(MP3 Ceramah/Kajian) Meneladani Ummu Ismail (Hajar) sebagai Suri Tauladan bagi setiap Wanita Muslimah


“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,” (QS Ibrahim: 37).

Kisah Nabi Ibrahim dengan istrinya memiliki banyak kandungan hikmah yang bisa diterapkan dalam kehidupan berkeluarga.

Nabi Ibrahim sebelumnya memiliki istri bernama Sarah, seorang muslimah yang tidak ada satu orang pun saat itu yang beragama Islam kecuali Nabi Ibrahim dan Sarah saja.

Keduanya membina keluarga selama puluhan tahun, bahkan Nabi Ibrahim sudah menjadi tua renta (80 tahun) dan belum juga diberi keturunan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Oleh karena tidak kunjung memiliki keturunan, maka Ibunda Sarah menawarkan salah seorang budaknya yang bernama Hajar kepada Nabi Ibrahim. Dari pernikahan Nabi Ibrahim dengan Hajar, lahirlah seorang anak bernama Ismail.

Selama puluhan tahun Nabi Ibrahim menjalin rumah tangga dengan Ibunda Sarah, keharmonisan itu kemudian berubah menjadi gejolak ketika istri kedua Nabi Ibrahim ternyata bisa memberinya keturunan.

Sejak saat itu, Ibunda Sarah bernazar untuk melubangi tiga anggota tubuhnya yang kemudian sekarang kita mengenalnya sebagai sunnah memakai anting-anting. Selain itu, Ibunda Sarah juga bernazar untuk meng-khitan dan itulah awal mula sunnah khitan bagi wanita.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nabi Ibrahim dengan Ibunda Sarah dan Ibunda Hajar untuk bisa diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari di zaman modern. Dibahas pula di dalamnya kisah keluarga yang dialami oleh Nabi Ismail dengan istri beliau.

Simak bersama pasangan Anda! Selamat menikmat!

Unduh/Dengarkan (4Shared)
Unduh/Dengarkan (Dropbox)