Pengaruh Orang Tua yang Shalih Terhadap Anak

Oleh Sheikh Muhammad Suwaid
Keshalihan orang tua merupakan teladan yang baik bagi anak, mempunyai pengaruh yang besar terhadap kejiwaan anak. Apabila kedua orang tua mempunyai kedisiplinan untuk bertakwa kepada Allah dan mengikuti jalan Allah, dan juga terus ada kerjasama antara kedua orang tua untuk menunaikan hal tersebut, maka anak akan ikut tumbuh pula dalam ketaatan dan kepatuhan kepada Allah karena mencontoh kedua orang tuanya. Inilah yang ditegaskan oleh ayat yang mulia, “Sebagian keturunan menyerupai turunannya,” (QS Ali-Imran: 34).

Keshalihan orangtua bisa memberikan keuntungan bagi anak turunannya. Perhatikanlah kisah Sayyidina Khidir Alaihissalam.[i] Dia membangun sebuah tembok atau benteng secara sukarela, tanpa mengambil upah dari pekerjaannya. Ketika Nabi Musa menanyakan kepadanya tentang alasannya, Khidir menjawab, “Karena kedua orang tuanya shalih.”[ii] Bahkan, para malaikat pun mendoakan anak-anak mereka, “Yaa Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam Surga Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang shalih di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka serta keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana,” (QS Al-Mukmin: 8).

Jika anak-anak cucu bisa tumbuh dalam nuansa ketaatan kepada Allah, dan menyeru kepada agamaNya, maka akan terjadi pertemuan di antara mereka kelak di surga yang kekal.

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya,” (QS At-Thuur: 21).

At-Tastari juga membiasakan diri untuk mendoakan anaknya – yang sebenarnya masih berada di tulang sulbinya – dengan cara memperbanyak amal shalih dengan harapan kiranya Allah mengaruniakan anak yang shalih kepadanya. At-Tastari mengatakan, “Aku telah melakukan perjanjian dengan Allah ketika anakku masih berupa benih dalam kandungan, bahwa aku akan memelihara anak-anakku sejak saat ini hingga Allah nanti mengeluarkannya ke dunia nyata.”[iii]

Inilah bukti keseriusan Salafush Shalih dalam mendidik anak-anak mereka. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita anak keturunan yang shalih. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Pengabul.

Imam Baihaqi meriwayatkan dalam Kitab Al-I’tiqad[iv] dengan sanadnya sendiri dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun firman Allah:

“Manusia itu tiada memperoleh sesuatu selain apa yang diusahakannya,” (QS An-Najm: 39).

Allah berfirman:

“Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka,” (QS At-Thuur: 21).

Yaitu dengan keimanan. Allah memasukkan anak-anak itu ke dalam surga disebabkan oleh keshalihan bapak-bapak mereka.

Dalam riwayat lain, disebutkan tentang firman Allah dalam surat At-Thuur 21 di atas, bahwa Ibnu Abbas mengatakan, “Allah mengangkat anak cucu orang beriman yang menyertainya ke dalam derajatnya di dalam surga, sekali pun sebenarnya mereka berada di bawah derajat orang tuanya dalam hal amal perbuatannya.” Selanjutnya, Ibnu Abbas membacakan ayat:

“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya,” (QS At-Thuur: 21).

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa maksudnya, “Kami sama sekali tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.”

Ibnu Syahin[v] meriwayatkan, Haritsah bin Nu’man datang menghadap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Ketika itu beliau sedang bercakap dengan seseorang. Haritsah duduk tanpa memberi salam. Jibril yang ketika itu sedang bersama Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam kemudian mengatakan, “Kalau saja dia memberi salam, tentu akan kami jawab.”

Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bertanya kepada Jibril, “Apakah engkau mengenalnya?” Jibril menjawab, “Ya, saya kenal. Orang ini adalah salah satu di antara delapan puluh orang yang bersabar pada Perang Hunain. Semoga Allah memberikan karunia kepada mereka dan juga memberikan karunia kepada anak-anak mereka berupa taman di dalam surga.”

Sa’id bin Musayyib berkata, “Sesungguhnya aku sedang melakukan shalat, lalu aku ingat anakku sehingga aku tambah lagi shalatku.” Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Allah memelihara orang shalih hingga tujuh keturunannya. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah:

“Sesungguhnya pelindungku ialah Allah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang shalih,” (QS Al-A’raaf: 196).


[i] Nabi Musa berteman dalam Nabi Khiddir terdapat dalam Kitab Shahih Bukhari
[ii] QS Al-Kahfi: 82 dalam Tafsir Ibnu Katsir
[iii] Hasyiyah Ibni Abidin, 1/53, cet. kedua
[iv] Al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Husain Al-Baihaqi (w. 458 H), Kitab Al-I’tiqaad, h. 74-75
[v] Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Kitab Al-Ishaabah, 1/312