angkatan keempat. Praktis ia tidak pernah bertemu dan berguru langsung kepada Syeikh Maulana Malik Ibrahim.

Maka wajar jika saat itu, Sunan Kalijogo memperkenalkan metode dakwah yang dirasa baru dan keluar dari pakem sebelumnya, yakni menggunakan adat serta tradisi sekitar untuk menarik masyarakat sekitar agar sebatas mau masuk Islam dan mengucapkan Syahadat Ain.

Seperti itulah corak pemikiran beliau. Di dalam benaknya, yang penting masyarakat saat itu masuk Islam dulu. Beliau mentolerir objek dakwahnya yang telah brrsyahadat melakukan kebid'ahan selama itu adalah bid'ah ghairu mukafirah (inovasi dalam ritus peribadatan yang tidak membatalkan Islam).

Ide beliau sebenarnya bukan ijma' (konsensus), atau tidak mendapat restu, dari beberapa anggota Walisongo angkatan keempat.

Sunan Ampel yang masih menjabat sebagai ketua Walisongo angkatan keempat - bahkan beliau menjadi ketua sejak angkatan kedua dan berguru langsung pada Syeikh Maulana Malik Ibrahim - menolak keras ide Sunan Kalijogo.

Beliau (Sunan Ampel) khawatir kalau-kalau metode (wasilah) dakwah Sunan Kalijogo tersebut justru dianggap sebagai ajaran (syariat) ritus peribadatan Islam di masa mendatang (kekhawatiran beliau pun menjadi wujud di masa ini, yakni ketika wasilah (sarana) dakwah justru dianggap sebagai bagian dari Fikih (ilmu tentang ritus peribadatan dalam Islam).

Sama halnya dengan Sunan Giri. Beliau juga mengaku resah dengan metode dakwah Sunan Kalijogo yang hendak mengubah keadaan masyarakat Jawa Tengah yang masih akrab dengan sisa-sisa ajaran Budha Majapahit. Akan tetapi, Sunan Giri - yang terkenal paling keras pendiriannya dalam urusan diin, akhirnya mengijinkan Sunan Kalijogo untuk menjalankan program dakwahnya tersebut, dengan syarat bahwa generasi Walisongo selanjutnya harus mampu menjelaskan bahwa pemasukan unsur-unsur adat dan tradisi peninggalan Hindu-Buddha tersebut hanya semata wasilan (sarana), bukan bagian dari ritus peribadatan Islam.

Akhirnya, dewan dakwah Walisongo itu berakhir pada generasi keenam, dengan anggota; Sunan Giri (ketua), Sunan Ampel, Sunan Mbonang, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati, Sunan Drajad, Sunan Kalijogo, Sunan Muria, dan Sunan Pandanaran.

PR yang diwasiatkan oleh Sunan Giri ternyata belum mampu dituntaskan oleh Walisongo angkatan kelima dan keenam (masa ketika Sunan Giri menjadi ketuanya). Wallahu'alam bish shawwab.

Catatan dari Bedah Buku "Trilogi Revolusi Islam di Tanah Jawa - Walisongo (buku satu)" karya Rachmad Abdullah, S. Si., M. Pd.

0 komentar:

Post a Comment