Tanggung Jawab Orang Tua dalam Memberikan Pendidikan Islami kepada Anak


Oleh Sheikh Muhammad Suwaid
Jika Anda menempatkan tanggung jawab anak ke dalam tempat persemaian yang buruk saya khawatir Anda kelak akan mendapatkan adzab Allah dua kali lipat. Pertama, diadzab dengan adzab yang pedih karena telah mengotori mutuara yang mulia itu, dan yang kedua karena melakukan tindak kesalahan (Sheikh Muhammad Al-Khadhar Husain, As-Sa’adah al-Uzhma, hal. 90).

Oleh karena itu, kita temukan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam memikulkan tanggung jawab pendidikan anak ini secara utuh kepada kedua orang tua. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Seorang imam adalah pemimpin, dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Seorang lelaki adalah pemimpin keluarganya, dan ia bertanggung jawab atas keluarga yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pelayan adalah pemimpin terhadap harta milik tuannya dan dia bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya,” (Muttafaq ‘Alaih).
Sampai-sampai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam meletakkan kaidah mendasar yang kesimpulannya adalah seorang anak itu tumbuh dan berkembang mengikuti agama kedua orangtuanya. Keduanyalah yang memberikan pengaruh yang kuat terhadapnya.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Tiada seorang bayi pun yang lahir melainkan dia dilahirkan di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Majusi atau Nasrani; seperti binatang itu melahirkan binatang yang sama secara utuh. Adakah kamu menemukan adanya kebuntungan?” Kemudian Abu Hurairah membaca firman Allah:

“Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,” (QS Ar-Rum: 30).

Allah telah memerintahkan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, mendorong mereka untuk itu dan memikulkan tanggung jawab kepada mereka. Allah berfirman:

“Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu, sedangkan para penjaganya adalah para malaikat yang kasar dan keras, serta tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS At-Taubah: 06).

Tentang firman Allah ini, Ali bin Abi Thalib berkata, “Ajarkan kebaikan kepada dirimu dan keluargamu.” Diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak-nya (IV/494), dan dia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya.

Fakhrur Razi dalam tafsirnya mengatakan, “Peliharalah dirimu...” yaitu dengan cara menjauhi segala yang dilarang oleh Allah untuk kamu kerjakan.” Sedangkan Muqatil mengatakan, “Maksudnya, setiap muslim harus mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka berbuat kejahatan.” Sementara itu, Ima Zamakhsyari dalam tafsir Al-Kassyaf menafsirkan, “Peliharalah dirimu...” yaitu dengan cara meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan dan melaksanakan ketaatan-ketaatan, dan “Dan keluargamu...” adalah dengan cara memperlakukan mereka sebagaimana kalian memperlakukan dirimu sendiri,” (At-Tafsir Al-Kabir, 30/46).

Untuk itu, kita harus mencurahkan segala upaya dan terus berbuat tanpa henti untuk meluruskan anak-anak kita, senantiasa memperbaiki kesalahan mereka, serta membiasakan mereka berbuat kebaikan. Ini adalah jalan yang ditempuh oleh para nabi dan rasul. Nabi Nuh telah mengajak anak beliau kepada iman, Nabi Ibrahim telah memerintahkan putra-putrinya agar hanya beribadah kepada Allah, dan demikian seterusnya.

Imam Nawawi, dalam kitabnya Bustan Al-Arifin (hal. 45) membawakan riwayat dari Syafi’i bahwa Fudhail berkata, “Nabi Dawud pernah berdoa, “Ya Ilahi, jadilah Engkau bagi anakku sebagaimana Engkai bagi diriku!”

Lalu Allah mewahyukan kepadanya, “Wahai Dawud, katakanlah kepada anakmu agar dia berbuat kepada-Ku, sebagaimana yang kamu lakukan kepada-Ku. Niscaya Aku akan bertindak kepadanya sebagaimana yang aku lakukan terhadapmu.”

Imam Ghazali dalam risalah beliau yang berjudul Ayyuhal Walad mengatakan bahwa makna tarbiyah (pendidikan) serupa dengan pekerjaan seorang petani yang membuang duri dan mengeluarkan tumbuhan-tumbuhan asing atau rerumputan yang mengganggu tanaman agar ia bisa tumbuh dengan baik dan membawa hasil yang maksimal.

