Keikhlasan dan Kejujuran para Salaf #8

Beratnya Keikhlasan

Oleh Sheikh Abdul Aziz Nashir Al-Julail dan Baha’uddin Fatih Aqil
Yusuf bin Ahmad Asy-Syairazi pernah bercerita dalam bukunya, “Arba’iinul Buldan”:

Tatkala aku bepergian untuk menemui guru kami, Abul Waqti, yang merupakan tujuan para penuntut ilmu dan ulama hadist pada zamannya, Allah menakdirkan diriku bisa menemuinya di ujung negeri Kirman. Aku segera memberi salam, mencium, dan duduk di hadapannya. Beliau lalu bertanya, “Apa yang menyebabkan dirimu datang ke negeri ini?”

Aku menjawab, “Tujuanku adalah dirimu. Engkau adalah sandaranku, setelah Allah. Aku telah menulis setiap riwayat hadistmu yang sampai kepadaku, dengan penaku. Aku datang kepadamu dengan kedua kakiku sendiri, agar aku bisa memperoleh barakah umurmu, dan mendapat ketinggian sanadmu.”

Beliau pun menjawab, “Semoga Allah memberikan taufik kepadamu, dan juga kepada kami terhadap apa yang diridhaiNya. Dan menjadikan usaha kita ikhlas dan tujuan kita hanya mengharap ridhaNya. Seandainya kamu mengenalku dengan baik, kamu tidak akan mengucapkan salam kepadaku, tidak pula duduk di hadapanku.”

Kemudian beliau menangis lama sekali, dan membuat para hadirin juga turut menangis. Kemudian beliau berkata, “Ya Allah, tutupilah dosa-dosa kami dengan hijabMu yang terbaik, dan jadikanlah di balik hijabMu ada sesuatu yang membuatmu ridha kepada kami.”

Abdul Waqti melanjutkan, “Duhai anakku, ketahuilah, aku juga pernah mengembara untuk mendengar Kitab Ash-Shahih. Aku berjalan kaki bersama ayahku, dari Hirah ke Posang untuk menemui Ad-Dawudi, padahal saat itu umurku di bawah sepuluh tahun.

Ayahku meletakkan dua batu di atas tanganku. Jika terlihat kepayahan, ayahku menyeruhku untuk melemparkan satu batu. Aku pun melemparnya. Bebanku jadi terasa ringan setelah itu. Aku berjalan lagi hingga aku terasa lelah. Ayah bertanya lagi, “Apakah kamu letih?”

Karena takut, maka kujawab, “Tidak.”

Ayahku berkata, “Lantas kenapa kamu berlambat-lambat dalam berjalan?”

Aku pun mempercepat jalanku di hadapan ayah selama beberapa saat. Kemudian kembali loyo. Ayah mengambil batu satunya lalu melemparkannya. Aku bisa berjalan hingga tak mampu lagi. Ketika itulah ayahku memanggul dan menggendongku.

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan para petani dan orang-orang: mereka mengatakan, “Wahai Sheikh Isa, biarkan kami memboncengkan anak kecil itu, dan juga Anda sekalian, menuju Posang.”

Ayah menjawab, “Aku berlindung kepada Allah, jika harus berkendara dalam mencari hadist-hadist Rasulullah. Tidak. Biarkan kami berjalan saja. Jika anak ini lelah, aku akan meletakkannya di atas kepalaku, demi memuliakan hadist Rasulullah dan mengharapkan pahala dariNya.

Tidak ada orang yang sebaya denganku yang tersisa kecuali aku. Hingga para utusan dari berbagai negeri datang kepadaku.”

Kemudian Sheikh Abul Waqti meminta kepada sahabat kami, Abdul Baqi bin Abdul Jabbar Al-Harawi untuk menyuguhkan makanan ringan kepada kami. Aku bertanya, “Wahai tuan, membaca kitab Al-Juz’u karya Abu Jahm lebih aku sukai daripada makan makanan ini.”

Beliau tersenyum dan berkata, “Jika sudah ada makanan, akan ada juga pembicaraan.”

Beliau menyuguhkan sepiring makanan yang berkuah, lalu kami makan. Aku mengeluarkan kitab Al-Juz’u karya Abu Jahm dan meminta beliau mengeluarkan naskah aslinya. Beliau berpesan, “Jangan khawatir dan jangan terburu-buru. Sungguh, aku telah banyak menguburkan orang-orang yang mendengarkan hadist dariku. Maka, mintalah keselamatan kepada Allah.”

Aku pun membaca Al-Juz’u karya Abu Jahm, dan aku bahagia. Allah telah mempermudah untuk menyimak kitab Ash-Shahih, dan yang lainnya, berkali-kali. Aku terus menemani dan merawat beliau hingga wafat di Baghdad, pada malam Selasa bulan Dzulhijjah, (Siyar A’lam An-Nubalaa’: 20/307-308).