Kisah Islami: Nabi Muhammad – Kehidupan Bangsa Arab sebelum Kelahiran Rasulullah


Oleh Abdullah Haidir (Disarikan dari Sirah Nabawiyah Sheikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri)

Kehidupan Agama
Pada awalnya, mayoritas bangsa Arab mengikuti agama Nabi Ibrahim alaihissalam, yaitu ajaran Tauhid untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.

Namun setelah waktu berjalan sekian lama, mereka melalaikan hal tersebut, meskipun masih ada sisa-sisa peninggalan ajaran Tauhid Nabi Ibrahim Alaihissalam.

Hingga kemudian di Mekkah ada seorang yang bernama Amr bin Luhay dari suku Khuza’ah yang sangat dihormati dan dimuliakan kaumnya karena kedermawanan dan perilakunya yang baik.

Suatu ketika beliau pergi ke Syam dan di sana melihat masyarakatnya menyembah berhala sebagai bentuk ibadah. Dia menyimpulkan bahwa itu adalah perbuatan baik. Maka ketika kembali ke Mekkah, dia membawa satu berhala yang bernama Hubal dan diletakkan di dalam Ka’bah.

Dia kemudian megajak kaumnya untuk melakukan apa yang dilakukan penduduk Syam. Karena pengaruh kedudukannya, maka tak lama kemudian, penyembahan terhadap berhala menjadi keyakinan tersendiri penduduk Mekkah pada saat itu, dan kemudian dengan cepat menyebar ke wilayah Hijaz (Mekkah dan sekitarnya) hingga menyebar luas ke seluruh Jazirah Arabia. Bahkan di sekitar Ka’bah ada ratusan berhala yang disembah. Dari sana muncullah berbagai bentuk praktik syirik, bid’ah dan khurafat di masyarakat Arab.

Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat Arab berkelas dan bersuku-suku. Di sana terdapat pemandangan yang sangat kontras antara kaum bangsawan dengan segala kemewahan dan kehormatan yang dimiliki dan kaum budak dengan segala kekurangan dan kehinaan yang tak terperi.

Kehidupan antar suku pun penuh persaingan dan sering berakibat pertikaian karena fanatisme kesukuan yang sangat tinggi. Setiap anggota suku pasti membela orang yang satu suku dengannya, tak peduli perbuatannya benar atau salah, sehingga terkenal ucapan di antara mereka:

“Bantulah saudaramu, baik dia berbuat zalim atau pun dizalimi.”

Perlakuan terhadap wanita juga sangat zalim. Laki-laki dapat melakukan poligami tanpa batas, bahkan dapat menikahi dua wanita bersaudara sekaligus, kemudian dapat mencerai mereka tanpa batas.

Sementara perzinaan merupakan masalah yang biasa. Bahkan ada suami yang memerintahkan istrinya tidur dengan laki-laki lain semata karena ingin mendapat keturunan mulia dari laki-laki tersebut.

Kelahiran anak perempuan menjadi hal yang aib bagi mereka. Bahkan dikenal di sebagian mereka istilah wa’dul banat (mengubur anak wanita hidup-hidup).

Perjudian dan minuman keras juga merupakan hal yang sangat lumrah dilakukan di tengah masyarakat. Bahkan menjadi sumber kebanggaan tersendiri.

Kesimpulannya, kondisi sosial masyarakat Arab sebelum Islam adalah sangat parah hingga kemudian berlangsung tanpa aturan layaknya binatang.

Kondisi Ekonomi
Masyarakat Arab adalah masyarakat pedagang, sebagian kecil penduduk pinggir negeri hidup secara bertani dan memelihara hewan ternak. Mereka belum mengenal dunia industri. Hasil-hasil produksi biasanya mereka dapatkan dari Yaman atau negeri Syam.

Kemiskinan cukup mewarnai kehidupan masyarakat, meskipun ada sejumlah pedagang besar dan bangsawan.

Akhlak Terpuji
Betapa pun demikian, bangsa Arab masih memiliki beberapa akhlak yang sangat terpuji, walau kadang ditampilkan dengan cara yang salah. Di antaranya adalah kedermawanan, memenuhi janji, menjaga kemuliaan jiwa, dan pantang dihina, pemberani, lemah lembut, suka menolong dan sederhana.