Ibnul Qayyim juga menegaskan tanggung jawab ini dan memberikan keterangan yang cukup berguna. Beliau mengatakan, “Sebagian ulama mengatakan bahwa Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap orang tua tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah berfirman, “Kami wajibkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orangtuanya,” (QS Al-Ankabut: 7), maka disamping itu Allah juga berfirman, “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu,” (QS At-Tahrim: 6).

Menafsirkan ayat ini, Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ajari mereka dan didiklah mereka!” Allah juga berfirman, “Beribadahlah kepada kedua orang tua dan kaum kerabat,” (QS An-Nisa: 36). Sedangkan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Berbuat adillah terhadap anak-anak kalian,” (HR At-Thabrani, Shahih).

Pesan Allah bagi ayah berkenaan dengan anak-anak mereka, mendahului pesan bagi anak berkenaan dengan ayah-ayah mereka. Allah berfirman:

“Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberikan rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar,” (QS Al-Isra: 31).

Ibnul Qayyim selanjutnya menjelaskan, “Siapa saja yang mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang berguna baginya, lalu dia membiarkan begitu saya, berarti dia telah berbuat kesalahan besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang mengabaikan mereka, serta tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah-sunnah agama. Lalu menyia-nyiakan anak ketika kecil sehingga mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari diri mereka, dan mereka pun tidak bisa memberikan manfaat kepada ayah atau ibu mereka ketika mereka dewasa.

Maka ada sebagian anak yang menyalahkan ayahnya sendiri atas tindakannya dalam mendurhakai orang tuanya dengan mengatakan, ‘Ayah, engkau telah berbuat jahat terhadapku ketika aku kecil. Kini aku pun balas mendurhakaimu ketika dewasa. Engkau telah menyia-nyiakanku ketika aku kecil, kini aku pun mengabaikanmu ketika engkau sudah tua renta.”

Pernikahan dan melahirkan keturunan merupakan sebuah tanggung jawab besar di mana seseorang itu akan dihisab pada hari Kiamat atasnya. Imam Tirmidzi meriwayatkan hadist dari Abu Sa’id Al-Khudri dan Abu Hurairah, bahwa kedua sahabat ini mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti, setiap hamba akan dihadapkan kepada Allah. Allah berfirman, “Bukankah Aku telah menjadikan pendengaran, penglihatan, harta dan anak untukmu? Bukankah Aku juga telah menundukakan binatan dan ladang untuk kamu gunakan? Dan bukankah Aku telah membiarkanmu memimpin dan menikmati apa yang ada? Maka, yakinkah kamu bahwa kamu pasti berjumpa dengan-Ku pada hari ini?” Dan dia menjawab, “Tidak.” Allah pun kemudian berfirman kepadanya, “Pada hari ini Aku lupakan kamu sebagaimana engkau pun telah melupakan-Ku.

Dalam riwayat lain disebutkan adanya tambahan, “Bukankah Aku telah memasangkanmu dengan istrimu?

Lalu. Bukti mana lagi yang menunjukkan ketololan akal seorang dan hilangnya persaan yang lebih besar daripada orang yang diberi kesempatan waktu yang panjang hingga akanya mencapai usia dewasa, namun dia tidak membekalinya dengan pendidikan yang baik sehingga bisa menjadi seseorang yang mulia?” (Sheikh Muhammad Khadhar Husain, As-Sa’adah Al-Uzhma, hal. 90).

Pendidikan adalah hak anak yang menjadi kewajiban atas orang tua. Ia merupakan hibah atau hadiah. Hal ini telah ditegaskan oleh Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam melalui sabda beliau, “Mereka itu disebut oleh Allah sebagai ‘abrar’ (orang-orang yang baik) karena mereka berbakti kepada orang tua dan anak. Sebagaimana kamu mempunyai hak atas anakmu, maka anakmu juga mempunya hak atasmu,” (HR Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, didhaifkan oleh At-Thabrani).

An-nasai dan Ibnu Hiban dalam shahih-nya meriwayatkan secara marfu’ bahwa Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin atas apa yang dikuasakan kepadanya, apakah dia menjaga atau menyia-nyiakannya. Sampai-sampai, seseorang akan ditanya mengenau rumah tangganya,” (Lihat silsilah Al-Hadist As-Shahihah, no. 1626).

Dalam riwayat Abdur Razaq disebutkan bahwa Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menanyakan kepada setiap pemimpin mengenai bawahannya, apakah dia telah menegakkan perintah Allah atas mereka ataukah meninggalkannya. Sampai-sampai, seseorang itu akan ditanya mengenai rumah tangganya.” Wallahu’alam bish shawwab.