Kejujuran dan Keikhlasan para Salaf #4

Oleh Abdul Aziz Nashir Al-Julail & Baha’udin Fatih Aqil
Muhammad bin Mutsanna menuturkan, dari Abdullah bin Sinan, ia bercerita kepada kami:

Aku pernah bersama Abdullah bin Mubarak dan Mu’tamir bin Sulaiman di Tharsus. Orang-orang berteriak, “Musuh!” Ibnu Mubarak pun keluar bersama kaum muslimin.

Ketika dua pasukan (Islam dan kafir) saling berhadapan, seorang tentara Romawi maju dan menantang berduel. Maka, seorang tentara muslim maju melayaninya, tetapi lelaki Romawi itu berhasil membunuhnya. Hal itu berlangsung terus-menerus hingga ia bisa membunuh enam tentara muslim.

Dengan sangat sombong, ia berdiri di antara dua barisan perang untuk menantang berduel. Tetapi, tidak ada seorang tentara muslim pun yang berani maju untuk menghadapinya. Tiba-tiba, Ibnu Mubarak menoleh kepadaku seraya berpesan, “Wahai Fulan, jika aku mati, maka laksanakanlah pesanku ini dan itu.”

Beliau memacu kudanya, dan menyerang tentara kafir tersebut. Terjadilah pertempuran antara keduanya selama beberapa saat, hingga akhirnya beliau berhasil membunuhnya. Beliau menantang berduel tentara Romawi lainnya. Keluar seorang tentara Romawi yang melayani tantangannya, tetapi beliau lagi-lagi berhasil membunuh tentara Romawi tersebut. Hal itu terus beliau lakukan hingga beliau berhasil membunuh enam tentara kafir.

Beliau terus menantang duel perang tanding, tetapi sepertinya mereka menjadi pengecut. Beliau pun memacu kudanya, dan membelah di antara dua pasukan kemudian menghilang. Kami seolah tidak merasakan kejadian apa-apa.

Ketika sudah berada di tempatnya yang semula, beliau berpesan kepadaku, “Wahai hamba Allah, selama aku masih hidup, maka jangan engkau ceritakan kejadian ini kepada orang lain.” Kemudian beliau menyebutkan beberapa kata, (Dalam Siyar A’laam An-Nubalaa: 8/408-409).

Dikutip dari kitab, “Aina nahnu min akhlaqis salaaf.”