Akhlak Salaf: Rasa Takut kepada Allah #1 | Nasihat Ibnu Mas'ud & Abu Ubaidah




Oleh Sheikh Abdul Aziz Nashir Al-Julail dan Baha’uddin Fatih Aqil
Dari Ibnu Mas’ud diriwayatkan bahwa ketika sedang bermajelis, ia pernah menasihati, “Sesungguhnya di tengah lingkaran ajal yang selalu berkurang, di tengah amal perbuatan yang selalu terpantau, sementara kematian datang dengan tiba-tiba. Barangsiapa yang menanam kebajikan, niscaya dia akan menuai kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menanam kejahatan, niscaya dia akan menuai penyesalan.

“Setiap orang bercocok tanam, akan memanem sesuai dengan apa yang ditanamnya. Orang yang lambat, tidak akan bisa mendahului mengambil bagiannya. Demikian juga orang yang berhasrat, ia tidak akan memperoleh apa yang tidak ditakdirkan untuknya. Siapa saja yang mendapat kebaikan, Allah-lah yang memberikan kebaikan itu kepadanya. Siapa saja yang selamat dari bahaya, Allah-lah yang menjaga dirinya. Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang terhormat, dan para ahli fikih adalah para pembimbing umat. Duduk-duduk belajar bersama mereka adalah sebuah kemuliaan,” (Syiar A’lam An-Nubala: 1/497).

Dari Al-Fasawi, dari Abu Yaman, dari Jarir bin Utsman, dari Abul Hasan Imran bin Nimran, bahwa Abu Ubaidah pernah berjalan di tengah pasukan kaum muslimin kemudian berkata, “Betapa banyak orang yang menjaga kesucian pakaiannya, tapi justru mengotori agamanya. Ingatlah, betapa banyak orang yang merasa memuliakan dirinya sendiri, tetapi justru menghinakannya. Segeralah mengganti kejahatan-kejahatan lamamu dengan kebajikan-kebajikan yang baru,” (Syiar A’lam An-Nubala: 1/18).