Memurnikan Dakwah Dari Segala Kepentingan Duniawi Dan Manfaat-Manfaat Lain Yang Bersifat Sementara


Oleh Sheikh Dr Abdullah Azzam
Semua rasul diutus untuk mengumandangkan syi’ar ini:

“Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam,” (QS Asy-Syu’ara: 127).

Ayat ini disampaikan oleh semua nabi, termasuk Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, dan Nabii Syu’aib alaihimussalaam. Pada dasarnya, jiwa manusia akan merasa segan kepada orang yang biasa memberikan sesuatu kepadanya. Oleh karena itu, tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Dalam sebuah syair dikatakan:

Allah akan murka jika engkau tidak meminta kepadaNya
Sedangkan anak Adam, ketika diminta dia marah

Para nabi dan para dai semestinya menjaga jarak dengan keduniawian agar orang-orang menerima dakwahnya. Tak pernah sekali pun Rasulullah menjanjikan fasilitas duniawi kepada salah seorang pengikutnya. Tidak pula (menjanjikan materi duniawi) ketika mengajak seseorang untuk masuk Islam dan beriman kepadanya. Dahulu, ketika beliau melewati keluarga Yasir yang tengah mendapat siksaan, maka beliau mengucapkan:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Karena sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah Jannah.”[i]

Beliau tidak membujuk dan menjanjikan kepada mereka harta dunia, kekuasaan, atau jabatan. Ketika beliau menyampaikan dakwahnya kepada Bani Amir bin Sha’sha’ah, ada salah seorang di antara mereka yang bernama Buhairah bin Farras berdiri seraya berkata, “Bagaimana jika kami berbaiat kepadamu atas urusanmu, kemudian jika Allah memenangkanmu atas orang-orang yang menentangmu, apakah urusan itu (kepemimpinan dan kenabian –red) akan menjadi milik kami sesudahmu (setelah Rasul meninggal –red)?

Rasulullah menjawab, “Perkara itu sepenuhnya milik Allah. Dia menempatkan di tempat mana pun yang dikehendakiNya.”

Mendengar jawaban Rasulullah, Bani Amir menolak ajakannya. Padahal waktu itu beliau benar-benar memerlukan pertolongan dari mereka. Allah Rabbul ‘Izzati tidak memberitahukan kepada RasulNya bahwa agama ini akan mendapat kemenangan lewat perantaraan tangannya.

“Sungguh, jika Kami mewafatkan kamu (sebelum kamu mencapai kemenangan) Maka Sesungguhnya Kami akan menyiksa mereka (di akhirat). Atau Kami memperlihatkan kepadamu (azab) yang telah Kami ancamkan kepada mereka. Maka Sesungguhnya Kami berkuasa atas mereka,” (QS Az-Zukhruf: 41-42).

Namun Rasulullah merasa yakin agama ini akan menang meskipun (memerlukan waktu –red) yang lama. Pada waktu Bai’atul Aqabah Kedua bagi golongan Anshar, beliau bersabda:

“Aku membaiat kalian agar kalian melindungiku seperti halnya kalian melindungi istri-istri kalian dan anak-anak kalian,” Kemudian mereka bertanya, “Apa yang kami dapatkan, Yaa Rasulullah? Jika kami penuhi baiat tersebut. Beliau menjawab, “Jannah.” Kemudian mereka berseru, “Jual beli yang menguntungkan. Kami tidak akan membatalkan dan tidak akan minta dibatalkan.”[ii]

Mereka yang berjuang untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi harus mengetahui perkara ini. Dakwah selayaknya dilakukan oleh orang-orang yang hatinya bersih dari segala tendensi. Jika tidak, dakwah akan berubah menjadi tangga bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dan menjadi ajang bisnis bagi sebagian orang.

Dan mereka harus tahu, uluran tangan mereka kepada para penguasa dan para hartawan akan menjatuhkan dakwah mereka di hati penguasa dan para hartawan. Juga menanamkan bibit kebencian dalam hati rakyat jelata pada diri mereka dan dakwah mereka. Maka dari itu, para muslihin (orang-orang yang berusaha memperbaiki kerusakan) akan menjauhkan diri dari penguasa dan para pejabat.

Mereka mengatakan, “Sejelek-jelek ulama adalah mereka yang paling dekat dengan penguasa. Dan sejelek-jelek pemimpin adalah mereka yang paling jauh dari ulama.”[iii]

Ibnul Mubarak menyebut mereka dengan, “Orang yang menjadikan agama sebagai alat baginya untuk memburu harta kekayaan para penguasa.”

Tatkala Allah menguji para sahabat, lalu mereka bersabar atas ujian tersebut, Allah mengetahui bahwa jiwa mereka memang bersih dari segala ambisi duniawi.

Allah tahu mereka tidak mengharapkan balasan di dunia. Dan Allah juga tahu, mereka adalah orang-orang yang dapat dipercaya menjaga syariatNya. Karena itulah, Allah pun memberikan kekuasaan kepada mereka di bumi dan meletakkan “Amanah yang agung” itu ke tangan mereka.[iv]


[i] Hadist shahih diriwayatkan oleh Thabrani, Hakim, Baihaqi, dan Ibnu Asakir. Al-Haitsami berkomentar, “Para perawi dalam sanad hadist Thabrani shahih, kecuali Ibrahim bin Abdul Azis. Dia itu tsiqah (terpercaya). Lihat Hayatul Shahabat, Juz I, hal. 224.

[ii] Lihat Mukhtasar As-Sirah karangan Muhammad bin Abdul Wahab, hal. 88.

[iii] Perkataan serupa pernah diucapkan oleh Hudzaifah Ibnu Yaman, “Jauhilah beberapa sumber cobaan, yakni pintu para penguasa, salah seorang di antara kalian memasuki tenpat tinggal penguasa, lalu dia membenarkan (kesalahan) penguasa tersebut dengan cara dusta dan mengatakan apa yang tidak seharusnya dia katakan.”

Juga pernah diucapkan oleh Sa’id bin Al-Musayyab, “Apabila kalian melihat seorang ulama mendatangi para penguasa (bukan untuk menasihatinya melainkan untuk membenarkan kezalimannya –red), maka dia adalah pencuri.”

Keduanya terdapat dalam: Qudamah, Ibnu. 2010. Mukhtasar Minhajul Qasidin. Penerjemah: Kathur Suhardi. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. Hal.22.

[iv] Cuplikan secara bebas dari perkataan An-Nadawi.