Memanfaatkan Semua Potensi Tanpa Memberatkan Mereka


Oleh Sheikh Abdullah Azzam
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin,” (QS At-Taubah: 128).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kami cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hatimu,” (QS Al-Hujurat: 7).

Selain itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman kepada Rasul-Nya:

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh,” (QS Al-A’raaf: 199).

Jadilah pemaaf! Permudah urusan orang! Perintahkanlah mereka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan mereka dapat mengerahkan segala potensi dan kemampuannya. Jangan engkau bebani mereka dengan perkara yang susah sehingga menyulitkan dan menyempitkan mereka.

Dahulu ketika Rasulullah hendak mengutus  seseorang menjadi mata-mata pada malam peperangan Khandaq, beliau memilih dengan cara yang lembut dan bijaksana.

Pertama, beliau menawarkan tugas tersebut kepada seluruh sahabat. Setelah tidak ada yang menyanggupi, barulah beliau memilih salah satu di antara mereka.

Beliau menawarkan, “Barangsiapa yang mau pergi untuk mencari informasi mengenai kekuatan musuh untuk kami, dan kemudian kembali lagi, aku akan menjamin ia masuk surga.”

Tak seorang pun beranjak dari tempatnya, padahal di antara mereka itu ada Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Kemudian beliau mengulangi lagi tawaran itu untuk kedua kalinya. Karena tidak ada lagi yang menyanggupi, beliau mengulanginya untuk ketiga kalinya.

Ketika beliau mendapati tidak ada alternatif lain kecuali menyebut nama salah satu di antara mereka, dengan sabar beliau bersabda, “Bangkitlah engkau, wahai Hudzaifah!”

Hudzaifah bercerita, “Aku pun bangun, ketika itu aku memakai pakaian bulu milik istriku – dia tidak memiliki baju – dan aku menggigil kedinginan. Kemudian aku berjalan, seolah-olah aku berjalan menuju kematian,” (HR Muslim).

Demikianlah, untuk urusan memimpin pasukan, beliau memilih Sa’ad, sedang untuk urusan dakwah, beliau memilih Mush’ab, sedang Bilal ditunjuk untuk urusan adzan, Ubay dipilih untuk mengajarkan Al-Quran, dan Abu Bakar Ash-Shiddiq serta Umar bin Khattab dipilih untuk bersyair.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menempatkan setiap orang pada posisi yang layak untuknya. Beliau berkata kepada Hasan bin Tsabit:

“Bantahlah atau ejeklah mereka (dengan syairmu). Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) bersamamu.”

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak memilih Hasa untuk memimpin perang, atau memilih Sa’ad untuk bersyair. Beliau senantiasa menempatkan seseorang pada posisi yang tepat.