Sekjen PBB Ban Ki Moon desak penyelesaian 'krisis yang terlupakan' di Republik Afrika Tengah

Info Grafik dari Uni Eropa

Republik Afrika Tengah, Mukminun.com- Sekertaris Jenderal PBB, Ban Ki Moon, berjanji pada Sabtu, 5 April 2014, bahwa dunia tidak akan lupa akan apa yang terjadi di Republik Afrika Tengah. Hal tersebut diutarakan setelah ia melakukan kunjungan ke negara yang sedang bergejolak karena adanya perang antaragama. Ribuan nyawa, mayoritas umat Islam, melayang dan memaksa sebagian besar muslimin di negara tersebut untuk mengungsi.

Kunjungan Ban Ki Moon kali ini merupakan yang pertama, sejak pecah kedzhaliman terhadap minoritas muslim di negara tersebut dengan mayoritas Kristen pada Desember tahun lalu. Menurut rencana, setelah mengunjungi Republik Afrika Tengah ia akan berangkat ke Rwanda untuk menghadiri peringatan 20 tahun tragedi pembantaian di negara tersebut.  Pemimpin PBB tersebut merupakan satu dari sedikit pemimpin di dunia internasional yang menaruh perhatian terhadap krisis di Republik Afrika Tengah. Ia juga sering mendesak agar negara-negara lain turut aktif dalam penyelesaian konflik di negara tersebut.

"Komunitas internasional gagal menyelamatkan Rwanda 20 tahun silam. Dan kita di ambang ketidakberdayaan terhadap apa yang terjadi di Republik Afrika Tengah hari ini," tutur Ban Ki Moon di hadapan anggota dewan transisi yang ditugaskan menyelenggarakan pemilu pada Februari 2015 mendatang.

"Kejahatan atrositas telah nyata di negeri ini," imbuhnya.  "Pembantaian bersifat etnorelijius adalah suatu realitas. Sebagian besar umat Islam yang minoritas harus mengungsi karenanya."

Kelompok donor internasional sering mengkritik PBB karena lambatnya respon terhadap krisis di Republik Afrika Tengah. Meski begitu, Ban Ki Moon sendiri menyeru agar sebisa mungkin mengurangi korban dari kelompok sipil umat Islam, dimana ia sering mendapat laporan bahwa ribuan umat Islam telah dibunuh oleh gembong Kristen radikal di jalanan tiap harinya.

"Ada lubang di jantung hati Afrika ini," kata Ban Ki Moon.  "Tiap hari, saya senantiasa memikirkan cobaan dan kedzhaliman yang Anda rasakan. "Di mana saja, saya sering menyeru kepada pemimpin dunia untuk meningkatkan upaya mereka," tambahnya.  "Beberapa orang mengatakan bahwa ini adalah krisis yang terlupakan. Saya di sini untuk meyakinkan bahwa dunia tidak akan lupa."

Dalam kunjungannya ke Republik Afrika Tengah, Ban Ki Moon melakukan pertemuan dengan Presiden Catherine Samba-Panza. Ia juga menemui sekelompok umat Islam yang mengungsi di satu-satunya masjid yang tersisa di ibukota.  Umat Islam yang mengungsi di masjid tersebut telah menghabiskan berminggu-minggu tidur di luar ruangan, di lantai masjid yang terdapat spanduk tertulis, "Ban Ki Moon:  Kami ingin pergi ke utara saja."(Thejapannews/Mukminun/Nugrohoirfan)