Resensi Buku: Ayah... | Buya Hamka, cerminan pribadi mukmin yang kuat fisik, kuat pendirian


Judul:
Ayah… (Kisah Buya Hamka)
Penulis:Irfan Hamka
Penerbit:
Republika
Edisi:
IV, November 2013
Deskripsi:
Xxviii + 323 halaman

Oleh Irfan Nugroho
Sedikit berlebihan, memang. Namun, seperti itulah kesan saya dari membaca buku biografi Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), yang ditulis dengan nuansa semi-novel oleh salah satu putra beliau, Irfan Hamka.

Saya memang seorang Jawa, namun kekaguman saya pada sosok ulama dari tanah Minang memang tinggi. Saya mulai mengagumi beberapa tokoh ulama asal Minang ketika saya menerjemahkan artikel dari Bahasa Indonesia ke English tentang biografi singkat Sheikh Ahmad Khatib Minangkabawi, satu-satunya ulama kelahiran Indonesia yang pernah menjadi imam di Masjidil Haram, Makkah Al Mukarammah. Kemudian, ada pula sosok Mohammad Natsir, pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia – satu-satunya ulama asal Indonesia yang pernah menjadi Ketua Rabithah Alam Islamiyah Saudi Arabia (MUI-nya Arab Saudi). Dan yang pasti, ada sosok Imam Bonjol pula di sana, pahlawan, mujahid, dan ulama tentunya.

Tak jauh beda dari dua tokoh yang saya sebutkan di atas, adalah Buya Hamka. Kesan dari hasil bacaan saya tentang buku tersebut, adalah hadist Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam yang berbunyi, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, dan masing-masing mempunyai kebaikan,” (HR Imam Muslim, dari Abu Hurairah, Bulughul Maram. (Bab 16 – Kitab Adab dan Kesopanan, Hadist Ke-89).  Buya Hamka tidak hanya kuat dalam hal fisik, namun juga pendirian.

Kuat dalam hal fisik
Dari segi fisik, Buya Hamka adalah sosok yang – kalau manusia jaman sekarang menyebutnya – “macho.” Dalam buku tersebut diceritakan bahwa Buya Hamka pernah melakukan perjalanan ke berbagai pelosok daerah di Sumatra Barat hingga Riau hanya dengan berjalan kaki (halaman 19). Dan yang memberi nilai plus akan tindakan beliau tersebut adalah niatannya untuk mengobarkan semangat jihad warga Minangkabau untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. “Hai Nabi! Kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang!” (QS Al-Anfal: 65).

Oleh karena menyadari kewajiban jihad itu pulalah, Buya Hamka ternyata merupakan pesilat tangguh di tanah Minang (halaman 50) yang pernah menangkap penjahat di suatu bus hanya dalam sekejap (halaman 47), serta pernah membuat gentar seorang jawara silat di tanah Minang yang lebih dahulu dikenal publik kala itu (halaman 179).

Deskripsi kuatnya fisik Buya Hamka – ketika muda dan sebelum sakit – tak hanya sampai di situ. Di bagian lain buku ini akan kita dapati penuturan dari Irfan Hamka tentang sosok Buya Hamka yang terbiasa tadarus Quran selama 2 – 3 jam dalam sekali membuka mushaf Quran yang selalu lekat dengan dia. Lebih lanjut Irfan Hamka menulis bahwa jika ditotal, Buya Hamka terbiasa menghabiskan waktu sebanyak 5 – 6 jam dalam sehari untuk membaca Quran (halaman 213).. Kecintaan Buya Hamka terhadap Quran berlangsung lama. Dan durasi tadarus Qurannya semakin lama ketika istri beliau, Hj. Siti Raham Rasul, meninggal dunia. “Setelah Ummi wafat, Ayah menghatamkan Alquran sebanyak 6 – 7 kali dalam sebulan,” (Irfan Hamka, 2013: 213-214). 


Kuat dalam hal pendirian
Selain kuat dalam hal fisik, Buya Hamka merupakan sosok yang berpendirian kuat. Dalam beberapa segmen buku ini, nampak jelas bagaimana teguhnya sosok ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama ini.

