Jihad sebagai Pondasi Pokok dalam Pendidikan Karakter Islami ala Nabi

Oleh Sheikh Abdullah Azzam
Jihad adalah yang melindungi agama ini dan penyebarannya. Jihad (harus) menjadi asas terbesar sebagai landasan setiap harakah. Harakah Islamiyah apa saja yang tidak menjadikan jihad sebagai orientasinya, maka wajib bagi seseorang untuk meninggalkannya dan menyatakan dengan terang-terangan bahwa harakah tersebut hanyalah gerakan omong kosong belaka.

Jihad di dalam Islam dibangun di atas beberapa asas, di antaranya adalah zuhud terhadap dunia. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepada sahabat :

ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ” ‏(‏‏(‏حديث حسن رواه ابن ماجه وغيره بأسانيد حسنة‏)‏‏)‏‏.‏

Zuhudlah kamu terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan zuhudlah kamu atas sesuatu yang menjadi milik manusia, niscaya orang-orang akan mencintaimu,” (HR Ibnu Majah: 4102, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir: 292).

Demikian pula, jihad itu dibangun atas asas tawakal. Di dalam surat Al Fatihah yang kita baca tujuh belas kali dalam sehari semalam, di dalamnya terdapat ayat :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan,” (QS Al-Fatihah: 05).

Ibnul Qayyim mengatakan: “Ad Dien itu ada dua macam, yakni ibadah dan isti’anah atau inabah/minta ampunan dan tawakal.” Tatkala Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam melihat alat bajak di depan pintu rumah seorang Anshar, padahal waktu itu beliau hendak bertempur melawan kaum Quraisy, maka beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ هَذَا بَيْتَ قَوْمٍ إِلاَّ أُدْخِلَهُ الذُّلُّ

Tidaklah benda ini masuk ke dalam rumah suatu kaum kecuali ia akan memasukkan pula kehinaan ke dalamnya,” (HR Bukhari: 2321).

Bukan untuk mematikan penghidupan, akan tetapi karena beliau Shalallahu 'Alaihi Wasallam melihat bahwa di dalam mata bajak itu ada kesibukan terhadap sesuatu yang sebenarnya penting, tetapi ada sesuatu lainnya yang jauh lebih penting dari bertani, yakni karena agama Allah akan menghadapi kemusnahan sekiranya kita sibuk dengan pertanian dan perdagangan.

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

Apabila kalian telah jual beli dengan sistem ‘inah (bentuk riba), sibuk mengikuti ekor sapi (sibuk dengan peternakan) dan puas dengan bercocok tanam, dan meninggalkan jihad fii sabilillah, niscaya Allah akan menguasakan atas kalian kehinaan yang tiada akan dicabut-Nya sehingga kalian kembali kepada Dien kalian”. (HR Abu Dawud: 3462, Shahih Al-Jami' Ash-Shaghir: 423).

Sesudah penaklukan negeri Syam, umat Islam melihat negeri tersebut sebagai negeri yang subur. Mereka lalu menanaminya dengan gandum Syam.

Kabar tersebut sampai kepada Umar bin Khattab, lalu beliau mengirim utusan dengan membawa surat yang memerintahkan pembakaran ladang pertanian mereka di negeri Syam tersebut. Surat tersebut panjangnya hanya satu baris, berisi kata-kata sebagai berikut:

Sesungguhnya jika kalian meninggalkan jihad dan sibuk dengan pertanian, maka aku akan memberlakukan jizyah kepada kalian. Dan aku akan memperlakukan kalian sebagaimana aku memperlakukan Ahli Kitab. Sesungguhnya makanan pokok kalian adalah dari makanan pokok musuh-musuh kalian.”

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

“Aku diutus dengan pedang menjelang hari kiamat, sampai Allah sebagai satu-satunya sembahan tidak ada kesyirikan baginya dan dijadikan rizki dibawah bayangan tombakku, dan dijadikan hina dan rendah bagi siapa saja yang menyelisihi urusanku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia menjadi bagian kaum itu,” (HR Ahmad, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir: 2831).

Waktu telah habis, untuk itu saya cukupkan sekian dulu.

0 komentar:

Post a Comment