Iman, Kunci Pertama Agar Hati Menjadi Tenang


Irfan Nugroho
Sungguh megherankan ketika seorang Mukmin, orang yang beriman, kemudian menjadi galau dan larut dalam kegalauan, kegelisahan, dan kegundahan dalam waktu yang lama hanya karena urusan duniawi.

Sesungguhnya dunia ini lebih hina di sisi Allah daripada bangkai kambing bagi kalian semua,” (HR Muslim, dalam Riyadhus Shalihin Bab 55).

Maka sudah menjadi wajar bahwa seorang Mukmin hendaknya tidak menjadi galau lantaran urusan duniawi, melainkan seorang Mukmin akan senantiasa ‘galau’ ketika berurusan dengan ukhrawi, perkara akhirat, dengan neraka dan siksaannya yang teramat dahsyat.

Inilah prinsip seorang Mukmin, seorang yang yakin, seorang “believer” yang akan senantiasa memegang teguh prinsip keimanan dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang kadang membuatnya galau untuk sementara waktu.

Ia senantiasa yakin bahwa ada Makhluk yang menciptakan dan mengatur semua urusan di dunia ini, mulai dari hal yang kecil hingga hal yang paling besar; mulai dari selembar daun yang jatuh dari pohon hingga urusan seisi planet dengan antariksanya yang sangat luas.

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan,” (Yunus [10]: 03).

Oleh karena seorang Mukmin yakin dan percaya bahwa Allah telah mengatur segala sesuatu di bumi ini dengan segala keutamaan Tauhid Rububiyah Allah, maka kemudian ia menjadi tenang, dengan senantiasa berbaik sangka kepada Allah bahwa Allah memiliki skenario yang terbaik bagi hamba-Nya yang beriman.

“Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya,” (An-Nisa [4]: 135).

Oleh karena seorang Mukmin senantiasa yakin bahwa Allah adalah Pengatur terbaik bagi alam semesta ini, hingga kemudian ia senantiasa berbaik sangka kepada Allah, maka ia akan senantiasa menggantungkan segala urusannya kepada Allah.

“Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan,” (Al-Fatihah [1]: 05).

Seorang Mukmin tahu kemana harus lari mengadu ketika ia ditimpa ujian duniawi yang kadang kala membuatnya galau, gelisah, dan gundah, karena seorang Mukmin juga menyakini bahwa kesempitan dan penderitaan ini adalah karena kadang kala ia jauh dari Allah.

“Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri,” (Al-A’raaf [07]: 94).

Inilah protret seorang Mukmin dalam mengatasi kegalauan dalam hatinya, menghilangkan kegundahan dalam benaknya. Ia yakin dengan Rububiyah Allah hingga ia senantiasa berkhusnudzan kepada Allah yang mengakibatkan ia hanya meminta pertolongan kepada Allah.

Seorang Mukmin senantiasa berkhusnudzan kepada Allah, hingga ia selalu bersyukur kepada Allah, Rabb Pengatur alam semesta, Pengatur yang senantiasa menginginkan kebaikan, yang tidak menginginkan keburukan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Seorang Mukmin senantiasa mengimani sifat Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang hingga kemudian hatinya tenang dengan mengimani Allah ketika dilanda kegalauan dan kesempitan hidup.

Seorang Mukmin senantiasa mengimani sifat Allah sebagai Penguasa hari pembalasan hingga kemudian dirinya senantiasa disibukkan dengan urusan akhirat, dengan pertanyaan apakah Allah murka kepadanya atau tidak, dan akhirnya ia tidak bergitu terhanyut dan tenggelam dalam kesedihan, kesempitan urusan duniawi.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah [01]: 1-5). Wallahu’alam bish shawwab.