Nah, terkait dengan MUI ini pula, ada kesaksian dalam buku ini yang menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang kuat pendiriannya. Hal ini terlihat ketika Buya Hamka memilih untuk mundur dari jabatan sebagai ketua MUI menyusul adanya intervensi dari pemerintah kala itu yang berang dengan fatwa MUI tentang larangan bagi umat Islam untuk mengikuti pergelaran Natal Bersama yang sedang digalakkan rezim Soeharto kala itu (halaman 254-255). Terkait insiden ini pulalah, sejarah mencatat satu pernyataan beliau yang terkenal:

“Kita sebagai ulama telah menjual diri kita kepada Allah semata. Ulama yang telah menjual diri kepada Allah, tidak bisa dijual lagi kepada pihak mana pun. Ulama ibarat kue Bika. Dari bawah dipanggang api, dari atas pun dibakar api. Begitu juga ulama, dari bawah oleh umat, dan dari atas oleh pemerintah,” (halaman 255).  

Ada pula kisah keteguhan Buya Hamka dalam buku ini yang bisa dibaca pada halaman 199 hingga 201. Dalam kisah sepanjang tiga halaman tersebut disebutkan bahwa Buya Hamka pernah didapuk oleh Menteri Agama kala itu, Prof Dr Mukti Ali agar menjadi Duta Besar Indonesia bagi Arab Saudi. Dahsyat, bukan? Namun beliau justru memilih untuk tidak menerima tawaran tersebut dengan alasan ingin fokus pada upaya dakwah membina majelis ta’lim di Masjid Al-Azhar yang tumbuh dan berkembang bersama beliau (halaman 200-201).

Selain itu, ada pula masa ketika beliau diundang oleh Jenderal Nasution. Di kantor Sang Jenderal, Buya Hamka mendapat tawaran untuk menjadi Mayor Jenderal Tituler, mengingat upaya dakwah beliau menyeru umat di Minangkabau untuk berjihad mempertahankan kemeredekaan. Perlu diketahui, dengan pangkat Mayor Jenderal Tirtuler, Buya Hamka sebenarnya berhak untuk mendapat fasilitas, tunjangan, dan gaji setara dengan Mayor Jenderal (non-Tituler – atau yang dari jalur militer resmi). Ya, beliau menolak tawaran tersebut dengan alasan, lagi-lagi, ingin berfokus pada upaya dakwah di Masjid Al-Azhar. Sedikit banyak keputusan ini memang dipengaruhi oleh masukan dari istri beliau, Hj, Siti Raham Rasul, yang berkata pada Buya Hamka:

“Lebih baik Angku Haji tetap berperan di Masjid Agung Al-Azhar, lebih terhormat di hadapan Allah,” (halaman 199).

Simak pula jawaban negosiatif dari Buya Hamka dalam menolak penawaran Jenderal Nasution:

“Saya sudah dianggap ulama oleh masyarakat dan hobi saya menulis, tentu akan hal-hal tersebut sedikit banyak menghambat tugas-tugas saya sebagai seorang Mayor Jenderal walaupun Tituler,” (halaman 200).

Hal terakhir yang ingin saya sampaikan tentang teguhnya pendirian Buya Hamka adalah pembelaannya terhadap Aqidah Islam. Saya sendiri sangat terkejut ketika membaca pernyataan beliau tentang Pancasila, dimana beliau berkata:

“Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka,” (halaman 259).

Bagi kita, umat Islam yang jarang terpapar kajian antara Pancasila dengan Islam, hal tersebut akan terasa aneh. Saya sendiri sedikit banyak mengikuti kajian wacana Pancasila dengan Islam dari perspektif yang sama dengan ungkapan Buya Hamka di atas. Namun, tidak elok kiranya bagi saya untuk menjelaskan pandangan saya tersebut di sini.

Penutup
Demikianlah sekilas deskripsi dari saya, tentang kekaguman saya, tentang ibrah yang bisa kita ambil dari sosok Buya Hamka. Selain deskripsi singkat tentang kekuatan fisik dan pendirian beliau, ada banyak kisah lain yang layak Anda simak dari buku ini, antara lain tentang Buya Hamka yang bernegosiasi dengan jin penunggu rumah beliau, tentang kucing beliau, tentang perjalanan beliau ke beberapa negara di Timur Tengah, termasuk kisah narsis Sang Pengarang, Irfan Hamka, yang secara tidak langsung mengklaim dirinya “ganteng” (tentu di masa muda beliau, karena kini Irfan Hamka telah berusia sekitar 70 tahun).

Simak pula penuturan beberapa tokoh Indonesia seperti Soekarno dan Moh Yamin yang dulu sangat memusuhi Buya Hamka namun di akhir hayatnya, mereka justru sangat menginginkan kebaikan dari Buya Hamka.

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku,” tutur Soekarno di akhir hayatnya, (halaman 256). Wallahu’alam bish shawwab.