Myanmar Larang Pemutaran Film Dokumenter tentang Kekerasan terhadap Kelompok Minoritas Muslim

Myanmar, Mukminun.com – Festival Film Internasional bertajuk “Human Rights Human Dignity” yang sedang digelar di Yangon pekan ini akhirnya melarang pemutaran fil dokumenter yang berkisah tentang kekerasan kelompok mayoritas Budha radikal terhadap kelompok minoritas Muslim di Myanmar.

Film dokumenter berjudul “The Open Sky” tersebut berkisah tentang seorang wanita yang sedang mengunjungi pamannya (seorang muslim) yang rumahnya terbakar saat terjadi penyerangan oleh kelompok Budha radikal terhadap komunitas muslim di kota Meikthila pada Maret 2013 lalu. Konflik itu sendiri berujung pada terbunuhnya 40 muslim dan membuat 10.000 muslim kabur meninggalkan kampung halamannya.

Sesaat setelah keluar jadwal pemutaran film tersebut pada Senin (16 Juni 2014), sebagian besar pemeluk Budha di negara tersebut meminta pembredelan. Mereka menganggap bahwa film tersebut adalah upaya dari umat Islam untuk menumbuhkan simpati dari seluruh umat Islam lainnya di berbagai penjuru dunia.

Min Htin Ko Ko Gyi, pendiri dan direktur festival tersebut mengatakan, “Kami mengadakan festival film ini bukan untuk menciptakan konflik. Kami tidak bisa membiarkan konflik datang begitu saya (dari festival ini), maka kami menghapus “The Open Sky” dari daftar tayang kami.”

“Saya merasa bersalah terkait keputusan kami menghapus film tersebut. Hal itu tentu menyakiti perasaan (si pembuat film), martabat dari institut ini dan juga martabat dari festival film ini. Tapi ada satu kemungkinan bahwa film ini dapat membawa konflik dan kini negara ini begitu sensitif terhadap hal serupa,” imbuhnya.

Film “The Open Sky” diproduksi oleh Kyal Yie Lin Six, Lynsatt New dan Phyo Zayar Kyaw dari Human Dignity Film Institute, yayasan yang dipimpin oleh Min Htin Ko Ko Gyi.

Lebih lanjut Min Htin Ko Ko Gyi menuturkan, “Film itu dibuat berdasarkan ide-ide merek. Ini adalah satu dari lima film yang dibuat oleh Human Dignity Film Institute tahun ini setelah menjalani tujuh pekan workshop.”

Myanmar menjadi negara yang mengerikan bagi umat Islam, terutama muslim lokal, menyusul kekerasan dari kelompok Budha radikal terhadap kelompok minoritas di wilayah Arakan, Myanmar. Yang membuat Myanmar aneh adalah fakta bahwa negara ini dipimpin oleh presiden yang pernah mendapat Nobel Perdamaian.(Worldbulletin/Mukminun/Nugrohoirfan)