Keikhlasan dan Kejujuran para Salaf #6


Oleh Abdul Aziz Nashir Al-Julail dan Baha’uddin Fatih Aqil
Kisah Salaf Pertama
Diriwayatkan bahwa ada tukang cerita yang duduk di dekat Muhammad bin Wasi’. Ia pun bertanya, “Mengapa aku melihat banyak hati yang tidak khusyuk, mata yang tidak menangis, dan kulit yang tidak bergetar?”

Maka Muhammad bin Wasi’ menjawab, “Wahai Fulan, mereka hanyalah orang-orang yang datang kepadamu saja. Sungguh, peringatan yang keluar dari lubuk hati akan berkesan di hati.”[i]

Kisah Salaf Kedua
Dari Abdush Shamad bin Abdul Warits, dari Muhammad bin Dzakwan, dari Khalid bin Shafwan, ia berkata, “Aku pernah bertemu dengan Maslamah bin Abdul Malik, lalu dia bertanya, “Wahai Khalid, ceritakanlah kepadaku tentang Hasan Al-Bashri.”

Maka aku (Khalif bin Shafwan) menjawab, “Semoga Allah memperbaikimu. Aku akan menceritakan kepadamu berdasarkan pengetahuanku tentang beliau. Aku adalah tetangganya, teman duduk di majelisnya, dan orang yang paling tahu tentangnya.

“Beliau adalah orang yang batinnya paling mirim dengan lahirnya. Perkataannya paling sesuai dengan perbuatannya. Jika selesai melaksanakan urusan, beliau melaksanakan urusan yang lain. Jika sedang melaksanakan urusan, beliau akan menuntaskannya hingga selesai.

“Jika beliau memerintahkan sesuatu kepada orang lain, beliau adalah orang yang paling awal mengerjakannya. Dan jika beliau melarang sesuatu, beliau adalah orang yang paling menjauhinya.

“Aku memandang beliau tidak butuh kepada manusia, tetapi mereka para manusia sangat membutuhkan keberadaannya.”

Maslamah kemudian berkata, “Cukup. Bagaimana sebuah kaum bisa tersesat bila lelaki ini (Hasan Al-Bashri) ada di tengah-tengah mereka.”[ii]


[i] Siyar A’lam An-Nubalaa: 6/122.
[ii] Siyar A’lam An-Nubalaa: 2/576.