Fiqih Islam: Tata Cara/Tuntunan & Bacaan Sholat Menurut Quran dan Sunnah




Oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy dan Sheikh Said bin Ali Al-Qahthani

Tata cara sholat yaitu setelah masuk waktu sholat, seorang muslim berdiri dalam keadaan suci dari hadats kecil dan besar, menutupi aurat, menghadap kiblat, lalu dia mengucapkan iqamat.

Apabila selesai iqamat, dia mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya sambil berniat mengerjakan shalat yang hendak ia kerjakan dan mengucapkan “Allahu Akbar.”

Setelah itu, ia meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya di atas dada, kemudian mengucapkan doa iftitah dan membaca: Bismillahirrahmanirrahiim dengan pelan, lalu membaca surat Al-Fatihah hingga apabila sampai pada lafaz, “Walladhdhaalliin,” maka mengucapkan, “Aamiin.” Kemudian membaca surat atau beberapa ayat Al-Quran yang mudah baginya.

Kemudian mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya lalu rukuk sambil membaca, “Allahu Akbar.” Setelah itu, mengokohkan kedua telapak tangan pada lututnya, dan meluruskan tulang belakangnya atau punggungnya, dengan tidak mengangkat kepadanya dan tidak pula menurunkannya, tapi meluruskan sejajar dengan punggungnya, kemudian ketika rukuk membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيْمِ

“Mahasuci Rabbku yang Mahaagung.”

Sebanyak tiga kali atau lebih, kemudian bangun dari rukuk sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan pundaknya dan membaca:

سَمِعَ الله لِمَنْ حَمِدَهُ

“Semoga Allah mendengarkan pujian orang yang memuji-Nya.”

Apabila posisi tubuh telah tegak ketika i’tidadl lalu membaca:

رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ, حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فَيْهِ

“Rabb kami, bagi-Mu segala puji, pujian yang banyak yang baik serta diberkahi.”

Kemudian turun untuk sujud sambil mengucapkan, “Allahu Akbar.” Lalu bersujud dengan anggotanya yang tujuh, yaitu muka, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua telapak kaki sambil menekankan dahi dan hidungnya pada lantai seraya membaca:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الأعْلَى

“Mahasuci Rabbku yang Mahatinggi.”

Sebanyak tiga kali atau lebih, jika disertai dengan doa lainnya maka itu baik. Kemudian bangun dari sujud sambil mengucapkan, “Allahu Akbar” lalu duduk dengan membentangkan telapak kaki kirinya dan mendudukinya serta menegakkan telapak kaki kanannya dan membaca:

رَبِّ اغْفِرْلِى وَارْحَمْنِى وَعَافِنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى

“Rabbku! Ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku kesehatan, petunjuk dan rezeki.”

Setelah itu sujud seperti sujud sebelumnya, kemudian berdiri untuk rakaat kedua lalu melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama yang dilanjutkan dengan duduk tasyahud.

Jika shalatnya itu dua rakaat seperti shalat subuh, maka dia membaca tasyahud, shalawat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan mengucapkan salam.

Doa Tasyahud:
التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan dan kebaikan. Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepadamu, wahai Nabi, begitu juga rahmat dan berkahNya. Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada kita dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya,” (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Baari 1/13 dan Imam Muslim 1/301).

Lafaz Shalawat Ibrahimi:
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

“Ya Allah, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya (termasuk anak dan istri atau umatnya), sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung,” (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Baari 6/408).

Doa-doa sebelum salam setelah shalawat Ibrahimi:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal,” (HR. Al-Bukhari 2/102 dan Muslim 1/412. Lafazh hadits ini dalam riwayat Muslim).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah Almasih Dajjal. Aku berlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dan sesudah mati. Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari perbuatan dosa dan kerugian,” (HR. Al-Bukhari 1/202 dan Muslim 1/412).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku banyak menganiaya diriku, dan tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah dosa-dosaku dan berilah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang,” (HR. Al-Bukhari 8/168 dan Muslim 4/2078).

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّيْ. أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah! Ampunilah aku akan (dosaku) yang aku lewatkan dan yang aku akhirkan, apa yang aku rahasiakan dan yang kutampakkan, yang aku lakukan secara berlebihan, serta apa yang Engkau lebih mengetahui dari pada aku, Engkau yang mendahulukan dan mengakhirkan, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau,” (HR. Muslim 1/534).

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah! Berilah pertolongan kepadaku untuk menyebut namaMu, syukur kepadaMu dan ibadah yang baik untukMu,” (HR. Abu Dawud 2/86 dan An-Nasai 3/53. Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih Abi Dawud, 1/284).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari bakhil, aku berlindung kepadaMu dari penakut, aku berlindung kepadaMu dari dikembalikan ke usia yang terhina, dan aku berlindung kepadaMu dari fitnah dunia dan siksa kubur,” (HR. Al-Bukhari dalam Fathul Baari 6/35).

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku mohon kepadaMu, agar dimasukkan ke Surga dan aku berlindung kepadaMu dari Neraka,” (HR. Abu Dawud dan lihat di Shahih Ibnu Majah 2/328). Wallahu’alam bish shawwab.