Tanya-Jawab Islam: Bolehkah Jima Meski Nifas Kurang dari 40 Hari


Pertanyaan:
Apabila seorang wanita yang nifas telah suci sebelum 40 hari, bolehkah sang suami berjima dengannya? Dan apabila darah (nifas) itu keluar lagi setelah 40 hari, bagaimana hukumnya? 

Jawaban oleh Sheikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Para wanita yang nifas, suaminya tidak boleh berjima’ dengannya. Namun, apabila ia telah suci sebelum 40 hari, maka ia telah kena kewajiban shalat dan boleh bagi suaminya untuk berjima dengannya karena Allah berfirman tentang haid,

Sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu,” (QS Al-Baqarah: 222).

Ketika kotoran (darah haid) itu ada, maka tidak boleh berjima’. Apabila telah suci, maka dibolehkan jima’. Sebagaimana ia juga diwajibkan shalat, maka ia boleh mengerjakan semua hal yang sebelumnya terlarang karena nifas, jika ia telah suci sebelum 40 hari.

Begitu pula boleh bagi suami untuk melakukan jima’, hanya saja sebaiknya ia bersabar dulu agar darahnya benar-benar tidak keluar lagi karena jima’, sampai genap masa 40 hari. Akan tetapi, jika ia tetap ingin berjima dengannya sebelum 40 hari, maka ia juga tidak salah.

Apabila wanita melihat darah setelah 40 hari, dan setelah ia suci, maka hal tersebut adalah bagian dari darah haid, bukan darah nifas, sedangkan darah haid sudah dikenal oleh kaum wanita.

Maka jika ia keluar darah lagi, maka itu adalah haid, namun jika darah itu keluar terus menerus tanpa terputus, atau terputus tetapi hanya sebentar saja, berarti ia sedang istihadhah. Dalam kondisi demikian, hendaknya tidak shalat pada waktu ia biasa haid. Ada pun selebihnya, ia mandi dan shalat.

Al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih. 2002. Majmu’ Fatawa: Solusi Problematika Umat Islam Seputar Aqidah dan Ibadah. Penerjemah: Qosdi Ridwanullah, dkk. Solo: Pustaka Arafah. Hal. 309-310.