Jelas Identitasnya, Visinya, Misinya, dan tidak Terkontaminasi Pemikiran Menyimpang


Oleh Sheikh Dr Abdullah Azzam
Ketika kaum Quraisy menawarkan beliau untuk bergantiab menyembah tuhan-tuhan mereka selama setahun, lalu mereka akan menyembah Allah setahun, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

"Katakanlah, 'Hai orang-orang kafir!' Akuntidak akan menyembah apa yang kamu sembah," (QS Al Kafirun: 1-2).

"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepadaNya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainua," (QS Al Ghafir: 14).

Kita wajib mendeklarasikan visi dan misi kita sejak langkah pertama. Tidak boleh berkamuflase di bawah bendera nasionalisme untuk menyampaikan agama kita kepada manusia. Tidak pula bersembunyi dalam Partai Ba'ats untuk memberikan manfaat bagi diin kita, atau masuk organisasi sosialia supaya kita dapat menyampaikan dakwah kita, atau masuk yayasan buatan manusia karena asumsi bahwa dengan cara semacam itu kita dapat berkhidmat ke dalam iqomatuddin.

Visi dan misi yang terkontaminasi sejak awal akan menyesatkan jalan kita dan menyesatkan jalan manusia yang mengikutinya. Padahal mereka tidak tahu apa yang mereka ikuti. Karena itu sejak awal Rasulullah telah menyatakan misinya kepada kaum Quraisy, "Hendaklah kalian menyembah Allah, dan tidak ada Illah bagi kalian selain Allah."

Nabi terus menerus mengingatkan kepada pengikutnya untuk memegang teguh prinsip tersebut, sejak dakwah dimulai sampai beliau bertemu Rabbnya. Beliau juga senantiasa mengingatkan supaya pengikutnya tidak meniru orang-orang kafir. Beliau bersabda:

"Barangsiapa menyerupakan diri dengan suatu kaum maka ia adalah termasuk di antara mereka."

Tatkala para sahabat mengajukan pemintaan kepada beliau, "Buatkanlah kami anwath (pohon yang dipakai orang-orang jahiliyah untuk menggantungkan senjata) sebagaimana mereka," maka Rasulullah marah dan bersabda:

"Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (jejak) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa, sehingga andaipun salah seorang di antara mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun akan memasukinya," (HR Ahmad).

Karena itu Rasulullah melarang kaum muslimin meniru-niru kaum Yahudi, Nasrani atau orang-orang kafir dalam ibadah, pakaian dan tunggangan. Jika Anda mau bacalah kitab, "Iqtidha Ash Shirath Al Mustaqim fii Mukhalafati Ashabu Al Jahim," karangan Imam Ibnu Taimiyah (kitab ini memberi penjelasan gamblang mengenai tasyabbuh atau sikap meniru gaya orang kafir yang haram hukumnya).

Allah telah memberi batasan kepada umat Islam mengenai apa yang bisa menjadi penopang agama ini, dan hanya aqidahlah penopangnya. Aqidah adalah kebangsaan umat Islam, Darul Islam adalah tanah airnya, Allah sebagai penguasa tunggal, dan Al Quran sebagai undang-undangnya.

Penggambaran tentang tanah air, kebangsaan dan kekeluargaan yang amat tinggi inilah yang mesti tertanam dalam jiwa para dai ilallah, para pendakwah menuju agama Allah. Dengan begini, segalanya menjadi jelas. Dakwah tidak tersisipi syirik kufyah (syirik yang tersembunyi), syirik dengan bumi, syirik dengan kebangsaan, syirik dengan kerakyatan, syirik dengan nasab/keturunan, atau syirik dengan manfaat-manfaat sepele yang telah berhasil diraih.

Rasulullah telah menyatakan dengan tegas tentang qoumiyah atau nasionalisme, "Tinggalkanlah nasionalisme, karena sesungguhnya ia adalah sesuatu yang busuk baunya."

Sesuatu yang menebarkan bau yang memuakkan. Maka beliau berkata kepada mereka yang mengucapkan kata-kata busuk lagi sia-sia itu:

"Hendaklah kaum yang membanggakan nenenl moyang mereka itu menghentikan (perbuatannya) atau mereka menjadi kaum yang lebih hina di hadapan Allah daripada seekor gambreng."

Gambreng adalah serangga kecil yang kebiasaannya menggelindingkan kotoran (manusia/binatang lain) dengan ujung tanduknya. Ini perumpamaan untuk orang-orang ba'ats dan orang-orang nasionalis. Mereka itu serupa dengan gambreng-gambreng yang teronggok di tong-tong kotoran kebangsaan.