Janin, Nuthfah, dan Penciptaan serta Perkembangan Janin dalam Rahim


Oleh Sheikh Muhammad Suwaid
Setelah selesai melakukan proses pernikahan antara kedua pasangan, maka keduanya meminta kepada Allah agar dikaruniai keturunan yang baik serta anak cucu yang shalih. Apabila karunia anak ini belum dianugerahkan oleh Allah, kedua pasangan mestinya semakin menambah permohonan dan doa kepdaa Allah.

Di sini manusia akan ingat akan satu ayat dari Kitab Allah yang mengingatkannya bahwa dia dahulunya juga tidak berwujud. Yang kemudian menghadirkannya ke alam dunia ini adalah Allah. Maka sudah menjadi kewajiban manusia untuk senantiasa beribadah kepada Zat yang telah menciptakannya.

Allah berfirman:

“Bukankah telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang bisa disebut,” (QS Al-Insan: 1).

Ayat-ayat Al-Quran mengajak manusia untuk berpikir tentang asal-muasalnya dan tentang materi yang tersusu manyatu agar dia menyadari nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepadanya, sehingga dia tidak sombong, angkuh, dan menolak untuk beribadah kepada Allah:

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada,” (QS At-Thariq: 5-7).

“Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani Allah menciptakannya lalu menentukannya,” (QS Abasa: 17-19).

“Maka terangkanlah kepadaKu tentang nutfah (air mani) yang kamu pancarkan. Kamukan yang menciptakannya atau Kami yang menciptakannya?” (QS Al-Waqiah: 58-59).

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat,” (QS Al-Insan: 2).

Setelah terjadi pembuahan antara sel sperma laki-laki dengan indung telur wanita, mulailah terjadi proses pertama pembentukan janin. Allah-lah yang menentukan laki-laki atau perempuan. Dan... proses awal penciptaan manusia dimulai.

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,” (QS Ali-Imran: 6).

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” (QS Luqman: 34).

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah,” (QS Al-Hajj: 5).

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lohmahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah,” (QS Fathir: 11).

“Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (QS Az-Zumar: 6).

Di sinilah dimulainya proses mengandung dengan penjagaan dari Allah kepada janin yang baru ini. Sang ibu mengandung merasakan kepedihan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Hal ini digambarkan oleh firman Allah:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula),” (QS Al-Ahqaf: 15).

Paling cepat masa mengandung adalah enam bulan.

“Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan,” (QS Al-Ahqaf: 15).

Perkembangan janin di dalam rahim ini disebutkan oleh hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud bahwa dia berkata, “Rasulullah – yang selalu benar dan dibenarkan – menceritakan kepada kami dengan bersabda:

“Sesungguhnya anak manusia itu diciptakan pertama kalinya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah. Kemudian ia tersusun menjadi sesuatu yang menggantung, dan kemudian menjadi segumpal daging. Setelah itu diutuslah seorang malaikat untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menetapkan empat hal: menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, dan sengsara atau bahagianya.”