Sanksi bagi Orangtua yang tidak Bertanggung Jawab

Foto: VemaleCom

Oleh Sheikh Muhammad Suwaid
1. Ibnu Umar berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barangsiapa mengabaikan anaknya dan mencelanya di dunia ini, maka Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi akan membongkar cacatnya pada hari Kiamat di hadapan para saksi sebagai balasan yang serupa,” (HR Ahmad dan Thabrani dalam Kitab Al-Kaabir dan Al-Ausath. Rijal (para rawi) Thabrani adalah Shahih, kecuali Abdullah bin Ahmad yang adalah seorang tsiqah imam. Demikian dikatakan oleh Haitsami dalam Al-Majma’, 5/15).

2. Diriwayatkan dari Muadz bin Anas bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai para hamba yang tidak akan diajak bicara pada hari kiamat, tidak akan disucikan dan tidak akan dilihat oleh Allah.”

Seorang sahabat bertanya, “Siapa mereka itu, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Orang yang lepas tangan dari kedua orang tuanya, benci kepada keduanya, dan orang yang berlepas tangan dari anaknya,” (HR Ahmad dan Thabrani. Dalam riwayat Thabrani terdapat tambahan, ‘Dan bagi mereka azab yang pedih’. Dalam riwayat ini terdapat rawi yang bernama Zuban bin Faid yang dinilai dhaif oleh Ahmad dan Ibnu Ma’in, namun Abu Hatim menyatakan shahih. Demikian seperti yang disebutkan oleh Haitsami dalam Al-Majma’, 5/15).

3. Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnad shahih, demikian pula Ibnu Majah, Abu Ya’la, Baghawi, Ibnu Qani’, Ibnu Mandah, Thabrani, dan Sa’id bin Manshur, bahwa Al-Khasykhasyas Al-Anbari berkata,

“Aku datang menghadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dengan membawa anak lelakiku.

Beliau bertanya, “Apakah ini anakmu?”

Saya menjawab, “Ya”

Beliau kemudian bersabda, “Jangan sampai engkau menyakitinya, dan jangan pula dia menyakitimu,” (Lihat Silsilah Al-Hadits As-Shahiihah, no. 990).

4. Hakim meriwayatkan – dan dia menyatakan bahwa isnadnya shahih dan hal itu disepakati pula oleh Dzahabi, dari Abu Ramtsah bahwa dia berkata,

“Aku berangkat bersama ayahku menuju Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu ayahku mengucapkan salam dan aku pun duduk beberapa saat, sampai akhirnya Rasulullah bertanya kepada ayahku,

Apakah ini anakmu?”

Ayahku menjawab, “Benar, demi Pemilik Ka’bah.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Benar-benar anakmu?”

Ayahku menjawab, “Bersaksilah bahwa ia benar-benar anakku.”

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tersenyum lebar disebabkan karena melihat keserupaanku dengan ayahku dank arena sumpah ayahku akan hal itu. Beliau selanjutnya bersabda:

Anakmu ini tidak boleh menyakitimu, dan demikian pula engkau tidak boleh menyakitinya.”

Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam membacakan firman Allah, “Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…” hingga firman Allah, “(Muhammad) ini adalah seorang pemberi peringatan di antara para pemberi peringatan yang telah terdahulu,” (QS An-Najm: 38-56).