Dua Ayat Sebagai Pondasi Bangunan Keluarga atau Masyarakat Islami

Oleh Syeikh Abdullah Azzam
Dua ayat saja di dalam Surat Al Hujurat yang menunjukkan makna yang dalam pada kehidupan manusia.  Bagaimana manusia membangun masyarakat Islam? Bagaimana seseorang itu hidup di tengah-tengah masyarakat muslim yang ditegakkan di atas landasan mahhabah (kecintaan), yang dipertalikan di atas landasan mawaddah (kasih sayang)?

Jika harakah Islamiyah tidak mengikuti sistem ini, dan tidak menjadikannya sebagai manhaj (khususnya dua ayat itu) maka tidak akan wujud suatu masyarakat muslim dan tidak akan wujud suatu Harakah Islamiyah, tidak akan sampai sasarannya serta tujuannya di persada bumi untuk selamanya.

Sesungguhnya hubungan diantara orang muslim dengan muslim yang lain, tegak di atas landasan mahabbah.  Maka dari itu, jika Baitul Muslim (rumah tangga muslim) yang jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari-jari tangan, jika harakah Islamiyah yang jumlah anggotanya tidak lebih dari seratusan atau seribuan personil, jika masyarakat muslim yang membentuk inti-inti kehidupan bagi seluruh alam, hendak berdiri tegak di atas pondasi yang kokoh dan menancapkan kemapanannya di muka bumi secara mendalam, maka mereka harus beriltizam pada dua ayat tersebut.

Jika keluarga muslim tidak memperhatikan dua ayat tersebut, maka keluarga tersebut akan berubah menjadi persekutuan ekonomi, bahkan terkadang tanpa mendapatkan bayaran. Semua menjalankan peranannya dengan berat hati karena kejemuan telah melanda dan kebosanan telah mematikan semangatnya.  Semua berangan-angan untuk mendapatkan waktu yang tepat untuk melepaskan diri dari kehidupan yang menjemukan tersebut.

Demikian juga halnya, jika Harakah Islamiyah tidak memperhatikan dua ayat tersebut, mereka akan berubah menjadi perkumpulan ekonomi, yang tidak mempunyai modal serta tidak memberikan gaji kepada personelnya. Masing-masing personel menjalankan peran yang dibebankan di pundaknya dengan berat hati, dan merasa tanggung jawab yang terletak di pundaknya itu bagaikan gunung. Mereka merasa da’wah yang dikerjakan, bagaikan pelepas nyawa yang akan membinasakan kehidupan serta mengancam kemapanannya.

Tidak mungkin bagi Harakah Islamiyah dan rumah tangga muslim senantiasa hidup dalam keadaan demikian dan terus menerus demikian, pasti para personelnya akan terlepas satu demi satu, para anggota akan tercerai berai, pertemuannya tercabik-cabik dan mereka akan hilang tiada bekas.

Dua ayat mulia ini adalah:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًۭا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌۭ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًۭا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat : 12)


Sedangkan satu ayat yang lainnya telah tercantum pada pembukaan, yakni surat Al Hujurat ayat 11, yang mengandung tiga inti persoalan yaitu larangan mencela, larangan memperolok-olok, serta larangan panggil memanggil dengan gelaran yang buruk.

0 komentar:

Post a Comment