Kejujuran dan Keikhlasan para Salaf #5

Oleh Abdul Aziz Nashir Al-Julail dan Baha’uddin Fatih Aqil
Dari Ahmad bin Ishaq, dari Al-Fath bin Abdussalam, dari Muhammad bin Umar, dari Abu Ghalin Muhammad bin Ali dan Muhammad bin Ahmad Ath-Thara’ifi, dari Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad, dari Al-Fadhl Ubaidullah bin Abdurrahman, dari Ja’far bin Muhammad, dari Amru bin Utsman Al-Himshi, dari Baqiyyah, dari Shafwan bin Amru, dari Sulaim bin Amir, dari Jubair bin Nufair, ia mendengar Abu Darda’ memperbanyak doa meminta perlindungan kepada Allah dari kemunafikan pada akhir shalat dan juga setelah tasyahud.

Jubair pun bertanya, “Ada apa antara dirimu dengan kemunafikan, wahai Abu Darda’?”

Abu Darda’ menjawab, “Biarkanlah diriku, tinggalkanlah aku. Demi Allah, sungguh, ada orang yang terbalik dari agamanya dalam sekejap saja, kemudian dilepas darinya.”[i]

===

Dari Al-Faryabi, dari Abu Bakar Said bin Ya’qub Ath-Thaliqani, dari Abdullah bin Mubarak, dari Al-Auzai, dari Harun bin Ri’ab, tatkala kematian menjemput Abdullah bin Amru, ia berkata, “Lihatlah fulan, lelaki Quraisy itu. Sungguh, aku telah mengatakan sesuatu kepadanya perihal anakku yang menyerupai masa iddah. Aku tidak suka bertemu Allah Ta’ala dengan sepertiga kemunafikan. Aku persaksikan kepada kalian bahwa aku telah menikahkannya (dengan putriku).”[ii]

===

Dari Musa bin Al-Mu’alla, Hudzaifah pernah menasihatiku, “Wahai Musa, ada tiga hal yang jika ketiganya ada pada dirimu, maka tidak ada kebaikan yang turun dari langit kecuali kamu pasti akan mendapatkan bagiannya, yakni: (1) hendaknya amalmu hanya untuk Allah Azza wa Jallan, (2) hendaknya kamu mencintai kebaikan untuk manusia sebagaimana kamu mencintai kebaikan untuk dirimu sendiri, dan (3) hendaknya makananmu adalah makanan yang kau jamin kehalalannya semampumu.”[iii]


[i] Siyar A’lam An-Nubalaa: 6/383, Adz-Dzahabi berkomentar, “Sanadnya shahih.”
[ii] Siyar A’lam An-Nubalaa: 8/396.
[iii] Shifatush Shafwah: 4/269.