Human Rights Watch: Milisi Kristen radikal dalang atas pembunuhan 72 muslim di Republik Afrika Tengah

Milisi Kristen Radikal, Anti-Balaka

Republik Afrika Tengah, Mukminun.com- Milisi Kristen radikal dikabarkan telah membunuh paling tidak 72 umat Islam, termasuk anak-anak, dalam dua serangan di suatu desa di bagian barat daya, sebagaimana dilansir oleh Human Rights Watch pada Kamis, 3 April 2014.

Serangan beruntun di desa Guen, yang terjadi pada Februari silam, menjadi sorotan setelah lembaga HAM internasional ini mewawancarai korban selamat, yang sebagian besar wanita, anak kecil dan lansia, yang sedang mencari tempat aman untuk mengungsi.

Peneliti dari HRW juga membeberkan pembunuhan lain dua pekan silam di desa Yakongo, dengan korban meninggal dunia dari pihak umat Islam sebanyak 19 orang.  Mereka dibunuh oleh pejuang bersenjata dari Seleka, kelompok Muslim, yang didukung oleh penggembala ternak, tulis HRW dalam laporan tersebut.

Menurut HRW, pasukan penjaga perdamaian dari Perancis dan Uni Afrika telah diturunkan di kota Boda dan Carnot, namun sayang belum sempat melakukan patroli di jalanan desa konflik tersebut.

Meningkatnya intensitas kekerasan terhadap umat Islam di Republik Afrika Tengah membuat beberapa pengamat mengkhawatirkan timbulnya genosida serupa, seperti yang terjadi di Rwanda 20 tahun silam.

Republik Afrika Tengah hanyut dalam rentetan konflik setelah tahun lalu, setelah milisi Muslim Seleka berhasil melengserkan President Francois Bozize dari jabatannya.

Milisi Muslim Seleka sendiri melancarkan serangan ke istana President Francois Bozize karena sang presiden yang telah memerintah selama 10 tahun tidak berkenan menghargai perjanjian damai dengan Muslim Seleka (Bozize sendiri berasal dari milisi Kristen radikal). Salah satu pemimpin Seleka, Michel Djotodia, kemudian memimpin negara tersebut, meski harus brakhir pada Januari lalu karena gagal meredam kekacauan yang terjadi.

Catherine Samba-Panza, walikota Bangui, baru-baru ini didapuk menjadi Presiden Interim, di tengah kekacauan yang masih terjadi.

Menyusul serangan tersebut, kelompok milisi Kristen radikal bernama anti-balaka melakukan aksi balas dendam.

Saksi mata menuturkan kepada HRW bahwa milisi Kristen radikal anti-balaka merupakan dalang atas serangan terhadap umat Islam di Guen, pada 1 Februari silam serta serangan serupa pada 5 Februari.

Seorang muslimah menggambarkan bahwa ia melihat suaminya ditangkap milisi anti-balaka ketika ia dan putranya yang berusia empat tahun mencoba menyelamatkan diri.

Saksi lain, Oumarou Bouba menuturkan bahwa milisi Kristen radikal anti-balaka menembak mati putranya yang masih berusia 10 tahun.

"Saya membawa putra saya ketika anti-balaka menyerang," tutur Oumarou.  "Saat kami melarikan diri, ia ditembak oleh anti-balaka. Ia ditembak di kaki kanan, dan ia jatuh, namun mereka tetap menghabisinya dengan golok.  Saya tak punya pilihan lain selain lari.  Saya juga ditembak.  Saya kemudian mencoba melihat jenazah putra saya, dan ia dibabat pada kepala dan leher."

Lebih lanjut Human Rights Watch menyeru kepada pemerintah Samba-Panza untuk melakukan investigasi terhadap pembunuhan tersebut dan mengadili para pelakunya.

HRW juga menyeru kepada komunitas internasional untuk bergabung dengan pasukan penjaga perdamaian PBB untuk melindungi kawasan yang dinilai rawan.

"Pembunuhan yang menghebohkan ini menunjukkan bahwa pengerahan penjaga perdamaian dari Perancis dan Uni Afrika tidak sedang melindungi desa-desa dari serangan mematikan ini," tutur Lewis Mudge, peneliti Afrika untuk Human Rights Watch.

"Dewan Keamanan tidak seharusnya membuang menit-menit berharga dalam upayanya melakukan misi perdamaian."

Selasa lalu, Uni Eropa mengumumkan operasi militer untuk merestorasi stabilitas Republik Afrika Tengah.

Operasi ini akan berfokus pada ibukota, Bangui, dan bandara, "dengan misi menyerahkan operasi menjaga perdamaian kepada mitra di Afrika," tulis salah satu rilis Uni Eropa.

Perancis, bekas kekuatan penjajah di Republik Afrika Tengah, telah menerjunkan 1,600 personil untuk mendukung pasukan Uni Afrika pada Desember tahun lalu.

Kudeta kepemimpinan tahun 2013 silam merupakan kudeta terbaru dalam rentetan sejarah Republik Afrika Utara sejak merdeka dari Perancis pada 1960.(Cnn/Mukminun/Nugrohoirfan)

Catatan: 
*perhatikan penggunaan kata radikal setelah "Kristen." Hal ini dimaksudkan sebagai penegasan bahwa tidak semua umat Kristen terlibat dalam pembunuhan ini. Hal ini juga kami lakukan untuk menghindari munculnya "ill-feel" dari pembaca Mukminun.Com dari kalangan Nasrani.